Memandang Surga

DI 25082015

Daniel 4:34
Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun.

Kesombongan paling parah adalah kesombongan yg ditunjukkan pd Tuhan, tdk mengakui keberadaan Tuhan dan perbuatan-Nya. Nebukadnezar sombong dan pd akhirnya ‘dihajar’ Tuhan hingga akhirnya mengakui ke-Mahakuasaan Tuhan.

Ketika memandang ke langit, akal budinya kembali, ada apa di langit? Langit ada di atas, dlm pemahaman umum, digambarkan surga ada di atas, neraka ada di bawah. Memandang ke langit itu spt memandang ‘surga’, tempat di mana Tuhan berada. Bnyk org tdk percaya surga dan neraka, tak ada kehidupan stlah kematian. Tdk percaya Tuhan dan bhw surga itu ada, inilah kesombongan.

Ketika memandang ke surga, akal budi dan pengertian Nebukadnezar kembali dimilikinya. Sadar akan kesombongannya, mengakui Tuhan serta tdk memegahkan diri sndri, akan mengembalikan seseorg menjd bijak dan berhikmat. Pintar itu beda dg bijak dan berhikmat, sama-sama penuh dg pengetahuan tp org pintar blm tentu bijaksana, bs sombong, arogan dan mengandalkan diri sndri, tp org bijak dan berhikmat itu pintar dan mampu menyeimbangkan hidup jasmani, jiwani dan rohaninya, shga mampu bersikap benar di hadapan Tuhan dan manusia.

Bnyk hal yg bs membuat kita sombong, lupa bhw semua yg kita miliki itu semua Tuhan yg memberi dan percayakan pd kita. Memang kita mengusahakannya, tp itupun Tuhan yg beri kemampuan. Jgn lupa ada Tuhan, kalau kita mulai merasa bisa dan mampu tanpa Tuhan, itulah benih dan akar dr kesombongan yg pd akhirnya membuat kita lupa diri. Jgn sampai Tuhan ‘menghajar’ kita krna kita sombong, rendahkan diri di hadapan Tuhan, sadar bhw Tuhanlah pemilik hidup kita dg semua yg kita miliki dan nikmati. Miliki takut akan Tuhan setiap saat

About KoDan

Tuhan bicara pada kita melalui berbagai cara, salah satunya melalui tulisan renungan yang diinspirasikan melalui pewahyuan Firman Tuhan, dan lewat media ini, kerinduan saya kita makin mengenal Tuhan Yesus Kristus lebih intim lagi.
This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.