Penderitaan Dalam Tawa

DI 16052020

Amsal 14:13 KJV
Even in laughter the heart is sorrowful; and the end of that mirth is heaviness.

  • Bahkan di dalam tertawa hati itu adalah sedih berduka, dan akhir dari kegembiraan adalah kemalangan

Seharusnya dlm tawa itu ada sukacita, dlm kegembiraan ada kebahagiaan, tp mengapa ayat ini berkata beda ttg itu?

Mari pahami bersama scra bijak: kelahiran seseorg itu membawa sukacita terutama bagi orgtuanya, apa yg diharapkan menjd sebuah kenyataan. Tp kematian seseorg itu membawa dukacita dan kesedihan, terutama bagi org-org yg mengasihinya. Di sinilah kita pahami bhw kebahagiaan dlm hidup, sukacita yg dialami dlm hidup ini akan berujung pd tangisan perpisahan akibat kematian. Lahir membw sukacita, mati membw dukacita. Kita hrs paham bhw sepanjang hidup ini sukacita dan dukacita selalu dtg silih berganti spt ombak di tepi laut. Ombak bs dtg lalu surut, dtg lg dan surut lagi, ini terjd scra alamiah. Pesan Tuhan apa yg perlu kita cermati dr ayat ini?

Kita hrs sadar bhw hidup ini tdk selalu senang dan tdk selalu susah, utk segala sesuatu ada masanya. Skrg kita senang, kita hrs bersiap utk dtgnya kesusahan di wkt ke dpn. Ini jgn diartikan kita ‘mengimani’ akan hidup susah, bkn itu, tp sadarilah bhw dukacita, kemalangan, itu bagian dr hidup manusia, kita hrs siap ketika itu dtg dlm hidup kita. Jgn larut dlm sukacita yg berlebihan, demikian jg jgn larut dlm dukacita berlebihan, semua ada batas waktunya. Hidup ini bergejolak, tdk datar, jika kita salah menyikapinya maka waktu dukacita dan kemalangan itu bs bertahan lama, hiduplah bijak sehingga dukacita dan kemalangan itu bs cepat berlalu dan diganti dg sukacita dan kebahagiaan.

Apakah kita sdg mengalami dukacita dan kemalangan? Jgn terlalu larut di dlmnya, mulailah bertindak sesuai dg petunjuk firman Tuhan yg Dia berikan.

About KoDan

Tuhan bicara pada kita melalui berbagai cara, salah satunya melalui tulisan renungan yang diinspirasikan melalui pewahyuan Firman Tuhan, dan lewat media ini, kerinduan saya kita makin mengenal Tuhan Yesus Kristus lebih intim lagi.
This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.