{"id":5854,"date":"2022-10-08T00:04:30","date_gmt":"2022-10-08T00:04:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=5854"},"modified":"2022-10-08T00:04:35","modified_gmt":"2022-10-08T00:04:35","slug":"masalah-demi-masalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=5854","title":{"rendered":"Masalah Demi Masalah"},"content":{"rendered":"\n<p>DI 08102022<\/p>\n\n\n\n<p>1 Raja-raja 17:15-17<br \/>Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.<br \/>Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.<br \/>Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah janda di Sarfat ini menarik utk dipelajari, masalah yg dia hadapi dan bgmna Tuhan tetap menolongnya, ini bs menjd satu gamvaran bagi kita bhw hidup ini tdk selalu sesuai dg kemauan dan harapan kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalah yg satu sdh selesai: keuangan keluarga sdh mulai masuk fase berkecukupan, dulu soal makanan utk hari esok menjd beban pikiran yg membuat janda ini putus asa dan tdk tahu esok harus bagaimana, namun Tuhan mengutus nabi Elia utk menolongnya. Mujizat terjadi dan mulai situasi jd membaik. Namun satu saat anak dari janda di Sarfat ini sakit keras dan kemudian tdk bernafas lagi, artinya meninggal, ini menjadi hal yg mengiris hati si janda di Sarfat ini, logikanya mulai berjalan: apa bedanya anaknya mati saat dulu atau sekarang, kan mati juga walau hanya beda sekian waktu saja? Pny anak perempuan satu-satunya, anak tunggal, lalu mati, buat apa Tuhan biarkan dulu dia hidup? Tentu bagi yang pernah kehilangan anak tunggal pasti mengerti bgmna perasaan si janda di Sarfat ini, mujizat yg dulu rasanya menjadi sia-sia. Ada nabi Tuhan yg hebat tp knpa justru yg terjd adalah kematian anak tunggalnya? Memang di zaman itu jikalau seorg nabi datang pd seseorang, pasti ada satu pesan Tuhan yg hrs disampaikan pd org itu, bisa sesuatu yg baik, tp juga sebaliknya, bs sesuatu yg buruk. Bagi si janda di Sarfat ini, dia berpikir bhw kedatangan Elia sbnarnya membawa satu pesan yg buruk bagi dia.<\/p>\n\n\n\n<p>Pernah mengalami mujizat bkn berarti masalah tdk akan terjadi lagi, bahkan mgkin saja hal yg terjd justru lebih besar dr yg sblumnya. Mujizat tdk bs diartikan bhw itu adalah akibat dari satu perkenanan Tuhan atas seseorg. Mujizat terjadi bs karena memang itu adalah kehendak Tuhan, Tuhan yg mau menolong seseorg, bs jg karena itu adalah wujud belas kasihan Tuhan, atau bisa jg itu adalah pengabulan doa seseorg yg Tuhan nilai itu pantas diberikan sbg jawaban. Mujizat yg kita alami bkn menjd bukti bhw kita ini orang yg kudus, suci, jd kita merasa bhw diri kita layak di hadapan Tuhan dan itu kita &#8216;pamerkan&#8217; pada bnyk orang demi dihormati banyak org. Hati-hati dgn pola pikir spt itu, kalau mengalami mujizat, seharusnya itu mendorong kita utk semakin hari semakin merendahkan diri di hadapan Tuhan &amp; sesama, biarlah nama Tuhan yg dimuliakan dan dipuji, jgn justru kita mengumbar kesaksian utk mendapatkan keuntungan ketika diundang utk bersaksi di banyak tempat. Masalah pasti akan ada sepanjang kita masih hidup di dunia ini, hrs siapkan diri jika tiba-tiba terjd sesuatu yg buruk di luar dugaan kita, tetap dekat dgn Tuhan tiap saat dan percayalah Tuhan tetap menyertai.<\/p>\n\n\n\n<p>Muliakan Tuhan ketika mengalami mujizat, jgn menyombongkan diri tp tinggikanlah nama-Nya ketika kita bersaksi, sadarlah bhw masalah bisa dtg kapan saja di waktu yg tak terduga.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DI 08102022 1 Raja-raja 17:15-17Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang &hellip; <a href=\"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=5854\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5854","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5854","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5854"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5854\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5855,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5854\/revisions\/5855"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5854"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5854"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5854"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}