DI 01102015
1 Timotius 2:8 NKJV
I desire therefore that the men pray everywhere, lifting up holy hands, without wrath and doubting;
Aku menginginkan karena itu bahwa para pria berdoa di manapun, mengangkat tangan-tangan kudus, tanpa kemarahan dan keraguan;
Zaman itu dan skrg, doa para pria memegang peranan penting dlm hidup sebuah keluarga, masyarakat hingga bangsa. Rasul Paulus merindukan para pria di segala tempat berdoa dg 3 kriteria:
Pertama, berdoa dg mengangkat tangan yg kudus. Ini menekankan pentingnya reaksi fisik ketika kita berdoa. Menggunakan tangan sbg bagian dr anggota tubuh, tangan diangkat sbg tanda penyerahan diri, berharap dan penghormatan terhadap Tuhan. Hrs dg tangan yg kudus, bkn hanya tangan yg bersih, tp jg kehidupan yg kudus di mata Tuhan. Perbuatan kita hrs kudus.
Kedua, berdoa dg tanpa kemarahan. Marah itu salah satu wujud dr emosi manusia. Kemarahan itu marah yg berlebihan dan cenderung tdk terkendali. Berdoa dlm kemarahan bkn berisi ttg hal yg baik, tp sumpah serapah dan niat jahat. Perkataan yg keluar saat marah cenderung didorong emosi, bkn keluar dr ketulusan hati. Tentu Tuhan tdk ingin mendengar doa dr org yg sdg tdk dpt mengusai emosinya, perkataan doanya berlawanan dg isi hatinya. Usahakan diri tenang, kemudian mulailah berdoa.
Ketiga, berdoa dg tanpa keraguan. Doa itu hrs didasari iman, iman hrs didasari oleh Firman Tuhan. Jd doa hrs didasari oleh Firman Tuhan, doa yg penuh kuasa, doa yg tdk ‘kosong’, tp punya daya dobrak dan mengubah keadaan. Tdk boleh ragu ketika berdoa, tdk boleh ragu saat mendeklarasikan Firman Tuhan saat berdoa. Ketaguan hanya membuat kita berpikir utk apa berdoa, pasti tdk terjd perubahan, blm tentu Tuhan jawab apalg mengabulkan permintaan kita. Doa menjd sekedar aktivitas rohani tanpa adanya pengharapan di dlmnya. Kita berdoa krna kita percaya kpd Tuhan.
Berdoa itu tdk sia-sia, ada yg segera dijwb Tuhan, ada yg hrs melewati proses realisasinya