Menabur dan Menuai

DI 15012026

Yohanes 4:37-38
Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.
Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

Menuai yg org lain tabur, bukankah ini tidak sejalan dgn hukum tabur tuai? Orang yang menabur, dialah yg berhak menuai. Dalam pengertian umum berlaku spt itu.

Hal di atas hanya berlaku utk semua yang dikerjakan secara perorangan, dia menabur maka dia berhak menuai. Namun utk suatu yg dikerjakan secara bersama-sama/lebih dr 1 org dan dlm jangka waktu panjang, yg terjd adalah spt org dlm lomba lari estafet, ada 4 pelari yg bergantian berlari dan yang terakhir akan menentukan kemenangan yg diraih. Artinya itu kemenangan kelompok, bukan kemenangan perorangan. Dalam hal ini maka ada yg menabur, org lain menuai, ini adil karna hasilnya ialah milik bersama. Pemberitaan Injil telah Yesus lakukan dan hasilnya terlihat pd zaman para rasul, ada banyak org yg percaya, tidak bs dikatakan bhw ribuan org bertobat hanya hasil dari khotbah Petrus di hari Pentakosta, org-org ini sebagian pasti telah mendengar Injil yg Yesus beritakan.

Dlm banyak hal lain, misalnya pelayanan di gereja, tdk layak disebutkan keberhasilan yg dicapai hanya karena figur pendeta yg berkharisma saja, itu semua hasil semua pelayan Tuhan di gereja itu, mulai dr yang di atas panggung mimbar, hingga mereka yg beres-beres dan bersih-bersih, semua menabur di pelayanan, dan hasilnya tentu milik bersama. Kadang kita hanya menjadi penerus, org lain telah merintisnya dahulu, dan mgkin saja org lain setelah kita yang menuai hasilnya. Di sinilah kita perlu untuk menunjukkan kerendahan hati, walau BKN kita yg menuai, tp bersyukurlah Tuhan beri kita kesempatan utk berpartisipasi dalam apa yg dilakukan. Kembali pd pemikiran yg kita pilih: ingin nama Tuhan dimuliakan kah atau nama pribadi kita? Kadang visi dapat terselip ambisi yg tdk murni.

Lakukanlah yg jadi bagian kita, entah untuk menabur, meneruskan, atau yg menuainya, bersyukurlah Tuhan masih memakai kita, itu satu kesempatan yang berharga.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.