DI 03062016
Hakim-hakim 3:6 ILT
Dan mereka mengambil anak-anak perempuan orang-orang itu untuk menjadi istri mereka dan memberikan anak-anak perempuan mereka kepada anak-anak lelaki orang-orang itu, serta beribadah kepada ilah-ilah mereka.
Urusan cinta ternyata tdk lepas dr urusan iman. Cinta memang ttg perasaan 2 org berlawanan jenis yg saling menyukai dan membutuhkan. Dari sisi kemanusiaan, cinta memang tdk mengenal perbedaan agama, namun ternyata ayat ini berkata lain.
Hal yg mgkin sering tdk disadari adalah bhw utk menyatukan 2 insan yg saling mencintai dan meresmikannya di hadapan publik atau umum itu diperlukan sebuah upacara keagamaan, dlm ke-Kristenan 2 insan itu disatukan melalui Sakramen Pernikahan Kudus atau Pemberkatan Nikah di gereja. Jd cinta bkn saja soal saling cinta, tp jg soal iman yg sama.
Kejatuhan moral bangsa Israel saat itu adalah krna mrka melakukan ‘nikah beda iman’ dg penduduk bangsa lain yg menyembah berhala. Akibatnya org Israel menyembah berhala-berhala yg disembah keluarga besan mereka, mantu dan menantu mereka. Sehingga terjadilah pernikahan yg tdk kudus di hadapan Tuhan dan ini jahat di hadapan Tuhan.
Membiarkan anggota keluarga kita berpacaran dg org yg tdk beriman pd Kristus adalah sebuah celah terbuka bagi penyesatan iman kita pd Tuhan. Apa salahnya dilarang menikah? Calon suami atau calon isteri orgnya baik, mapan, sopan, tdk pelit, sering menolong, dsbnya, cuma soal iman saja yg berbeda. Bukankah semua agama itu baik, arahnya ke Tuhan? Ini seringkali meracuni cara berpikir anak-anak Tuhan yg sedang dimabuk cinta. Apakah semua itu benar?
Ke-Kristenan itu bkn sekedar agama, tp hubungan pribadi kita dg Tuhan. Kalau Tuhan itu satu, knpa banyak muncul agama dan kepercayaan lain? Bnyknya agama yg ada di dunia justru menunjukkan bhw ada Tuhan yg benar-benar Tuhan, ada tuhan yg sbnarnya bkn Tuhan. Spt uang asli itu cuma 1 tipe, uang palsu bs beragam bentuk pemalsuannya