Sadar Kita Ini Hamba

DI 06012025

Lukas 17:8-9 (TB)
Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?

Kadang kita lupa bhw ada rangkap status kita di hadapan Tuhan, kadang yg banyak ditonjolkan adalah status spt bapa dengan anaknya, tapi status hamba dan tuan tidak begitu dipedulikan.

Bahkan org yg melayani sekalipun, belum tentu dia punya jiwa seorg hamba, prinsip yg di pikirannya itu layaknya karyawan dgn bosnya, kerja nantinya dapat gaji, ada hak yg dilindungi. Akibatnya hubungan dengan Tuhan bersifat transaksional belaka, kalau melayani, nanti dapat upah dr Tuhan, tidak heran kalau jenis pelayanan yg ada ‘PK’ nya lebih diminati drpd yg sukarela. Karena dpt ‘PK’, merasa diri pantas dihargai, mendapat perlakuan istimewa, punya ‘nilai jual tinggi’. Contohnya, ada oknum pemusik yg ketika khotbah disampaikan, lebih memilih untuk ngobrol dgn sesama pemusik, perkiraan di waktu khotbah akan selesai, baru kembali ke dekat mimbar. Tentu ini hanya ‘oknum’, bs dimengerti kalau kasusnya itu terjadi di saat sudah ibadah ke-2 dgn khotbah yang sama, tentu bisa dimaklumi karena sudah mendengar khotbah ibadah pertama.

Sbg hamba dari Tuhan, tujuan kita adalah menyenangkan dan memuaskan hati-Nya, dlm ayat ini jelas digambarkan situasi dari seorg pelayan, baru boleh makan setelah tuannya selesai, tdk ada tugas lain. Zaman skrg mgkin sedikit berbeda, seorg PRT bisa saja ngomel-ngomel karena tugas terlalu banyak, zaman dulu hamba tdk layak untuk protes, jgn sampai tuannya marah. Apalagi mengharapkan apresiasi dr tuannya, tidak diberi ucapan terimakasih tetapi tetap hrs giat bekerja dan melayani. Beda dg zaman skrg, kurang dihargai ya pergi atau keluar saja, cari tempat lain yg mau menghargai, maka jgn heran, ada oknum pelayan yang bertanya lebih dahulu: “Berapa PK-nya?” Di titik inilah yg dilakukan bukan pelayanan tp layaknya karyawan yg hanya mau bekerja jika gaji yg diterima itu sesuai. Fokusnya bukan Tuhan lagi, tetapi uang dan uang.

Layanilah Tuhan dgn motivasi yg benar, di dalam pengabdian diri kita pd Tuhan, hrs didasari oleh kasih kepada-Nya, tidak dgn sengaja memikirkan upah, karena percaya Tuhan pasti berikan.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.