DI 27072016
Pengkhotbah 1:18 NKJV
For in much wisdom is much grief, And he who increases knowledge increases sorrow.
- Karena di dalam banyak hikmat adalah banyak kesedihan, dan dia yang meningkatkan pengetahuan meningkatkan kepedihan
Membaca ayat ini rasanya membingungkan, krna ini diucapkan oleh org paling berhikmat di zamannya, bkn ucapan ngawur org tdk berpendidikan, tp ucapan seorg raja yg dikagumi seluruh dunia, diberi hikmat oleh Tuhan.
Di dlm bnyk hikmat adalah bnyk kesedihan, aneh, bknkah hikmat bs menolong org yg sedih keluar dr kesedihannya? Mari kita sdkit membandingkan dg seandainya kita org yg sukses dan kaya, dtg ke suatu daerah yg miskin dan penduduknya malas, apa yg kita rasakan? Geregetan krna sbnarnya jika tdk malas, penduduk daerah itu bs keluar dr kemiskinannya. Tp org miskin yg melihat sesama org miskin tdk merasa geregetan, yg ada sama-sama mgkin pasrah terima nasib saja. Org yg berhikmat melihat kondisi org yg tak berhikmat mgkin geregetan, knpa tdk berusaha memperoleh hikmat dan membuat hidupnya jauh lebih baik, malah trs tinggal dlm kebodohannya. Satu sisi merasa kasihan, sisi lain ‘marah’ dan kecewa.
Utk mengerti sesuatu kadang perlu pengorbanan, dr konglomerat dibuat jd melarat spya bs menghargai harta yg dipercayakan Tuhan. Atau krna kurang mengasihi anak, dibuat anaknya meninggal, baru sadar betapa pentingnya memberi kasih sayang pd anak yg cukup.
Dunia kedokteran maju pesat, tp jenis penyakit makin aneh-aneh dan penyakit jenis baru muncul. Komunikasi dlm keluarga bs terganggu krna masing-masing sibuk dg gadgetnya, ‘kegilaan’ bermain games berakibat negatif, bnyk pengetahuan justru membuat kriminalitas makin ‘canggih’ modusnya.
Semua kembali pd diri kita, hikmat dan pengetahuan kita perlu, tp jgn sampai justru salah menggunakannya, ini membuat bnyk kepedihan dan kesedihan. Bijaklah menggunakan hikmat dan pengetahuan yg kita miliki utk membuat hidup penuh kebahagiaan dan menolong bnyk org.