{"id":6015,"date":"2023-01-07T00:06:02","date_gmt":"2023-01-07T00:06:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=6015"},"modified":"2023-01-07T00:06:11","modified_gmt":"2023-01-07T00:06:11","slug":"harus-dasarnya-percaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=6015","title":{"rendered":"Harus Dasarnya Percaya"},"content":{"rendered":"\n<p>DI 07012023<\/p>\n\n\n\n<p>Markus 5:27-29<br \/>Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.<br \/>Sebab katanya: &#8220;Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.&#8221;<br \/>Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bolehkah kita menentukan sndri standart iman kita? Dlm kisah ini, perempuan yg sakit 12 tahun pendarahan telah disembuhkan ketika dia mulai menentukan standart imannya sndri.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika bisa menyentuh jubah yg dipakai Yesus, si perempuan itu beriman bhw dia pasti sembuh, ini berarti dia menentukan standart imannya dg percaya bhw walaupun bukan Yesus yg secara langsung menjamahnya, dia bs sembuh dengan menyentuh jubah-Nya saja. Percayanya ini juga dipengaruhi oleh hukum Taurat yg berlaku saat itu bhw seorg perempuan yang pendarahan ada dlm kondisi najis, hrs ada di luar pemukiman &amp; apabila org tersentuh oleh dia bahkan duduk di tempat bekas dia duduk, org itu menjd najis jg (Imamat 15), didukung krna pasti fisiknya amat lemah akibat pendarahan selama 12 tahun, dia hanya bs merangkak, berusaha menyentuh dari jumbai jubah Yesus. Dia sadar siapa dirinya, dan yg dia lakukan sebenarnya beresiko amat tinggi karena seandainya dia tidak sembuh, maka yg terjd adalah pakaian Yesus menjd najis, dan ini tentu sedikit banyak akan menyusahkan Yesus. Tapi yg terjd kemudian adalah dia sembuh dari pendarahannya, imannya telah menyelamatkan dia. Di sini kita belajar bahwa boleh menentukan sndri standart iman kita jika ingin mujizat Tuhan terjd pd diri kita, asalkan dasarnya adalah kita percaya akan kuasa Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah kita sedang membutuhkan mujizat dari Tuhan utk kondisi yg sedang kita alami? Hal yg dilakukan perempuan yg pendarahan 12 tahun ini hrs kita sikapi dgn benar, jgn asal meniru dan tanpa pengertian yg benar. Saat itu Yesus hadir di dunia secara fisik dlm rupa manusia, jadi Dia tidak bisa hadir di banyak tempat di waktu yang bersamaan, jd ketika Yesus lewat di sana, itulah kesempatan bagi perempuan ini utk mengalami mujizat Tuhan. Jadi hrs sesuai jg dengan waktu Tuhan ketika kita ingin menentukan standart dr iman kita sndri. Yg terutama adalah kedaulatan Tuhanlah yg menentukan apakah iman kita bisa menggerakkan Tuhan utk melakukan mujizat yg kita perlukan. Ada iman tapi juga karena Tuhan ingin melakukan mujizat-Nya pd kita. Ini yg bnyk org tidak menyadarinya, sehingga bermain-main dgn imannya sndri, kalau Tuhan belum mau utk bertindak, kalau belum tiba waktunya Tuhan, tdk akan terjd mujizat apapun jg. Jgn disesatkan dg pengajaran yg menjamin bahwa dgn mengikuti metode tertentu yg katanya &#8216;Alkitabiah&#8217;, padahal itu imajinasi manusia belaka, maka mujizat bisa langsung terjd, apalagi diberi label bahwa &#8216;itu dr Tuhan&#8217; dan kita diminta utk &#8216;membayar&#8217; uang dg penipuan dianggap sbg persembahan utk Tuhan yg diwajibkan. Jelas ini mirip praktek yg banyak dilakukan oleh org yg tidak mengenal Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bergaul dgn Tuhan akan memperteguh iman yg kita miliki, jgn pernah memaksa Tuhan utk harus melakukan mujizat bagi kita, jgn kecewa kalau Dia belum melakukannya untuk kita, tunggu tiba waktunya Tuhan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DI 07012023 Markus 5:27-29Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.Sebab katanya: &#8220;Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.&#8221;Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya &hellip; <a href=\"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=6015\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6015","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6015","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6015"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6015\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6016,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6015\/revisions\/6016"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6015"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6015"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6015"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}