Memberikan Nyawa

DI 19102026

Yohanes 15:13
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Ayat ini memang terasa berat utk menjadi sebuah kenyataan, sulit utk mengerti dan memahami bgmna memberikan yg paling berharga utk org yg tdk sedarah dg kita.

Kalau seorg ayah atau ibu mengorbankan nyawa utk melindungi anak-anaknya, satu hal yg mgkin bs dipahami semua org, tapi memberikan nyawa bagi sahabat, sesuatu yg sulit diterima, sebaik apapun sahabat, dia bukan sedarah. Lalu bgmna dg suami dan istri, bukan sedarah jg, kan? Ini beda, suami dan istri dipersatukan pernikahan, dua menjd satu, meskipun bkn sedarah, tp menjd satu daging (Kejadian 2:24). Hal ini memang tdk mudah dilakukan, tapi Tuhan menempatkannya sbg perbuatan kasih yg paling terbesar, ini tdk bs dibantah. Pasti setiap org berpikir matang sblum memilih utk memberikan nyawanya, apakah perlu sampai demikian? Di zaman skrg ini kita perlu waspada, bnyk org yg kelihatannya perlu ditolong pdhal itu modus kejahatan, perlu waspada, tp jgn sampai kita tertahan utk menolong.

Memberi nyawa dlm terjemahan lain dpt diartikan mempertaruhkan nyawa. Hal ini bs kita pahami dr ayat ini: Akulah gembala yang baik. Gembala yg baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yoh 10 :11). Memberikan nyawa di sini diartikan sbg memberi hidup, bs dlm arti memberi nyawa, bs jg mendedikasikan hidup bagi domba-dombanya. Mgkin hal yg bisa kita lakukan dgn lebih sederhana adalah dgn melakukan donor darah, dalam darah ada nyawa, mendonorkan darah bs jg diartikan sbg memberi nyawa bagi org lain. Ingatlah bhw ini kasih yg terbesar, berarti ada bnyk tindakan kasih yg lain, ini hanya pd kasus tertentu saja. Tp kalau diperlukan, kita hrs melakukannya. Contoh lain adalah orang yg menjd martir, memberikan nyawa demi keselamatan bnyk org melalui Injil yg bisa diberitakan pdhal sbelumnya tidak.

Memberikan nyawa sbg bentuk kasih tdk selalu diartikan rela mati bagi org lain, tapi pd kasus tertentu, kita hrs melakukannya dgn rela hati.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.