DI 17092026
Amsal 11:1
Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.
Apa hubungannya masalah neraca dgn nilai hidup kita? Itu kan masalah dagang, tp knpa penulis amsal menghubungkannya dg nilai yg diberikan Tuhan?
Neraca atau timbangan memang alat ukur yg digunakan lazimnya dlm berjual beli, lalu knpa dihubungkan dgn penilaian Tuhan? Ini sesuatu yg bs kita maknai sbg kepedulian Tuhan terhadap cara kita berbisnis. Neraca yg serong berarti tdk tepat dlm menimbang suatu barang. Berarti ada niat mencurangi & mengambil keuntungan yg seharusnya tdk boleh diambil dgn cara curang. Hal ini beda dgn menimbang lebih utk mengapresiasi si pembeli sbg pelanggan tetap misalnya, tdk ada maksud curang di dalamnya. Mencuri tdk selalu mengambil semuanya, tp bisa jg memberi dgn jumlah yg tdk benar, dikurangi tp dibilang sudah semuanya. Tentu berbeda jika ini terjd sesekali akibat kelalaian yg tdk disengaja, tp kalau berulang kali dilakukan, ini bearti sdh jadi metode cara berbisnis yg merugikan konsumen.
Kebiasaan bs menjd suatu watak, karakter bahkan gaya hidup, tentu kebiasaan buruk hrs dibuang, tp sebagian org justru sengaja memeliharanya krna mendapat keuntungan dr situ. Misalnya menjual barang kadaluarsa tentu bkn suatu cara menjual yg baik, tetapi demi keuntungan, hal itu dilakukan jg. Yang hrs kita ingat adalah bhw Tuhan menilai dgn tajam bgmna cara kita berbisnis, apakah dg cara yang benar, jujur, ataukah dg memakai cara-cara duniawi yg bertentangan dg yang firman Tuhan tetapkan. Tuhan senang dgn timbangan yg tepat atau sempurna, artinya baik timbangannya maupun batu timbang ini semuanya benar, tdk ada rekayasa yang merugikan konsumen. Kelihatannya ini hal yg kecil, org lain mgkin tdk tahu, tapi Tuhan tahu yg kita sembunyikan sekalipun dr org lain, dan ini mempengaruhi penilaian Tuhan terhadap diri setiap kita.
Berlakulah jujur dan benar dlm berbisnis dg siapapun, Tuhan menilainya, jgn berusaha utk mencurangi karena Tuhan melihat yang kita lakukan.