Malu di Hadapan Umum

DI 03102026

Amsal 25:7 ILT3
Sebab adalah lebih baik bahwa dia berkata kepadamu, “Naiklah ke sini,” daripada dia merendahkan engkau di hadapan orang mulia, yang pernah matamu lihat.

Sungguh memalukan bila menempati posisi atau suatu tempat yg harusnya adalah milik orang lain, lebih baik merendah lalu org lain yg melayakkan kita.

Malu di depan umum, sesuatu yg tdk ingin dialami siapapun jg, tp tetap ada saja orang yg mengalaminya. Dimulai dr pikirannya yg menganggap dirinya pantas dihormati dan dihargai setinggi-tingginya. Punya jabatan, posisi, kedudukan, harta berlimpah, dsbnya, membuat seseorg bertingkah angkuh serta merendahkan org lain. Posisi kita mungkin tinggi, tp siapa tahu ada yg lebih tinggi, org yg lebih pantas dihormati dan dihargai. Jadi dlm pertemuan umum, lebih baik merendah dan org lain yg melayakkan kita. Dalam PB, ada nasehat serupa yg Yesus sndri katakan: “/Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yg paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datanglpg dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain (Lukas 14:10).

Hal penting yg berkaitan dgn ini adalah apa yg kita pakai utk mengukur diri kita sendiri apakah kita org yg layak atau tdk. Penilaian yg kita gunakan kadang bertentangan dgn penilaian Tuhan, ini yg menyebabkan suatu pergolakan batin yg tajam. Apakah seseorg yg posisinya lebih rendah drpd kita, jg lebih rendah di mata Tuhan? Kisah Lazarus dan org kaya menjd contoh nyata bgmna posisi di mata Tuhan kadang berbanding terbalik dgn posisi di mata manusia. Tuhan melihat perbuatan, bukan posisi seseorg. Kalau org miskin tp taat firman Tuhan, lebih berharga drpd org kaya yg hidup fasik, nilai yg Tuhan pilih kadang berbeda dgn yg manusia pilih, karena itulah bgmna kita merendah menjd sangat bijak, merendah di hadapan Tuhan dan jg manusia, drpd nanti kita dibuat malu karena terlalu tinggi menilai diri kita.

Merendah utk ditinggikan, ini sikap yg harus kita miliki, baik dlm hal rohani maupun dlm bermasyarakat, biarkan org lain yg nantinya melayakkan kita.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.