DI 25052026
Kejadian 20:12
Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku.
Dlm memahami Alkitab, perlu kita belajar ttg budaya pd zaman sebuah kisah dalam Alkitab itu terjd, misalnya budaya di saat Abraham hidup.
Sara, isteri Abraham ternyata saudara tiri Abraham, satu ayah tp beda ibu, kalau pd zaman ini, jelas sangat dilarang 2 org sdr tiri utk menikah, karena punya orgtua yang sama, entah ibunya atau ayahnya. Kalau kita mundur lagi, siapakah istri Kain? Jika kita percaya bhw manusia pertama Adam hanya beristrikan Hawa, berarti istri Kain itu sdr kandung perempuannya, anak dari Adam dan Hawa jg. Jd zaman itu budaya memang memperbolehkan pernikahan di dlm satu garis keturunan, tp di zaman ini, hal itu jelas dilarang. Budaya cenderung utk berubah, sesuai dgn pola hidup orang pd zaman itu, yg dulu boleh dan wajar, tp di zaman skrg itu dilarang dan melanggar norma susila dan moral, budaya di zaman yg berbeda, tentu saja hrs disikapi dengan benar.
Zaman dulu pria boleh beristri lebih dari 1, bkn berarti org Kristen boleh beristri lebih dr 1, zamannya berbeda. Contoh lain dlm Alkitab, misalnya duduk di tempat seorg yg sedang menstruasi: “Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yg diduduki perempuan itu harus mencuci pakaiannya, membasuh diri dgn air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam (Imamat 15:22). Lalu bgmna jika kita dalam situasi ini, misalnya duduk di bangku kendaraan umum bekas wanita yg mens, pdhal tidak mgkin kita bertanya dulu apakah dia sdg mens atau tdk? Lalu apakah kita menjadi najis? Zaman sdh berbeda, jadi yg dahulu, bs tdk tepat diterapkan pada zaman skrg, dan ikutilah apa yg jadi doktrin di gereja tempat kita berjemaat, itu yg tepat.
Budaya memang baik, tp zaman akan trs berkembang, ada penyesuaian keadaan & aturan yg berlaku, ikuti saja selama sesuai dgn kebenaran firman Tuhan.