DI 14022022
Yakobus 2:1-4
Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.
Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk,
dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: “Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: “Berdirilah di sana!” atau: “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!”,
bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?
Dlm lingkungan dan komunitas di mana kita beraktivitas, pasti kita temui bnyk perbedaan dr org-org yg ada di dlmnya, termasuk dalam hal kondisi ekonomi mrka.
Iman dan memperlakukan org lain, ternyata keduanya berkaitan. Beriman pd Tuhan bukan hanya masalah keselamatan dan percaya kita pd Tuhan, tp bgmna menyatakan iman kita di dlm hal pergaulan kita dgn sesama. Knpa hal ini dikaitkan dg iman, bukankah iman itu ialah hal yg arahnya ‘ke atas’ saja? Beriman itu kan ke arah Tuhan, bukan ke arah ‘horizontal’ atau ke arah sesama? Beriman pd Tuhan memang arahnya ke Tuhan, berkaitan dgn hubungan pribadi kita dgn Tuhan. Kadang iman sering kita kaitkan saat kita menghadapi masalah & situasi yang rumit, masalahnya adalah Tuhan melihat hati dan pikiran kita, kalau kita dalam pergaulan, membeda-bedakan org dari kaya atau miskinnya, itu berarti kita sudah menjadi ‘hakim’ bagi org lain, artinya mengambil porsi atau posisi yang seharusnya itu adalah posisi Tuhan, artinya kita menyamakan diri sejajar dgn Tuhan, ‘sama-sama’ berhak menghakimi manusia, mana mgkin kita beriman pd pribadi yg sejajar dgn kita? Itulah sebabnya kita tidak boleh memperlakukan org berdasarkan kaya atau miskinnya.
Org yg miskin, yang susah, yang hidup selalu berkekurangan, yAng ada dlm komunitas kita, jgn pandang mrka sbg beban, tp lihatlah mrka sbg org-org yg Tuhan kirim utk membukakan kita kesempatan utk mempraktekkan kasih & firman Tuhan, kita menjadi perpanjangan dari tangan Tuhan utk menjangkau mrka, org-org yg melatih kita untuk sabar, untuk tdk mudah memandang rendah org, untuk belajar selalu menjd berkat, dsbnya. Memang kadang tidak membuat kita nyaman krna ada sebagian dr org-org itu berusaha menggunakan keadaan dirinya yg miskin itu utk ‘meminta-minta’ dan mengambil keuntungan dr kebaikan kita, tapi tentunya dlm sebuah komunitas ada aturan yg disepakati bersama, kitapun hrs siap utk menerima resiko saat kita melakukan apa yg baik pd org lain. Tp bukankah kita ini hanya org yg ‘menyalurkan’ berkat Tuhan, artinya yg kita berikan pd mrka adalah milik Tuhan, yang penting adalah kita taat pd firman Tuhan dlm hal hubungan kita dgn sesama. Kebaikan yg kita lakukan mgkin tdk mendpt balasan dari mrka, tp Tuhan mencatat dan akan memberi upah atas perbuatan baik kita.
Beriman dan memperlakukan sesama, 2 hal ini hrs berjalan beriringan sesuai dgn firman Tuhan, jgn kita memperlakukan org lain dgn memposisikan diri kita sbg hakim atas mrka.