Kepedihan Hati

DI 09012026

Amsal 14:10 ILT3
Hati mengenal kepedihannya sendiri dan orang asing tidak dapat turut merasakan sukacitanya.

Kepedihan hati, suatu rasa spt daging yang tertusuk pisau, antara benci tp sayang, tdk enak jika diingat, semua org pasti pernah merasakannya.

Kita terkadang ingin dimengerti org lain di saat kita merasakan kepedihan hati. Mgkin di saat kita kehilangan org yg terkasih, saat dikhianati, diselingkuhi, ‘ditikam’ oleh orang yg terdekat kita, dsbnya. Rasanya spt mau mati saja, hidup spt sudah tdk indah lagi & mgkin lebih baik diakhiri. Pengalaman yg terlalu pahit bukan hanya memunculkan 1 trauma tp juga menguras semangat hidup, tak jarang org menjadi ‘dingin’ dgn orang di sekitarnya, masih ‘hidup’ tp sebenarnya itu sdh ‘mati’. Sulit utk diajak komunikasi dan memilih menyendiri. Mgkin kita pernah ada di situasi ini dan mengerti bgmna rasanya hati yg pedih. Namun benarkah orang lain tdk turut bs merasakannya? Dalam ayat ini kita temukan kata ‘orang asing’ yg bs kita maknai org yg tdk ada hubungan apapun & mgkin hanya bertemu sesekali.

Org yg pernah mengalami pasti tahu rasa yg diakibatkan kepedihan hati, jd tentu pny rasa empati. Kata empati memiliki arti bhw punya kemampuan utk mengerti dan share atau berbagi perasaan dari yang lain. Jadi org lain bs turut merasakan perasaan kita karena mereka berempati, pernah alami & tahu bgmna rasanya. Hanya mereka yang punya hubungan dekat dgn kita, bukan yg hanya sekedar kenal saja, tp berinteraksi secara trs menerus dgn kita dalam jangka waktu yg lama, pasti bs berempati dengan kita. Demikian jg kita jg bs berempati dgn perasaan org lain karena kita pernah alami pengalaman yg sama. Butuh sandaran di saat hati kita pedih, pundak utk kita dapat dgn bebas menangis mengeluarkan rasa pedih dlm hati, karena tentu tdk baik kalau memendam kepedihan terlalu lama dalam hati kita.

Milikilah rasa empati yg tulus sehingga bs memberi penghiburan dan kekuatan pada mereka yg hatinya sedang pedih, tunjukkan bhw kita dapat diandalkan.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.