DI 08022017
Mazmur 141:3 KJV
Set a watch, O LORD, before my mouth; keep the door of my lips.
- Tempatkan seorang penjaga, oh TUHAN, di depan mulutku; jagalah pintu bibirku.
Sehebat-hebatnya kita menjaga perkataan kita, suatu saat bisa jg kita gagal, bs keceplosan, tanpa sengaja melukai hati org dg ucapan kita, bahkan kita bs berbohong. Hal inilah yg Daud sadari shga dia membuat mazmur ini.
Paling tepat adalah melibatkan Tuhan utk ‘membantu’ kita menjaga perkataan. Daud mengumpamakannya spt ayat ini : meminta Tuhan menempatkan seorang penjaga di depan mulut kita. Apa gunanya seorg penjaga? Utk mengawasi keluar masuknya sesuatu. Ini bermakna sblum kita mengucapkan sesuatu, selain kita telah berpikir dg jernih, kita minta Tuhan jg memberi penilaian, apakah ucapan kita ini tepat dan berdampak positif. Bgmna melakukannya?
Dlm setiap hati manusia ada ‘hati nurani’ yaitu media atau tempat Tuhan berbicara dg manusia. Sering kali disebut bagian yg terdalam dr hati, di mana ada ‘alarm’ yg aktif ketika kita hendak melakukan sesuatu yg salah. Komunikasi dg Tuhan hrs setiap saat, kalau berdoa itu tdk setiap saat. Jd bkn sekedar hrs berdoa tiap hari, tp trs berkomunikasi dg Tuhan di dlm hati nurani kita. Bgtu ada ucapan yg salah, alarm itu berbunyi dan mengingatkan kita spya jgn mengatakannya.
Lidah diibaratkan mempunyai sebuah ‘pintu’, pintu hrs terbuka jika ingin keluar atau masuk. Jika musuh yg menguasai pintu, maka dia akan memasukkan semua yg buruk. Kalau emosi yg menguasai pintu bibir kita, maka perkataan yg keluar adalah yg didasari oleh emosi belaka, ucapan kemarahan, kata-kata yg menusuk perasaan hingga perkataan kutuk. Ketika Tuhan membantu menjaga perkataan kita, ada filter/seleksi mana perkataan yg pantas diucapkan dan mana yg tdk. Jd jelas bhw lebih terjamin melibatkan Tuhan dlm menjaga perkataan dibandingkan dg kemampuan kita sndri menjaganya. Org sombong merasa sanggup melakukannya tanpa Tuhan. Rendah hati spt Daud