DI 24052018
Ayub 15:5
- Kesalahanmulah yang mengajar mulutmu, dan bahasa orang licik yang kaupilih.
Catatan yg paling penting yg hrs diperhatikan oleh setiap org yg membc kitab Ayub adalah menyadari bhw perkataan yg diucapkan teman-teman Ayub sebaiknya tdk dianggap sbg sesuatu yg benar, krna Tuhan sndri berkata bhw mrka berkata yg salah ttg Tuhan dan Ayub (Ayub 42:7).
Ayub sdg diuji Tuhan dan iblis diberi kesempatan sbg pelaksananya, tp Elifas, teman Ayub menganggap Ayub justru mengalami semuanya krna dihukum Tuhan akibat kesalahannya. Itulah penglihatan manusia yg tdk bs melihat hati, seringkali komentar yg dikatakan justru bknlah sebuah hal yg benar.
Brpa bnyk dr kita yg awalnya bermaksud baik ingin menghibur org yg sdg kesusahan, justru berbalik menghakimi org itu dg komentar yg salah dan membawa-bawa Tuhan di dlmnya. Rasa simpati berubah menjd sebuah kearoganan krna menunjukkan diri sndri benar dan org lain salah. Justru yg terjd kita menambah beban sengsara org yg kita komentari, yg awalnya ingin kita semangati justru menjd bertambah lesu dan kehilangan semangat. Bknkah ini tindakan yg justru membuat org lain melakukan dosa? Ungkapan Ayub yg menarik perkataanya yg salah ttg Tuhan (Ayub 42:3) pdhal awalnya Tuhan sndri mengakui Ayub tdk bersalah dlm perkataannya (Ayub 2:10).
Dosa besar jika justru komentar kita memancing org berbuat dosa pd akhirnya. Maksud baik berubah menjd sebuah celah bagi iblis utk bekerja ekstra. Jadilah teman yg memang teman, berkomentar tentu boleh, tp jgn sampai menghakimi dan mengatakan yg salah, seolah-olah spt Tuhan yg tahu segala sesuatunya. Kita diingatkan spya berhati-hati dlm menasehati, bagian kita bkn menghakimi tp membangkitkan semangat dan menunjukkan apa yg benar shga org yg kita nasehati bs menyadari kesalahannya, bertobat dan terhibur. Jgn merasa paling tahu semuanya spt Tuhan. Ingatlah bhw kita jg manusia yg penuh dg kelemahan, kalau kita menghakimi maka kitapun akan dihakimi