DI 09032015
Lukas 10:36
Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
Kata ‘sesama manusia’ dlm terjemahan lain digunakan kata ‘neighbour’ yg diartikan sbg ‘tetangga’, yaitu org-org yg tinggal di sekitar tempat tinggal kita. Ada ungkapan bhw tetangga adalah ‘saudara terdekat’ yg ada di dekat kita.
Namun ternyata blm tentu semua yg menjd tetangga secara fisik menjd tetangga scra hubungan. Ini krna antara tetangga blm mengerti cara memperlakukan orang sbg ‘orang’ semestinya.
Mulailah dr org-org yg tinggal serumah dg kita: apakah kita memperlakukan pasangan dan anak-anak sbg manusia yg mulia? Istri bknlah nyamuk yg bs kita pukul seenaknya, suami bknlah sapi perahan yg hanya diinginkan sbg penghasil uang saja, anak-anak bknlah ikan laohan yg cukup diberi mkn teratur dan dilihat sewaktu-waktu saja. Kemudian bgmna hubungan kita dg para kerabat, tetangga, teman kerja, teman sekolah, sesama jemaat gereja, dsbnya? Mulailah koreksi diri kita terlebih dahulu.
Bnyk org lebih ‘ramah’ terhadap hewan peliharaannya drpd terhadap manusia. Kadang mknan utk hewan piaraan lebih ‘mahal’ drpd mknan yg kita berikan utk pembantu. Bahkan kadang org yg hina itu dianggap sama dg hewan tanpa tuan yg terlantar di tengah jalan.
Kekayaan, status sosial, jabatan, kekuasaan dan niat jahat bisa membuat manusia ‘gelap mata’. Latar blkg pendidikan dan masa lalu seakan menjd bahan ’empuk’ alasan memperlakukan org lain seenaknya saja.
Sesama manusia bcra ttg memperlakukan manusia scra manusia adanya. Bnyk pedoman ayat firman Tuhan yg mengajar kita tentang ini. Tapi bgmna kita belajar kalau kita malas baca Alkitab? Kita hanya bertindak menurut naluri semata, bertindak mnrut apa yg kita anggap benar tanpa memperdulikan kebutuhan dan kepentingan org lain. Kita jd egois, angkuh dan ‘menjajah’ manusia lainnya. Tentu ini tdk pantas utk dilakukan apalg diteladani. Ingat ada tabur-tuai.