DI 10062021
Amsal 30:33
Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul.
Dari ayat ini kita dapati bhw dlm amarah itu terdapat benih pertengkaran, artinya bs saja terjd pertengkaran atau justru tdk terjd, semuanya bergantung pd bgmna kita bersikap saat amarah mulai timbul.
Marah tentu sesuatu yg normal bahkan baik jika bs ditujukan utk hal-hal tertentu, misalnya marah saat kita menemukan telah terjd kesalahan yg diperbuat org lain dan marahnya kita bertujuan memberikan penekanan bhw kesalahan yg diperbuat bs sangat merusak suasana dan bisa jg menimbulkan masalah besar, spya org itu menyadari kesalahannya dan jgn diulangi di lain waktu. Bahayanya adalah kalau kita dg sengaja membiarkan marah itu menjd semakin besar dan berubah menjd amarah yg tdk terkendali, mgkin jg itu sbg pelampiasan stress yg kita alami, dan jika sdh melibatkan fisik kita, maka hal yg tdk diinginkan bs saja terjd, yg pertama kali terjd pastinya adalah sebuah pertengkaran.
Pd dasarnya setiap org tdk ingin dimarahi berlebihan dan disakahkan, tentu krna ini berkaitan dg harga diri dan rasa malu yg ditimbulkan, apalg jika ini terjd di muka umum. Krna itulah sangat penting bagi setiap kita utk benar-benar memahami alasan mengapa kita hrs marah, tempat yg cocok utk memarahi dan siapa saja yg pantas melihatnya. Tdk selalu marah di dpn umum itu menimbulkan efek jera, justru bs menimbulkan rasa dendam krna merasa dipermalukan. Sadarlah bhw kita hrs bijak dlm berkata-kata, bijak dlm hal berpikir dan mengambil keputusan, bijak dlm mengendalikan scra penuh emosi, dsbnya. Bnyk pertengkaran bs dihindari kalau saja kita bs mengendalikan marah agar jgn berubah menjd amarah yg justru menguasai diri kita nantinya.
Marahlah di saat wkt yg tepat dan krna alasan yg benar, bkn sbg pelampiasan emosi yg sdh lama kita pendam, hindari pertengkaran yg tdk perlu terjd.