{"id":6023,"date":"2023-01-12T00:07:04","date_gmt":"2023-01-12T00:07:04","guid":{"rendered":"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=6023"},"modified":"2023-01-12T00:07:17","modified_gmt":"2023-01-12T00:07:17","slug":"karena-ingin-dipuji","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=6023","title":{"rendered":"Karena Ingin Dipuji"},"content":{"rendered":"\n<p>DI 12012023<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 10:39-40<br \/>Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,<br \/>sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: &#8220;Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Manusia itu wajar ingin dipuji, apalagi setelah ia lelah melakukan sesuatu, hasil kerjanya bukan saja dinikmati tp dinilai bagus, ini bisa membuat rasa lelah yg terasa menjd tdk sia-sia.<\/p>\n\n\n\n<p>Melihat kisah ini dr sudut pandang psikologi bs membuat kita memahami bhw kesibukan untuk melayani Yesus dan rombongan yg datang ialah sebuah hal yang memang seharusnya dilakukan oleh Marta dan Maria sebagai tuan rumah. Kita jg pasti melakukan hal yg sama kalau ada tamu dlm jumlah bnyk yg datang ke rumah kita, pasti sibuk menyiapkan makanan dan minuman, dan kalau ada anggota keluarga yg &#8216;nganggur&#8217;, apalg dia seorg perempuan, pasti kita akan menyuruh dia ikut membantu menyiapkan semuanya. Hal yg agak aneh adalah Marta tdk langsung minta pd Maria utk membantunya, tp malah meminta Yesus yg menegur Maria, malah menyalahkan Yesus yg menurut Marta Yesus itu tidak peduli melihat dirinya hanya sendirian saja melayani kebutuhan para tamu. Marta tahu kalau Yesus yg bicara, pasti Maria akan taat, jd dia sengaja berkata demikian pd Yesus. Jawaban yg Yesus berikan itu mencerminkan suasana hati Marta yg kuatir dan disusahkan oleh banyak hal, kuatir kalau pelayanannya sbg tuan rumah tdk mendpt pujian, karena itu dia berusaha berbuat banyak hal supaya semuanya sempurna, itulah kenapa Marta terlihat sibuk sekali.<\/p>\n\n\n\n<p>Marta mgkin tipe org yg perfeksionis, kelebihan dr karakter ini adalah berusaha membuat yang terbaik dan hasilnya hrs sempurna, jadi proses yg dia buat kadang terlihat lebih rumit drpd org biasanya. Jika hasil kerjanya sempurna dan juga mendpt pujian, itulah kebanggaan diri yg sangat dia nikmati, tp kalau hasilnya tdk sempurna, dia cenderung menyalahkan dirinya sndri dan tidak berani bnyk bicara. Kelemahannya ialah terlalu menuntut org lain memahami dirinya yg sedang &#8216;bekerja&#8217;, sekali lagi demi hasil yg sempurna dan ingin dipuji, itulah sebabnya Marta menilai bhw Yesus dan Maria tidak peduli akan kesibukan yg sedang Marta alami. Dirinya dia dorong begitu rupa utk sempurna, di sisi lain, dia jg menuntut org lain sama seperti dia, sempurna jg. Orang yg perfeksionis kadang dikejar oleh kekuatirannya sndri, dia punya target waktu, tapi kalau terlihat mulai keteteran, dirinya mulai kuatir dan kadang hilang kendali diri, mulai bicara ketus dan tajam menusuk hati. Mungkin saja Marta ini memiliki jenis temperamen &#8216;perfeksionis sanguin&#8217;, orang yang ingin semuanya sempurna, namun terlalu &#8216;blak-blakan&#8217; dlm perkataannya, inilah yg dapat membuat orang lain segan bekerja sama karena cenderung dituntut berlebihan dan menerima perkataan yg menusuk hati.<\/p>\n\n\n\n<p>Lihatlah manusia jg dr sisi psikologinya, karena ada unsur jiwa dlm diri tiap org, ini sangat dapat menolong ketika harus memberikan nasehat &amp; saran pd org yg membutuhkannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DI 12012023 Lukas 10:39-40Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: &#8220;Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang &hellip; <a href=\"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=6023\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6023","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6023","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6023"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6023\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6024,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6023\/revisions\/6024"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6023"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6023"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6023"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}