DI 29032018
Lukas 19:46 KJV
Saying unto them, It is written, My house is the house of prayer: but ye have made it a den of thieves.
- Berkata kepada mereka: “Ada tertulis, rumah-Ku adalah rumah doa: tapi kamu telah membuatnya menjadi sebuah goa para perampok.
Apa bedanya rumah dg goa? Rumah adalah tempat tinggal, dan goa adalah tempat persembunyian. Tuhan Yesus saat itu marah krna bait suci yg harusnya menjd tempat ibadah, tempat Tuhan bertemu dg umat-Nya, berubah menjd ‘goa para perampok’, tempat berkumpulnya org-org jahat.
Bnyk dr kita fokusnya pd org yg berjual beli di pelataran bait suci krna Yesus mengusir mrka. Tapi sbnarnya bkn hanya itu, Yesus bcra ttg bait suci sbg tempat umat berdoa, tp berubah menjd tempat org-org berpikiran jahat. Apa yg dilakukan para perampok ketika berkumpul? Berbagi barang rampokan, memikirkan hendak merampok siapa lagi, dan biasanya pesta pora. Ini sbnarnya yg Yesus maksudkan: org yg dtg ke bait suci justru utk maksud bkn utk beribadah.
Bgmna dg kondisi grja di zaman modern ini? Bbrpa kelompok sibuk dg penampilan fisik gereja yg hrs kelihatan penuh dg teknologi canggih, enak dilihat mata dan membuat jemaat nyaman. Sebatas utk mendukung kelancaran ibadah, teknologi menjd sangat berguna dan penting. Namun yg jd masalah adalah apakah pendanaan grja utk ‘menghias’ gedung grja berimbang dg dana utk penginjilan dan diakonia? Utk sound system yg sangat bagus saja butuh milyaran rupiah, tp kalau hanya mendanai penginjilan dg hanya puluhan juta saja, rasanya tdk berimbang.
Gereja jg menjd tempat pengajaran Firman Tuhan, namun jgn sampai terjebak menjd tempat ‘konser’ berlabel rohani, org lebih tertarik melihat artis ‘rohani’ drpd mendalami pengetahuan ttg Firman Tuhan. Bkn salah ketika mengundang artis rohani, tp jgn sampai org dtg bkn krna ingin bertemu Tuhan, tp krna daya tarik promosi artis rohani.
Gereja hrs kembali pd fungsinya, menjd rumah doa, tempat Tuhan bertemu dg umat-Nya