DI 04112014
Yunus 4:1 NKJV
But it displeased Jonah exceedingly, and he became angry.
Tapi hal itu sangat tidak menyenangkan bagi Yunus, dan dia menjadi marah.
Mau tahu apakah kita org yg cukup sabar atau tdk, hanya bs diketahui saat berhadapan dg org yg membuat kesabaran kita terkuras, menyebalkan. Atau saat menghadapi situasi yg tdk terduga, misalnya antrian panjang atau macetnya lalu lintas.
Org dan situasi yg kita hadapi setiap harinya akan punya peluang utk bersinggungan dg emosi kita, apakah itu emosi yg positif spt kegembiraan, bahagia, tenang, dsbnya atau sebaliknya emosi yg negatif spt kekesalan, kemarahan, dsbnya. Sebal, marah, dsbnya itu wajar, namun jika sdh di luar kendali kita, ini yg berbahaya.
Mari lihat diri kita, saat emosi kita ‘kena’, apa reaksi kita? Ada org yg aslinya memang pelit, saat dpt rezeki lumayan, hanya dinikmati sendirian, tdk mau berbagi kebahagiaan apalagi ‘menabur’ dan memberi sedekah. Ada yg aslinya pemarah, bgtu yg dia inginkan tdk terpenuhi, langsung meledak amarahnya. Aslinya seseorg terlihat saat emosinya bereaksi.
Ketika keadaan normal dan baik-baik saja, emosi kita biasa saja. Dlm satu hari, emosi bs ‘naik dan turun’ mengikuti situasi yg terjadi. Skrg senang, sejam kemudian bs marah krna kecewa akan sesuatu. Itulah gunanya pengendalian diri, bs menahan emosi yg negatif.
Emosi dan perasaan saling mempengaruhi. Perasaan yg terluka bs menyulut emosi utk naik. Waktu lg berkumpul, bertemu teman baik, emosi stabil, bgtu org yg kita benci lewat, emosi bs langsung bereaksi dan raut wajah kita muram. Perasaan yg terluka hrs disembuhkan sehingga emosi menjd stabil.
Kasih memampukan kita mengendalikan diri, krna Tuhan ada di dlm hidup kita. Berdoa dan baca Alkitab tdk membuat kita ‘ketularan’ sifat Tuhan, tp saat kita bergaul intim dg Tuhan dan mempraktekkan Firman-Nya, itu yg membuat kita ‘tertular’ sifat-sifat mulia Tuhan. Ke-Kristenan bkn ritual agama.