Menutupi Pelanggaran

DI 15092026

Amsal 10:12
Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.

Koq pelanggaran ditutupi? Bukannya harus diungkap dan diberi hukuman? Lalu apa yg ingin disampaikan penulis amsal ini, tentu kita hrs berusaha memahaminya.

Ini ttg bgmna kita melihat satu pelanggaran yg telah terjd, melihatnya dg mata yg penuh kebencian? Ataukah melihatnya dg mata yg penuh kasih? Tentu kita pernah melihat dgn mata kepala sendiri, ada org-org yg sengaja trs menerus mempermasalahkan kesalahan atau pelanggaran yg dilakukan seseorg, sdh meminta maaf, tp tdk dimaafkan, malah dg sikap seolah-olah pantas menghakimi, org atau kelompok ini membuat pertengkaran & membuat suasana makin ‘panas’. Memang kita paham, ada batasan pelanggaran yang masih bs dimaafkan dan ada yg tdk bs lagi dimaafkan, tetapi kita jg hrs melihat apa yg akan terjd jika pelanggaran ini trs menerus dipermasalahkan. Mgkin saja pelakunya jd terbawa emosi hingga bertengkar fisik krna tdk tahan dgn omongan yg terlalu kasar dan ‘pedas’, mulai menyinggung personal bukan masalahnya.

Kasih menutupi pelanggaran, bkn berarti ini mentolelir pelanggaran: bebas lakukan yang melanggar, nanti dimaafkan kalau si pelaku ini minta maaf, bkn begitu. Pelanggaran itu ditutupi dgn maksud tetap menjaga suatu nama baik seseorg, tiap org bs buat salah, dan blm tentu trs berbuat salah. Ada yang dilakukan dgn tanpa kesengajaan, ini mgkin bs dimaafkan. Selain itu, sebaiknya jangan main hakim sendiri, serahkanlah pada pihak yg berhak menghakiminya, supaya kita jgn justru jd pelaku kriminal karena main hakim sendiri. Ada org-org yang pantas diberikan 1 kesempatan lagi, ada yg tdk, berikan suatu kesempatan utk memperbaiki diri, tidak ada manusia yg sempurna. Sekali lagi: yg salah tetap salah, tp serahkanlah pada pihak yang memang punya hak utk menghakimi, Tuhan yg paling berhak menghakimi dan memberi hukuman yg pantas diterimanya.

Kasih melindungi nama baik seseorg, tetapi tdk mentolelir sebuah pelanggaran, jangan menghakimi orang lain karena biasanya itu dilakukan karena didasari kebencian.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.