Menghamba Pada Manusia

DI 14082019

2 Raja-raja 16:7

  • Ahas menyuruh utusan-utusan kepada Tiglat-Pileser, raja Asyur, mengatakan: “Aku ini hambamu dan anakmu. Majulah dan selamatkanlah aku dari tangan raja Aram dan dari tangan raja Israel, yang telah bangkit menyerang aku.”

Raja Ahas adalah raja Yehuda, saat itu bangsa Israel telah terpecah. Dia hidup melakukan yg jahat di mata Tuhan, ternyata dia tdk mengandalkan Tuhan, tp menaruh nasibnya dan nasib kerajaannya pd tangan raja Asyur.

Menghambakan diri pd manusia tentu berlawanan dg Firman Tuhan. Dlm Yeremia 17:5 kita diingatkan utk tdk mengandalkan dan percaya pd manusia, kita akan terkutuk:

Jeremiah 17:5
Thus saith the LORD; Cursed be the man that trusteth in man, and maketh flesh his arm, and whose heart departeth from the LORD.

Manusia itu terbatas, dan kesetiaannya bd berubah-ubah, dan blm tentu murni dlm memberikan sesuatu. Mempercayakan nasib kita pd manusia itu sama spt menyembah berhala, ada rasa takut dan tdk berani melawan. Kekuatan manusia tdk sebanding dg kekuatan manusia, kehebatan manusia sangat tdk sebanding dg kuasa Tuhan. Krna itulah mengandalkan manusia adalah sikap merendahkan Tuhan, menilai Tuhan tdk sanggup dan tdk mampu, ada Tuhan mengapa mengandalkan yg lain?

Selain mengandalkan manusia, kita bs terjebak dlm mengandalkan harta. Harta tentu pengaruhnya besar dlm hidup kita, namun tetaplah harta pny keterbatasan. Kita cenderung lebih mudah percaya pd apa yg ada di dpn mata, yg kelihatan. Tuhan tdk terlihat, itulah yg kadang membuat manusia tdk mengandalkan Tuhan. Manusia ingin yg cepat, Tuhan bertindak pd waktu-Nya sndri. Pertolongan Tuhan itu tdk membw resiko buruk, tp pertolongan manusia dan harta mengandung resiko, tdk ada kepastian di dlmnya bhw itu aman bagi kita.

About KoDan

Tuhan bicara pada kita melalui berbagai cara, salah satunya melalui tulisan renungan yang diinspirasikan melalui pewahyuan Firman Tuhan, dan lewat media ini, kerinduan saya kita makin mengenal Tuhan Yesus Kristus lebih intim lagi.
This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.