DI 04072018
Pengkhotbah 12:7-8 KJV
Then shall the dust return to the earth as it was: and the spirit shall return unto God who gave it.
Vanity of vanities, saith the preacher; all is vanity.
Dan debu akan kembali ke bumi sebagaimana dia dulu ada: dan roh akan kembali pada Tuhan yang memberikannya
- Kesia-siaan dari banyak kesia-siaan, kata pengkhotbah, semua adalah kesia-siaan.
Membaca kalimat ini hrs hati-hati dan jgn salah dlm memahami maksud dr penulis kitab Pengkhotbah yaitu Raja Salomo.
Saya pribadi awalnya sulit memahami, namun Tuhan ingatkan kembali dr perkataan bbrpa org mengenai makanan: “Makanan paling enak di dunia dan yg paling standart enaknya itu akhirnya sama saja ‘endingnya’, yg membedakan cuma dari lidah hingga tenggorokan saja, sdh masuk perut kan sama saja dicerna, dan hasil akhirnya berujung dikeluarkan di …. ”
Org kaya atau miskin, besar atau kecil, tua atau muda, pintar atau bodoh, bahagia atau mengenaskan nasibnya, dsbnya, akhir hidupnya ya sama, mati. Apa yg dialami selama hidup, apakah kebahagiaan atau kesedihan, tdk bs menghindarkan diri dr kematian. Mengumpulkan harta banyak mgkin bs memperpanjang umur sekian tahun, tp pasti mati juga. Punya suami ganteng atau istri cantik, pasti mati juga. Jd semua itu sia-sia dlm arti bhw itu cuma dinikmati saat hidup di dunia.
Bnyk org takut miskin tp tdk takut masuk neraka, bnyk org takut sakit, tp tdk takut berbuat dosa, bnyk org kumpulkan harta di dunia, tp tdk menyiapkan diri utk masuk dlm pengadilan Kristus. Hidup di dunia cuma mgkin di bwh 100 tahun (walaupun ada yg lebih), kita gunakan hidup utk semua yg fana atau kebutuhan fisik dan jiwa, tp kita lupa bhw roh kita jg punya kebutuhan, yaitu: hubungan dg Tuhan setiap saat.
Salomo pny semua yg tersedia di dunia: kekayaan, kemuliaan, kehormatan, istri yg bnyk, namun saat dia jatuh dlm penyembahan berhala, dia sadar telah kehilangan yg terpenting yaitu Tuhan. Ayat ini mgkin bukti pertobatan Salomo