DI 04112020
Yehezkiel 24:16-18
“Hai anak manusia, lihat, Aku hendak mengambil dari padamu dia yang sangat kaucintai seperti yang kena tulah, tetapi janganlah meratap ataupun menangis dan janganlah mengeluarkan air mata.
Diam-diam saja mengeluh, jangan mengadakan ratapan kematian; lilitkanlah destarmu dan pakailah kasutmu, jangan tutupi mukamu dan jangan makan roti perkabungan.”
- Pada paginya aku berbicara kepada bangsa itu dan pada malamnya isteriku mati. Pada pagi berikutnya aku melakukan seperti diperintahkan kepadaku.
Menjd nabi yg diutus Tuhan memang suatu kehormatan dan sekaligus hrs siap mengalami hal-hal yg tdk diharapkan, spt nabi Yehezkiel dlm kisah ayat ini.
Isteri yg dicintai mati demi menjd sebuah perlambang akan kejatuhan Yerusalem, tentu ini suatu hal yg tdk mudah diterima oleh nabi Yehezkiel, ditambah dg perintah tdk boleh meratapi kematian istrinya. Apakah Tuhan kejam? Yg hrs kita pahami adalah ketika seseorg dipilih utk diutus sbg seorg nabi bagi bangsanya, dia hrs siap berkorban apa saja, bahkan nyawanya sndri, hrs siap melalukan apa saja yg Tuhan suruh walaupun itu sesuatu yg aneh bahkan memalukan. Semua demi firman Tuhan yg disampaikan itu bs lebih dipahami oleh org yg menerima dan jg mendengarnya. Jd memang tdklah mudah menjd pembawa pesan Tuhan, apalg bila isi pesan-Nya ttg sesuatu yg buruk akan terjd, org lain bs menolak bahkan menganiayanya.
Knpa ada org-org Kristen yg nasibnya tdk ‘beruntung’? Salah satu alasannya adalah krna Tuhan menggunakan keadaan mrka utk berbicara ttg sesuatu kepada kita. Jd blm tentu keadaan mrka itu krna akibat dosa, kebodohan atau kelemahan mrka, ada yg memang disebabkan oleh Tuhan. Demikian jg dg para pengkhotbah dan pemberita firman Tuhan, ada yg (maaf) cacat fisik, mengalami mgkin spt yg Yehezkiel alami, dsbnya. Jgn kita berpikir apa yg mrka sampaikan itu sekedar hasil kemampuan mrka berkhotbah dan menyusun renungan, terkadang apa yg buruk dlm hidup mrka justru Tuhan ingin dia gunakan sbg bahan khotbah atau renungannya: ttg kegagalan, ketdk sempurnaan, dsbnya.
Hargailah para pemberita firman Tuhan, jgn hanya melihat sisi enaknya dr profesi mrka, krna setiap profesi memiliki resiko dan pengorbanan yg hrs siap dilakukan demi profesinya menjd maksimal daya kerjanya.