Harus Kena di Hati

DI 24072026

Mazmur 51:19 ILT3
Kurban bagi Elohim adalah roh yang remuk, hati yang remuk dan patah, ya Elohim, tidaklah Engkau pandang hina.

Pertobatan hrs kena di hati, inilah yg sangat membedakan antara pertobatan sejati dgn pertobatan yg pura-pura, tp kadang sulit utk kita membedakannya.

Manusia bs menipu manusia dlm hal unjuk ekspresi penyesalan dan pertobatan. Inilah yg membuat org sulit utk mengampuni, ini benar dia menyesal atau pura-pura? Hanya Tuhan yg tahu persis isi pikiran dan hati dr seseorg, benarkah dia menyesal dan lanjut bertobat? Dan memang pd realitanya, akan ada saja org yg katanya menyesal tp tetap berbuat kesalahan dan dosa yg sama, lebih parahnya lagi itu dilakukan pd org yg sudah memaafkannya sebelumnya. Tak heran jika Yesus berfirman: Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali (Matius 18:22). Berarti ada kemungkinan seseorg mengulangi 490 kali dosa yg sama, bahkan pd org yg sama juga. Begitu sulitnya seseorg utk bertobat secara sungguh-sungguh, butuh waktu dan tentunya keseriusan.

Kenapa sulit bertobat? Karena blm sampai kena di hati. Pertobatan Daud terjd karena hatinya remuk dan patah, menyadari bahwa dosa telah sangat merusak dirinya. Akibat yg hrs dia tanggung sangat berat, dan cuma Tuhan yg bisa meringankannya. Kadang org berpura-pura bertobat karna takut dihukum saja, takut dilaporkan ke pihak berwajib, dia takut dipecat, takut malu di depan umum, jd bukan menyesali perbuatannya. Hatinya tdk tersentuh oleh pemberian maaf dr org lain, akibatnya kembali mengulangi perbuatan yg sama bahkan terhadap org yg sama. Suami yg melakukan kdrt misalnya, sdh dimaafkan hari ini, tp besok mengulanginya lagi. Belum kapok sebelum ‘dipukul’ Tuhan, maunya hrs sampai ditekan Tuhan habis-habisan, baru mau bertobat. Inilah watak manusia, watak hasil kedagingan manusiawinya, tersudut dulu baru menyerah.

Jgn permainkan pemberian maaf seseorg, itu sesuatu yg ‘mahal’ dari dia, tunjukkanlah penyesalan dan pertobatan yg sejati, Tuhan menghargainya.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.