{"id":5834,"date":"2022-09-27T00:16:16","date_gmt":"2022-09-27T00:16:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=5834"},"modified":"2022-09-27T00:16:20","modified_gmt":"2022-09-27T00:16:20","slug":"kenapa-yesus-mengutuk-pohon-ara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=5834","title":{"rendered":"Kenapa Yesus Mengutuk Pohon Ara?"},"content":{"rendered":"\n<p>DI 27092022<\/p>\n\n\n\n<p>Markus 11:12-14<br \/>Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar.<br \/>Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.<br \/>Maka kata-Nya kepada pohon itu: &#8220;Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!&#8221; Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau kita mau sedikit investigasi, sebenarnya apa salahnya pohon ara ini? Saat itu memang belum musim buah ara, artinya memang tidak akan banyak ditemukan buah ara di pohon itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Pohon ara yg berdaun lebat memang menurut ilmu pengetahuan akan bs ditemukan beberapa buahnya, tapi saat itu pohon ara itu tdk berbuah satupun juga. Tapi kalau kita mau sedikit teliti, maka kita bs menemukan satu pelajaran rohani yg sangat penting lewat kisah ini. Fakta pertama adalah Yesus merasa lapar saat itu, lapar butuh makanan untuk menghilangkan rasa lapar, lapar adalah satu kebutuhan, makanan termasuk satu kebutuhan yg primer bagi hidup manusia. Yesus itu Tuhan, jd Dia Mahatahu, isi hati manusia saja Dia tahu, apalagi hanya ada buah atau tidaknya pohon ara yg ada di jalan itu. Jadi sebenarnya Yesus sudah tahu di pohon itu tdk ada buahnya, lalu kenapa juga masih didatangi, diperiksa dan akhirnya dikutuk pohonnya? Ingat bhw Tuhan itu tidak &#8216;iseng&#8217; berbuat sesuatu sekalipun Dia pny otoritas dan wewenang penuh untuk melakukan apapun yg Dia ingin lakukan. Knpa tidak justru membuat pohon itu berbuah lebat seketika? Itu kan lebih berguna drpd mengutuk pohon ara itu, ada buahnya shga bs menghilangkan rasa lapar dan situasipun jadi tenang. Jd apa alasan Yesus bertindak demikian?<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus menggunakan pohon ara ini utk memberi satu peringatan pd org yang membaca kisah ini, yaitu ketika Tuhan membutuhkan sesuatu, yang Dia inginkan adalah kita selalu siap kapanpun waktunya. Walaupun blm musim pohon ara, tapi setidaknya ada sedikit buah yg tumbuh dan bisa utk dimakan, itu normalnya. Ini gambaran yang ingin Tuhan sampaikan pada kita: sekalipun kita dlm keadaan yg tdk normal, bukan dlm keadaan &#8216;terbaik&#8217; kita, kita harus tetap siap menjd saluran berkat Tuhan utk org lain. Menghilangkan rasa lapar itu hanya bs dgn cara makan sesuatu yang mengenyangkan. Seandainya saat itu Yesus tdk merasa lapar, pohon ara itu tentu masih hidup utk beberapa wkt ke dpn. Tuhan mau memakai kita kapan saja, tdk bergantung pd situasi yang sedang kita alami, baik atau buruk situasinya, yg hrs jd reaksi kita adalah siap sedia dipakai oleh Tuhan. Kalau kita menolak, nasib kita mgkin bs spt nasib pohon ara itu, ketika Tuhan butuh tapi tidak bisa menyediakan, ketika Tuhan ingin kita utk melakukan sesuatu, tp kita menolaknya, bisa jadi Tuhan akan membuat keadaan kita semakin memburuk dan sulit. Ketidaktaatan selalu akan memungkinkan munculnya kutuk dlm hidup kita dan ketaatan pasti mendatangkan berkat dalam hidup kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Baik atau buruk keadaan yg sedang kita alami, siap sedialah selalu ketika Tuhan membutuhkan kita utk melakukan sesuatu, jgn tidak taat apalg menolak Tuhan, itu mendatangkan kutuk dalam hidup kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DI 27092022 Markus 11:12-14Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar.Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba &hellip; <a href=\"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=5834\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5834","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5834","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5834"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5834\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5835,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5834\/revisions\/5835"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5834"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5834"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5834"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}