DI 13072015
Markus 10:22 NKJV
But he was sad at this word, and went away sorrowful, for he had great possessions.
Tapi dia sedih akan perkataan itu, dan pergi dengan sedih, karena dia mempunyai harta-harta milik yang besar.
Sebuah pertanyaan dr Tuhan muncul di pikiran saya ketika membaca kisah ini: “Niel, mnrut kamu, si org muda itu jadi jual hartanya atau tdk?”
Di Alkitab tdk ditulis si org muda ini menjual hartanya atau tdk, yg ada keterangan bhw dia pergi dg sedih. Jd saya tdk bs menjawab pertanyaan Tuhan ini.
Lalu Tuhan bilang lagi: “Kenapa dia pergi?” Saya baca lg kisahnya, ternyata di ayat sblumnya memang Tuhan menyuruhnya pergi. “Dia pergi krna memang Engkau menyuruhnya, Tuhan.”
Si org muda ini tdk membantah atau berdebat dg Tuhan, dia lgsg pergi. Tuhan tanya lg: “Apa perasaan km waktu hrs melakukan perintah-Ku?”
Ya, kadang rasanya berat, kadang ingin protes, kadang bingung, kadang gembira, dan kadang sedih, mencucurkan air mata.
Dr diskusi dg Tuhan ini, saya mulai belajar utk tdk berandai-andai dlm mengartikan apa yg kita bc di Alkitab. Terlalu sering kita di-doktrin para pengkhotbah bhw si org muda yg kaya ini pergi lalu tdk mau melakukan yg Tuhan katakan. Bknkah kadangkala kita jg sedih ketika melakukan yg Tuhan suruh? Apakah Abraham tdk sedih saat Tuhan minta Ishak utk dikorbankan? Bknkah Yesus jg bergumul di taman Getsemani ketika akan mengalami penderitaan dan kematian demi taat pd Bapa? Kalau si org muda yg kaya ini sedih, wajar tidak? Wajar. Apakah akhirnya dia taat? Alkitab tdk mencatatnya, jd kita tdk boleh bilang ya atau tdk.
Tdk setiap kali kita lakukan perintah Tuhan dg senang hati, saat kita hrs berkorban, kita mgkin sedih, mau protes bahkan mgkin timbul niat utk mengabaikannya. Namun akhirnya kita dimampukan Tuhan utk taat melakukan perintah-Nya. Ada org yg disuruh, bilang ya siap, tp ternyata tdk dilakukan, ada yg disuruh, berkata tidak, tp kemudian jd melakukannya. Mana yg lbh baik?