Berbohong Karena Takut

DI 20012020

Kejadian 20:2
Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: “Dia saudaraku,” maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara.

Sara memang saudara tiri dr Abraham, kemudian mrka menikah dan hingga kisah dlm ayat ini, mrka blm jg diberi Tuhan keturunan. Krna Abraham takut, dia minta Sara hanya mengakuinya sbg saudara saja.

Inilah yg dimiliki oleh semua manusia, jika dlm keadaan takut, ada kecenderungan utk berbohong atau memodifikasi kebenaran sebisa mgkin spya dirinya merasa aman. Wajar bila Abraham berpikir bhw dirinya terancam bila dia mengakui Sara sbg istrinya, dia berpikir dia akan diperlakukan tdk baik dan istrinya diambil scra paksa. Namun pikirannya terbukti tdk benar. Abimelekh masih takut akan Tuhan dan tdk ingin semua org di kerajaannya mengalami situasi buruk krna dirinya. Kita hrs sadari bhw apa yg kita pikirkan blm tentu sama dg realita yg sbnarnya. Apalg kalau rasa takut sdh menguasai kita, kita cenderung tdk lg bs berpikir jernih dan logis.

Tuhan ikut turun tangan mengenai masalah ini, krna sebuah alasan yaitu Sara hrs tetap menjd istri Abraham spya rencana Tuhan atas mrka tetap berjalan dan digenapi. Jd ini demi kepentingan Tuhan jg, bkn sekedar membela Sara atau Abraham. Pelajaran yg kita dpt adalah Tuhan akan tetap menjaga rencana-Nya tergenapi sekalipun ada unsur manusia yg menghambatnya. Kebohongan Abraham memang akan menghambat rencana Tuhan, namun Tuhan tdk membiarkan itu bgtu saja. Kalau ada yg menghambat rencana Tuhan utk hidup kita, Dia pasti akan menyelesaikannya hingga tuntas. Dia tak pernah gagal dan lalai menggenapi firman-Nya.

Jgn berbohong demi mengamankan diri, ingat kita pny Tuhan yg luar biasa, yg sanggup melepaskan kita dr tangan dan jerat musuh, tetap percaya dan bersandar pd Tuhan.

About KoDan

Tuhan bicara pada kita melalui berbagai cara, salah satunya melalui tulisan renungan yang diinspirasikan melalui pewahyuan Firman Tuhan, dan lewat media ini, kerinduan saya kita makin mengenal Tuhan Yesus Kristus lebih intim lagi.
This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.