Merasa Malu

DI 10062020

Lukas 13:17

  • Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

Kalau kita dijelaskan org lain ttg kesalahan yg kita buat dan ternyata itu benar, apakah kita masih bs merasa malu atau malah berusaha membela diri utk menutupi kesalahan kita?

Gengsi dan ego manusia seringkali menjd penghalang bagi seseorg utk dg rendah hati mengakui kekeliruan dan kesalahan yg dia perbuat. Dinasehati bkn berarti kita menjd org bodoh, direndahkan atau hendak dijatuhkan, dipermalukan di dpn umum. Kadang nasehat ’empat mata’ tdk cukup utk membuat kita sadar dan malu dg apa yg kita telah pikirkan, perbuat dan kita katakan. Kita merasa malu itu karena kita jujur terhadap diri sndri, mengakui bhw yg org lain katakan itu benar adanya. Di sinilah kita perlu kedewasaan berpikir dan bersikap, tdk berprasangka negatif dg perkataan org lain saat menegur kita, menggunakan pikiran kita utk mengevaluasi diri dan menemukan apa yg salah.

Sbg manusia kita masih bs berbuat salah dan kekeliruan, jd wajar saja jika suatu saat hal itu terjd pd diri kita. Bersyukurlah Tuhan masih tegur kita melalui berbagai macam cara, termasuk melalui koreksi yg org lain berikan pd kita. Ini lebih baik drpd tdk ada yg mengoreksi dan nantinya malah kita melakukan hal-hal yg jauh lebih besar kesalahannya dan fatal akibatnya. Menegur ketika org lain berbuat salah adalah satu wujud kasih yg nyata. Dlm mengasihi jgn pernah ada kepura-puraan di dlmnya, semua hrs transparan dan tujuannya utk saling membangun. Kasih bkn kompromi dg kelemahan org lain, tp justru kasih seharusnya memperbaiki kelemahan yg dimiliki org yg kita kasihi.

Masihkah kita memiliki rasa malu saat kita ditegur Tuhan? Ditegur berarti diperhatikan, diperhatikan berarti masih disayang Tuhan.

About KoDan

Tuhan bicara pada kita melalui berbagai cara, salah satunya melalui tulisan renungan yang diinspirasikan melalui pewahyuan Firman Tuhan, dan lewat media ini, kerinduan saya kita makin mengenal Tuhan Yesus Kristus lebih intim lagi.
This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.