{"id":6063,"date":"2023-02-02T23:59:58","date_gmt":"2023-02-02T23:59:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=6063"},"modified":"2023-02-03T00:00:03","modified_gmt":"2023-02-03T00:00:03","slug":"bahaya-kekayaan-dan-kemiskinan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=6063","title":{"rendered":"Bahaya Kekayaan dan Kemiskinan"},"content":{"rendered":"\n<p>DI 03022023<\/p>\n\n\n\n<p>Amsal 30:8-9<br \/>Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.<br \/>Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa alasan penulis amsal meminta pada Tuhan utk tdk memberinya kekayaan atau kemiskinan? Menurut pandangannya, kedua hal ini ternyata punya dampak yg berbahaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika kaya, seseorg bs menyangkal Tuhan, dlm pengertian berani berkata bhw Tuhan bukanlah yang menentukan kebahagiaan hidupnya, tetapi kekayaannyalah yg membuatnya bahagia. Yang disangkal adalah dia kaya bukan karena Tuhan, tetapi karena kehebatan dirinya sendiri, tanpa Tuhan bisa koq hidup bahagia di dunia, malah kalau ikuti cara Tuhan, lambat sekali untuk bisa menjadi cepat kayanya. Pemikiran semacam ini tentu saja benar menurut mereka yang berpikir bhw kekayaannya bisa menjamin seumur hidup bahkan sampai anak cucu utk hidup bahagia &amp; tdk kuatir akan apapun jg. Sebaliknya, ketika org mengalami kemiskinan, org bs banyak berbuat dosa demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Dlm ayat ini digambarkan bhw dia bisa saja mencuri ketika dia lapar, sehingga ketika ketahuan, nama Tuhan jd dipermalukan karna dinilai tdk mampu memelihara hidup umat yg menyembah Dia. Jd mnrut penulis amsal ini, kekayaan &amp; kemiskinan, keduanya bs menarik dirinya untuk melakukan perbuatan dosa, bs membuatnya menyangkal &amp; meremehkan Tuhan, hingga dia bs memalukan nama Tuhan karena terdesak akibat keadaan yg buruk dlm hidupnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, apakah kita lebih baik menolak utk menjd kaya? Jgn salah memahami ayat di atas, penulis amsal ini dia sadar akan batas kemampuan yg dirinya miliki, dia bisa menyangkal Tuhan kalau dia kaya dan dia bisa memalukan nama Tuhan kalau dia miskin. Itu ukuran utk dirinya sendiri. Kita jg ingat bhw Yesus memberikan gambaran melalui perumpamaan talenta, ada 3 hamba yg dipercayakan harta tuannya, tapi ada yang bisa mengelola dgn baik, ada jg yg tdk mampu. Hal inilah yg harus kita pahami, bhw ada org yang dgn kekayaannya bisa hidup bahagia dan tetap takut akan Tuhan, ada jg yg justru menyangkal Tuhan ketika dia kaya. Ada yg miskin tapi tidak sampai mencuri, ada jg yg justru jatuh berbuat dosa karena kemiskinannya. Jadi ini kembali pd kesanggupan tiap-tiap org dlm menguasai diri baik saat dia kaya atau miskin. Hal positif yang bs kita ambil dr penulis amsal ini adalah bahwa dia tahu bersyukur dan mencukupkan diri dgn apa yg dimilikinya, ini terlihat dr perkataan bhw dia ingin makan dr makanan yg memang adalah porsinya, hasil kerja kerasnya, bukan pemberian dr org yg merasa kasihan karna kemiskinannya, dan jg bukan makan dr hasil penipuan atau yang melanggar firman Tuhan, intinya adalah yg dia nikmati adalah yang dia dpt secara &#8216;halal&#8217;, bukan secara curang atau menipu.<\/p>\n\n\n\n<p>Coba lihat diri kita, dgn apa yg kita miliki, semua itu membw kita makin hidup takut akan Tuhan ataukah justru membuat kita meninggikan diri karena kekayaan kita?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DI 03022023 Amsal 30:8-9Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan &hellip; <a href=\"https:\/\/www.kodansays.com\/?p=6063\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6063","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6063","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6063"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6063\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6064,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6063\/revisions\/6064"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6063"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6063"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.kodansays.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6063"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}