DI 05012023
2 Timotius 4:14
Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya.
Tulisan rasul Paulus ini kelihatannya tdk rohani, seharusnya dia berkata supaya org yang jahat terhadapnya biar Tuhan jamah dan bs bertobat, itu kan yg bagus dan tepat?
Apakah itu salah? Jgn terlalu gegabah menilai hanya dr cara pandang kita saja. Rasul Paulus tentu seseorg yg sangat paham ttg hukum dan Taurat, yg dia tuliskan itu sesuatu yg sesuai dgn firman Tuhan: dan dari pada-Mu juga kasih setia ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya (Mazmur 62:12). Ini juga bersesuaian dgn sifat keadilan Tuhan bhw Dia akan membalas org sesuai dgn perbuatannya, apakah perbuatan baik atau yg jahat. Berharap org yg menjahati kita supaya Tuhan jamah dan bs bertobat, itu jg benar. Tapi kita hrs sadar juga bhw nantinya ada org yg masuk surga yaitu org jahat yg akhirnya bertobat, tp ada jg yg masuk neraka artinya org jahat yg tdk bertobat. Bukan mendukung teori ttg dari masa diciptakan, ada org yg telah ditentukan masuk surga atau malah masuk neraka, kalau teori ini benar, utk apa kita melakukan penginjilan? Utk apa Yesus datang ke dunia utk menebus dosa manusia? Jd masuk tidaknya seseorg ke surga itu ditentukan bgmna cara hidup seseorg itu ketika hidup di dunia ini. Tiap org punya kesempatan yg sama utk dapat masuk surga, tp kalau kesempatan itu tdk mau diambil, maka hilanglah peluang utk masuk dlm surga.
Kadang apa yg spt rasul Paulus tuliskan ini ada benarnya jg, dgn seseorg mengalami hukuman Tuhan, mgkin itulah jalan dia menuju pertobatan dan kembali pd Tuhan. Ada org yg hampir mati baru sadar akan pertobatan, dibuat bangkrut & sakit parah, baru mau bertobat. Jadi jgn mudah utk menghakimi ketika ada seseorg yg sedang sakit hati berkata supaya org yg menjahatinya mengalami hukuman Tuhan, ini beda dgn sikap mengutuk seseorg karena dasar dendam, jadi biarkanlah seseorg meluapkan emosinya spya dia bs lebih tenang, nantinya setelah pikirannya kembali jernih, kalau ucapannya itu salah, masih ada kesempatan utk minta ampun pada Tuhan. Kita jgn mudah memberi label dr sikap seseorg, tapi teruslah siap utk memberikan nasehat dan koreksi, mgkin saat itu dia menutup hatinya utk nasehat kita karena sedang sakit hati, tp ketika nantinya dia mulai tenang, kembali kita berikan nasehat dan mungkin kali ini dia mau dengar & meresponinya dgn benar. Ucapkanlah sesuatu bukan berdasarkan suasana emosi kita, tp hrs berdasarkan pd kebenaran firman Tuhan, walau itu kelihatannya tdk rohani di mata orang lain.
Tetap miliki pikiran yg jernih sekalipun hati kita sedang tersakiti oleh perbuatan org lain, tidak mudah memang, tapi itulah tugas kita utk terus menjaga hati dan pikiran kita tetap murni.