DI 18092017
Pengkhotbah 7:2 KJV
It is better to go to the house of mourning, than to go to the house of feasting: for that is the end of all men; and the living will lay it to his heart.
- Adalah lebih baik untuk pergi ke rumah duka, daripada untuk pergi ke rumah pesta: karena itulah akhir dari semua manusia; dan yang hidup akan menempatkannya ke hatinya.
Rumah duka bisa berarti tempat kedukaan umum atau rumah pribadi dari almarhum(ah), namun keduanya bs disebut rumah perkabungan di mana anggota keluarga sdg berkabung/berduka atas meninggalnya salah satu anggota keluarganya.
Mengapa ke rumah duka lebih baik? Krna kita melihat fakta tak terbantahkan bhw akhir dr hidup manusia scra fisik adalah terpisahnya roh dg tubuh jasmaninya. Rohnya kembali pd Tuhan, tubuhnya kembali menjd tanah/debu. Setelah kematian scra fisik ini, seseorg tdk dpt berbuat apa-apa lg, semua perbuatannya akan menjd bukti di pengadilan Tuhan. Kalau mau mengubah sesuatu, ubahlah selagi masih hidup, setelah itu tak ada kesempatan lagi.
Dari hidup seseorg kita bs belajar bnyk ttg kehidupan, apakah dr kegagalan dan kesuksesannya, dr teladan maupun kesalahannya, dr kenangan baik ttg org itu, dsbnya. Misalkan bgmna seseorg tetap kuat imannya saat menjelang dia meninggal, itu bs menjd contoh bagi yg masih hidup. Bgmna org itu tetap mengucap syukur walau menanggung penderitaan yg amat sangat, bgmna menyiapkan diri saat akan menghadap Sang Pencipta, bgmna msh sempat berbuat sesuatu yg baik sblum saatnya meninggal.
Di rumah duka ada tangis dan air mata, rasa kehilangan yg amat sangat besar, di sinilah kita diingatkan agar sepenjang hidup kita, tinggalkanlah kenangan yg baik, manis, indah serta bermanfaat bagi org-org yg kita temui dlm hidup kita. Tentu tiap org pny kesalahan, tp itu bkn sebuah alasan utk mengurangi rasa kehilangan yg ada. Di rumah duka kita diingatkan kembali bgmna cara kita hidup, jgn sia-siakan kehidupan yg kita hidupi, waktu yg ada tdk bnyk