DI 27072026
Matius 25:15, 17
Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
3 orang hamba diberikan talenta sesuai dgn kemampuan masing-masing, tetapi terlihat perbedaan yg mencolok, pelajaran apa yang bs kita temukan?
Walaupun ini terbatas hanya perumpamaan saja, tetapi ada nilai yg ingin Yesus beritahu pd kita semua. Biasanya yg dibahas hanya hamba yg diberi 5 dan 1 talenta saja, tetapi kita fokus pd hamba yg menerima 2 talenta ini. Karena diberikan sesuai kemampuan, ini berarti hamba yg diberi 2 talenta ini berada pd level menengah: tdk buruk tp tdk terlalu hebat jg, biasa-biasa saja. Kalau karyawan di perusahaan, org ini termasuk orang ‘lama’ yg prestasi kerjanya biasa saja, tp memiliki nilai plus, spt setia dan patuh. Dan org spt ini harusnya punya kerendahan hati, rajin & tekun, serta setia. Tdk iri dgn org lain yang lebih mampu, hebat, dsbnya, tetapi jg tidak menurunkan performa kerjanya atau berani bersikap tdk baik terhadap pemimpinnya. Di sinilah nilai positif yg bisa kita pelajari yaitu selama kita diberikan kepercayaan, lakukan yg terbaik sesuai kemampuan yg kita miliki.
Sebagian org berada di level menengah ini, tdk terlalu hebat dan menonjol, tdk jg butik perfomanya. Godaan terbesar adalah iri dgn yg lebih hebat dan berusaha menyingkirkan dgn cara apapun. Bs menerima ‘porsi’ yang Tuhan berikan sbg hak penuh Tuhan, adalah suatu sikap rendah hati dan bersyukur atas anugerah yg Tuhan beri. Tuhan mengangkat derajat seseorg tdk selalu utk menjd yang nomor 1. Dalam Alkitab, Yusuf anak Yakub, Daniel, diangkat derajatnya oleh Tuhan, tapi bukan yg tertinggi atau nomor 1. Mereka ini org nomor 2 di kerajaan, tp mereka kerjakan kepercayaan yg Tuhan berikan. Mereka tdk berusaha kudeta atau menggulingkan raja yg berkuasa, tp mengabdi dg sepenuh hati. Tdk menjd yg nomor 1, tetaplah bersyukur, mgkin skrg belum saatnya, tetap setia dan selalu lakukan yg terbaik. Ini pelajaran yang bs kita ambil dr perumpamaan ini.
Kita yg berkemampuan di level ‘menengah’ hrs tetap tunjukkan performa yg baik, tidak perlu iri dgn org yg lebih hebat dr kita, tetapi belajarlah dr mereka ttg apa yg berkualitas.