Mendengar Dengan Gembira

DI 02022026

Markus 12:37 ILT3
Jadi, Daud sendiri menyebut-Nya sebagai Tuhan, dan bagaimana mungkin Dia adalah anaknya?” Dan kerumunan orang banyak itu mendengarkan Dia dengan gembira.

Kerumunan org mendengar apa yg Yesus katakan saat itu, dengan gembira, dengan penuh minat, layaknya mendengar sebuah kabar sukacita untuk semua org.

Perkataan Yesus zaman ini terwakili oleh renungan, khotbah, pembacaan Alkitab, yg semuanya mudah diperoleh dan didengar. Tinggal buka sosmed, khotbah dari hamba Tuhan manapun bs kita dapatkan dg cepat, bahkan yg sdh bertahun-tahun lalu. Alkitab ada di hp kita berupa aplikasi, bahkan radio rohani jg masih bersiaran. Sebagian orang berkesempatan mendalami Alkitab melalui program sekolah teologia. Apa yg kita bisa rasakan saat mendengar perkataan Yesus melalui sarana yg disebutkan tadi? Apakah spt org-org dlm ayat ini? Atau tdk antusias dan cenderung merasa biasa saja sebagai sebuah rutinitas harian? Kadang sesuatu yg mudah didapat dan dijangkau itu menjd kurang berharga dibandingkan yg terbatas dan susah didapat. Kisah bbrpa tahun lalu ttg Alkitab yg dimasukkan ke negara yang ketat menjd suatu yg sangat berharga.

Setiap hari kita makan nasi, tapi begitu di dlm situasi sulit pangan, nasi jd makanan yg ‘mahal’ dan berharga. Seberapa Alkitab itu berharga bagi kita? Itu bergantung pada apa pengaruhnya Alkitab bagi hidup setiap kita. Dengar khotbah di gereja masih dapat merasakan gembira dan antusias? Atau yg terjd malah berharap khotbah jgn panjang dan kelamaan. Memang kadang khotbah terasa membosankan karena bbrpa faktor, ada yg suka pengkhotbah tertentu, yg suka humor diselipkan dlm khotbah, atau yang berkhotbah nadanya datar-datar saja yang mengundang rasa kantuk datang. Kita hrs mulai belajar utk menghargai firman Tuhan bkn dr siapa atau cara penyampaiannya, tp memperhatikan isi khotbahnya. Membaca Alkitab jgn saat badan lelah, sehingga jadi ‘obat tidur’ yg ‘manjur’, baca Alkitab malah ngantuk, ada yg salah dgn itu.

Dengarkan perkataan Yesus dgn gembira, penuh minat utk memahaminya, cintailah firman Tuhan setiap waktu, jgn terjebak di dalam rutinitas yang menjd sebuah ritual rohani semata.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.