Benih Rohani

DI 27122025

1 Petrus 1:23
Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.

Kelahiran kembali yg diwujudkan sebagai pertobatan yg ditandai dgn baptisan air, ini sangat penting bagi org percaya, benih apa yg ada dlm diri kita?

Kalau secara jasmani, benih orgtualah yg menjadikan cikal bakal tubuh kita, banyak kemiripan yg dibawa serta saat dilahirkan ke dunia ini. Karena itulah seorg anak akan memiliki kemiripan secara fisik dan tingkah lakunya dgn orgtua kandungnya. Lalu dgn kelahiran kembali kita, benih apa yg ada di dlm rohani kita? Ayat ini menjelaskan ttg benih yg tdk fana yaitu firman Tuhan. Jadi kelahiran kembali seorg Kristen itu, benih yg ada adalah firman Tuhan, rohani kita ini pastinya hrs memiliki kemiripan dgn benih rohani yaitu firman Tuhan. Sederhananya Isiah org yg sdh lahir baru dan dewasa dlm rohaninya, terlihat dr kemiripannya dengan firman Tuhan, artinya gaya hidupnya dan jg dasar hidupnya ialah firman Tuhan. Kalau kelakuannya menyimpang dr firman Tuhan, maka ada yg salah dgn kelahiran kembali org tersebut.

Coba koreksi diri, perbuatan, sikap, serta perkataan kita, sesuaikan dgn firman yang Tuhan telah tetapkan? Jika berbeda, jadi rohani kita itu berasal dr benih apa? Tuhan ingin kita menjd anak-anak yg punya suatu kerohanian yg bertumbuh dan dewasa, ini terjadi kalau benih rohani kita yaitu firman Tuhan, bertumbuh dan berkembang pesat dalam karakter, perkataan serta perbuatan kita, hidup kita harusnya ‘mirip’ dgn bgmna Yesus hidup di dunia ini. Bukan berarti yg dialami sama persis dgn Yesus, tapi ini ttg cara hidup kita, sikap kita saat berhadapan dgn beragam situasi, bgmna bersikap pada beragam jenis org di sekitar kita. Miripkah kita dgn Kristus? Serupa dgn Kristus? Yang terutama adalah apakah kita semakin jadi dewasa dan meninggalkan kanak-kanak yg memalukan itu?

Benih rohani kita adalah firman Tuhan, jadi patokan kedewasaan rohani kita itu firman Tuhan, serupakah kita dgn Kristus? Jangan justru kita serupa dgn dunia ini.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.