Mau Untung Malah Buntung

DI 12052026

Rut 1:1, 5
Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.
Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.

Di Israel sedang kelaparan, Naomi dengan keluarganya pergi ke Moab, berharap bisa hidup lebih baik, tp kenyataannya justru ia akhirnya sebatang kara.

Itulah hasil pemikiran dan pertimbangan otak manusia, prediksinya kadang justru meleset, berakibat buruk dan kehilangan yg berharga. Mau untung malah buntung, mengenaskan sekali. Naomi ditemani dua menantunya saja, dan karena kedua anak Naomi meninggal, kedua menantunya jadi orang bebas, Naomi menyarankan mereka utk kembali ke keluarganya, jika mungkin, bs menikah lagi. Nasib Naomi mgkin mirip dgn nasib Ayub, kehilangan keluarganya, ini tentu sangat menyedihkan. Tiap pilihan yg kita ambil punya resikonya tersendiri, misalnya menjalankan satu bisnis, mgkin bs berhasil atau justru gagal. Di keadaan yg serupa, ketika terjadi kelaparan, Ishak diperintah Tuhan supaya tetap tinggal, tdk pergi ke Mesir.

Kalau kita ditanya: lebih percaya pd Tuhan atau pd AI? Banyak hal bs dilakukan oleh teknologi AI, bahkan membuat rancangan khotbahpun, AI bs melakukannya. Tuhan yg tahu apa yg pasti akan terjd di depan, masih meragukan Tuhan? Satu nasehat yg perlu kita camkan: “Jadi sekarang, hai km yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, Sebenarnya kamu hrs berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu (Yakobus 4:13,15). Libatkan Tuhan dalam mengambil keputusan, Dia melindungi spt melindungi Ishak saat terjd kelaparan, jgn andalkan pikiran sendiri spt keluarga dari Naomi.

Hidup dipimpin Tuhan, ini yg seharusnya kita alami sbg org benar, di situasi buruk apapun, Tuhan tetap memelihara dan juga melindungi kita.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.