Menjadi Musuh?

DI 29012026

Galatia 4:16
Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?

Apa sikap kita saat mendengar kebenaran ttg sesuatu? Memperhatikan atau cuek? Ini bergantung pd kebenaran personal yg kita pegang.

Contohnya, teman kita yg berjemaat gereja beda dgn kita, berbeda doktrin ttg sesuatu, dlm satu kesempatan ngobrol, jelas terlihat perbedaan pemahaman ttg sesuatu, sikap kita bgmna? Kadang beda doktrin berubah jadi beda persaudaraan dlm Tuhan. Hanya yg sedoktrin diakui sbg sesana sdr seiman, bahkan ada yg menganggap ‘musuh’ yang sebaiknya dijauhi saja. Bukankah mereka yg percaya pd Tuhan Yesus Kristus adalah kesatuan sbg tubuh Kristus? Beda doktrin jgn sampai memecah belah kesatuan yang ada dlm tubuh Kristus di dunia ini. Lakukan saja apa yg kita yakini sbg doktrin, apakah org lain tdk melakukannya, itu urusan yang pribadi antara dia dgn Tuhan, kita bukanlah Hakim yang berhak mengadili, serahkanlah itu pd Tuhan Sang Hakim Yangadil, jangan mencuri posisi Tuhan.

Ketika kita ditegur dan dijelaskan lakukan kesalahan, apakah kita menerimanya dgn kerendahan hati? Kita kadang gengsi utk mengakuinya, dan curiga org itu ingin utk menjatuhkan kita di depan umum. Alkitab menjelaskan bahwa menegur itu dilakukan spt ini: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan (Matius 18:15-16). Tetap jaga martabat orang yang kita tegur, kalau kesalahannya itu sesuatu yg bersinggungan dgn kepentingan umum, bawalah org lain utk menjd saksi, niatnya bukan utk menjatuhkan tp menyadarkan saja.

Menegur atau ditegur, lakukan dgn sikap hati yg benar, kita belum sempurna, pasti akan bisa buat kesalahan di satu waktu, tp jgn menutup hati pd teguran yang memang benar dan terbukti.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.