DI 25072026
Matius 20:12-13
katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
Perumpamaan ttg upah para pekerja ini dpt kita maknai bhw ada satu hal yg tak bs kita paksakan yaitu pemikiran kita ttg sesuatu, Tuhan punya penilaian-Nya sendiri.
Ukuran yang umumnya dipakai adalah upah ditentukan sesuai kemampuan. Yg bekerja dr pagi hari merasa bhw upah sedinar untuk 1 hari bekerja itu dr pagi hingga sore. Tetapi ukuran yg tuan itu pakai adalah upah 1 dinar utk 1 hari kerja tdk bergantung pd jam mulai masuk kerjanya, tp upahnya utk 1 hari kerja ya 1 dinar. Pemahaman yg berbeda ini tentu memicu rasa ketidak adilan bagi pekerja yg lebih banyak jam kerjanya. Ini penilaian yg manusia pegang, tetapi tuan ini berpegang pd prinsip: mulai bekerja itu dihitung sejak setuju dgn perjanjian upahnya, bukan waktu bekerjanya. Yg diukur adalah sudah sepakat ttg upah bekerjanya, jd apa yg tdk adil? Nah hal ini jg yg perlu kita perhatikan, bukankah Tuhan bebas dan berhak memakai apa yang Dia miliki sepenuhnya? Kalau kelihatannya org lain lebih diberkati, apakah kita berhak marah karena Dia murah hati?
Tanpa sadar, org yg merasa dikasihi Tuhan, pd waktu tertentu terlalu yakin bhw dirinya yg paling dikasihi, dan boleh mengatur Dia menuruti kemauannya. Dlm mengasihi ada rasa memiliki, tp tdk boleh menguasai atau mengendalikan. Anak memang orgtua yang melahirkan dan membesarkannya, tp Tuhan yg memberikan roh ku kehidupan pd anak, jadi orgtua jg hrs sadar, ada hal milik Tuhan atas semua anak mereka. Orgtua hanya BS memberi asupan bergizi selama kehamilan, tp bukankah Tuhan yang menyempurnakan perkembangan organ-organ tubuh si bayi? Bukankah nanti orgtua akan diminta untuk tanggung jawabnya memelihara, mendidik anak-anaknya di hadapan Tuhan? Jgn kita memakai ukuran yg dipakai manusia untuk menilai apa yang Tuhan lakukan, Dia berhak sepenuhnya melakukan apa saja terhadap siapapun, itu kedaulatan Tuhan.
Menghakimi sesama manusia saja dilarang apalagi menghakimi Tuhan, siapa kita? Jgn berpikir Dia tidak adil, keadilan Tuhan beda dgn ukuran keadilan manusia.