Mati Sebagai Persembahan

DI 11082020

2 Timotius 4:6 KJV
For I am now ready to be offered, and the time of my departure is at hand.

  • Karena aku siap untuk dipersembahkan, dan saat kepergianku sudah dekat

Kematian itu sebuah misteri, waktu tepatnya tdk ada seorgpun yg tahu, namun bbrpa org diberi keistimewaan oleh Tuhan utk bs membaca tanda-tanda bhw kematiannya sdh dekat waktunya.

Kata ‘offered’ dlm bhsa aslinya adalah ‘spendoĢ„’ yg berarti darah yg dicurahkan dlm sebuah kematian yang tragis oleh krna Tuhan. Jd memang sbg seorg rasul yg saat itu pengajaran ttg Kristen mengalami bnyk penentang dan nyawa hrs siap dikorbankan, Paulus memahami benar resiko itu dan dia siap utk menghadapinya, tdk menghindar apalg mundur dr tugasnya sbg rasul. Ini jg yg bnyk kita temui dlm diri org-org yg dulunya bkn Kristen namun akhirnya bertobat dan percaya, mrka tahu benar resikonya dan tetap mempertahankan imannya sampai mati. Sekalipun kehilangan nyawa, namun mrka menerima keselamatan kekal.

Bgmna dg org-org Kristen yg lain? Bnyk yg takut mengalami penderitaan karena iman pd Tuhan. Ada yg malah meninggalkan Tuhan dan mengikuti tuhan yg lain. Hidup sbg Kristen memang tdk mudah, akan ada penderitaan dan hrs siap berkorban nyawa. Tdk melulu bcra ttg berkat dan kelimpahan. Ini spt 2 sisi mata uang yg hrs dipahami dg benar, ada kebahagiaan tp jg ada penderitaan sbg org Kristen. Nikmatilah keduanya krna tetap ada penyertaan Tuhan ketika kita menjalaninya, selama kita hidup benar dan hubungan kita dg Tuhan tetap baik. Mattipun itu sebuah keuntungan, mati krna Kristus, bkn mati krna dosa dan kesalahan yg kita perbuat.

Matilah sbg seorg Kristen yg mempertahankan iman sampai akhir nafas kita, berani menghadapi kematian krna keselamatan kekal akan menjd milik kita.

About KoDan

Tuhan bicara pada kita melalui berbagai cara, salah satunya melalui tulisan renungan yang diinspirasikan melalui pewahyuan Firman Tuhan, dan lewat media ini, kerinduan saya kita makin mengenal Tuhan Yesus Kristus lebih intim lagi.
This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.