Jangan Main-Main

DI 13022018

Yeremia 7:9-10
Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal,

  • kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini!

Sangat salah menganggap gereja sbg tempat yg kudus. Mgkin Anda marah dg kalimat ini, tp coba pahami dulu setelah Anda membaca keseluruhan pasal di atas.

Yg membuat sebuah tempat menjd kudus adalah kehadiran Tuhan di tempat itu, bkn siapa atau megahnya tempat itu. Bisa saja rumah seseorg itu justru kudus dibandingkan gereja di mana dia berjemaat. Knp bs tdk kudus? Krna org yg beribadah di dlmnya mendua hati: hidup dlm dosa tp masih dtg beribadah dg pikiran seolah-olah tdk berdosa. Mgkin ini terlihat vulgar tp coba kita berpikir jujur: yg dtg dlm ibadah mgkin ada seorg suami yg punya ‘simpanan’, ada org yg terlibat okultisme, ada koruptor, mgkin jg ada bnyk penipu bisnis yg beribadah di situ. Inilah gambaran yg dimaksud ayat yg kita baca. Perbuatan manusia tak mgkin membuat Rumah Tuhan atau gereja menjd kudus, tp kehadiran Tuhanlah yg membuat semuanya kudus.

Bkn berarti para pendosa dilarang utk beribadah di gereja, krna bnyk kesaksian ketika beribadah, mrka bertemu Tuhan dan bertobat. Yang dimaksud sbnarnya adalah ketika dlm gereja, fokus kita bkn pd keadaan gedungnya, bkn bagus tdknya alat musik dan pemainnya, bkn pd siapa hamba Tuhannya, tp fokus kita adalah bgmna spya Tuhan menyatakan kehadiran-Nya saat kita beribadah sehingga kekudusan Tuhan itulah yg menguduskan kita dan jg gereja yg kita gunakan utk beribadah. Caranya adalah dg hidup sesuai Firman Tuhan dlm keseharian hidup kita.

Tak ada ayat yg menulis surga bersukacita krna dahsyatnya ibadah di rumah Tuhan, tp krna adanya pertobatan, berbalik kembali pd Tuhan. Penuhilah gereja dg org-org yg hidup dlm pertobatan, ini yg benar

Posted in Renungan | Comments Off on Jangan Main-Main

Perlukah Dendam?

DI 12022018

Lukas 17:3 KJV
Take heed to yourselves: If thy brother trespass against thee, rebuke him; and if he repent, forgive him.

  • Simaklah dirimu sendiri: Jika saudaramu berdosa terhadapmu, tegurlah dia; dan jika dia bertobat, ampunilah dia.

Tentu kita berharap org lain tdk berlaku buruk terhadap kita, apalg melakukan perbuatan dosa terhadap kita, tp seringkali justru itu terjd terhadap kita, apa reaksi yg benar?

Terjemahan LAI krg tepat, krna hanya menulis: jika sdrmu berbuat dosa, jd bs saja berarti menangkap basah org lain berbuat dosa, tp dlm terjemahan sbnarnya lebih detail: jika sdrmu berdosa terhadapmu, jd ini antara kita dg org itu. Ayat ini adalah pengajaran Tuhan Yesus sndri, jd tak perlu ragu bgmna hasilnya jika dipraktekkan.

Kata ‘take heed’ dlm bhsa aslinya adalah ‘ prosechō’ yg artinya ‘to hold the main’ yaitu kuasai pikiran. Biasanya yg muncul pertama adalah reaksi emosi, mgkin sebentar msh sabar, terlalu lama ya habis kesabaran, kemudian mulailah kehilangan kendali diri. Tuhan Yesus mau spya saat org lain berbuat dosa terhadap kita, kita tetap menguasai pikiran kita, jgn terseret emosi. Mengapa bkn menjaga hati? Krna pengendalian diri itu bermula dr pikiran, hati hanya membantu menyadarkan jika pikiran mulai tdk lg kita gunakan.

Setelah menguasai pikiran, hal berikutnya adalah tegur dia sbg seorg sdr, bkn sbg musuh. Tentu ini berlawanan dg sifat manusiawi kita, tp itulah Firman Tuhan, melampaui logika. Jd reaksi kita bkn dikuasai amarah, tp tegur org itu, spya jika dia sadar, dia bs bertobat. Jd dlm pertengkaranpun, Tuhan menginginkan adanya pertobatan dr pihak yg melakukan dosa. Kenyataannya jarang org mempraktekkan ayat ini, justru yg ada adalah saling balas hingga akhirnya terjadilah hal yg tdk diinginkan.

Kalau demikian, bila ada org yg sampai kepahitan, yg salah adalah org itu sndri, dia membiarkan dirinya dimasuki hal-hal yg membuat hati pahit, tubuh terkena penyakit

Posted in Renungan | Comments Off on Perlukah Dendam?

Mengutamakan Tuhan

DI 10022018

Mazmur 132:5

  • sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub.”

Daud adalah contoh org yg mengerti prinsip kehidupan, mrskipun dia seorg raja dan bkn seorg imam, namun dia bnyk melakukan sesuatu bagi Tuhan, Dia mengutamakan Tuhan dlm hidupnya.

Daud sangat detail dlm mengurusi para imam meskipun para imam memiliki pemimpinnya sndri. Ini gambaran dr hal yg hrs kita lakukan sbg pengikut Kristus yaitu mengutamakan Tuhan dg memperhatikan keadaan rohani kita.

Rasanya menggelikan saat seorg diminta berdoa dan ditolak dg alasan tdk bs berdoa. Diminta sharing firman malah menolak dg alasan tdk bs membuat renungan firman. Padahal, semua orgtua dituntut utk mengajarkan Firman Tuhan siang dan malam, spt yg tertulis dlm Alkitab, terutama pria sbg kepala keluarga:

Ulangan 11:19
Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;

Apapun profesi kita, apakah di bidang sekuler atau kerohanian, tetap hrs memperhatikan kerohanian agar trs bertumbuh dan dewasa. Keliru bila kita menggolongkan berdasarkan profesi sekuler atau bkn, Tuhan tdk melihat profesi kita, tp sbrpa kita mengutamakan Tuhan. Daud sampai bernazar utk tdk menikmati kesenangan sampai dia menemukan tempat utk mendirikan rumah Tuhan. Inilah yg hrs kita teladani dr Daud yaitu kecintaannya akan Tuhan. Bagaimana dg kecintaan kita pd Tuhan hari-hari ini? Jgn sampai justru kita cinta uang.

Semua yg kita usahakan dan kerjakan akan sia-sia jika Tuhan tdk memberikannya pd kita. Daud menjd raja hingga dia meninggal krna Tuhan yg memberikannya dan krna kesetiaan Daud pd Tuhan. Penyertaan Tuhan membuat apa yg kita lakukan itu menghasilkan sesuatu yg baik. Jgn kita sombong shga utk menegur kita, Tuhan ambil yg kita punya, barulah kita sadar bhw semua sia-sia tanpa Tuhan

Posted in Renungan | Comments Off on Mengutamakan Tuhan

Sok Tahu

DI 09022018

Ayub 22:10

  • Itulah sebabnya engkau dikelilingi perangkap, dan dikejutkan oleh kedahsyatan dengan tiba-tiba.

Ini adalah bagian kalimat dr komentar Elifas pd Ayub ketika Ayub sdg diuji Tuhan, bknnya berkomentar membangun justru sangat menghakimi.

Apa bedanya berkomentar dg menghakimi? Berkomentar itu cuma sebuah hasil penilaian, sdgkan menghakimi itu bkn sekedar menilai tapi sdh menetapkan pendapatnya sbg sebuah kebenaran pdhal blm tentu pendapatnya itu benar. Sbg lanjutannya, merasa berhak utk menyatakan org bersalah dan diberi hukuman.

Kita jgn menjd pribadi yg sensitif negatif, artinya terlalu mudah berkata bhw org lain sdh menghakimi kita, krna sbnarnya kita merasa benar dan tak pernah salah, kita takut dipermalukan krna ketahuan salah dan ‘menyerang’ lebih dulu biar kelihatan kita sbg korban. Jgn jd pribadi yg anti kritikan, teguran dan nasehat. Mengaku salah justru membuat org menghormati kita, drpd nantinya kita lebih malu krna berbuat kesalahan yg sama.

Berkomentarlah disertai nasehat dan tunjukkan hal yg benar. Jgn merasa berhak menuntut org lain utk mengikuti kebenaran versi kita sndri. Nantinya justru kita akan bersingungan dg bnyk org krna kebiasaan buruk ini, dan justru membuat kita dibenci bnyk org. Yg berhak menuntut adalah Tuhan sbg Hakim Yangadil, dan jg para pemilik otoritas di atas hidup seseorg. Tentu sebuah kekonyolan jika sesama karyawan berkata: “Kamu saya pecat krna km salah!”, pdhal bkn boss tp karyawan jg.

Menjd org yg selalu dimaklumi justru sebuah kemunduran dlm hidup kita, krna org akan segan jujur krna takut kita tersinggung, pdhal kalau saja kita rendah hati, mgkin kita sdh ada bbrpa langkah di depan. Hanya ‘bayi dan anak balita’ yg selalu dimaklumi, jika demikian kerohanian kita masih ‘bayi dan balita’, blm dwsa, tak akan bnyk hal yg Tuhan percayakan utk kita lakukan.

Justru kita hrs bersyukur kalau org berani jujur berkomentar terhadap kita, walau mgkin tak enak didengar

Posted in Renungan | Comments Off on Sok Tahu

Dasar Iman

DI 08022018

1 Korintus 2:5 KJV
That your faith should not stand in the wisdom of men, but in the power of God.

  • Supaya imanmu harus berdiri tidak di dalam hikmat manusia, tapi di dalam kuasa Tuhan.

Ada sebuah kekuatiran di kalangan bbrpa hamba Tuhan bhw mimbar grja skrg mulai dipenuhi oleh para motivator drpd para pembawa pesan Tuhan bagi jemaat.

Ini ada benarnya, mari kita renungkan bersama. Gereja itu rumah Tuhan, tempat utk beribadah yaitu Tuhan bertemu dg umat-Nya. Bila kita lihat dlm Alkitab, baik dlm Bait Suci maupun sinagoga yg diajarkan adalah mengenai Kitab Suci dan hukum-hukum Tuhan. Apa yg terjd dlm gereja zaman skrg?

Tentu ini kasus per kasus, tdk bs disama ratakan, ada gereja yg mulai berubah spt sebuah ‘universitas tdk formal’, ada yg bikin seminar bisnis, mendtgkan para motivator ternama, kemudian dihubung-hubungkan dg ayat-ayat Alkitab. Org yg dtg mgkin lebih bnyk drpd org yg hadir di seminar ttg pertobatan. Blm lagi ibadah gereja yg dihubungkan dg tradisi misalnya ibadah spesial Imlek, ibadah Youth Valentine, yg scra Alkitabiah tdk ada kaitannya Imlek dan Valentine dg hubungan kita dg Tuhan. Konser rohani justru berpusat bkn pd Tuhan, tp pd artis rohaninya.

Iman kita jgn berdasar pd hikmat manusia, tp pd kuasa Tuhan. Bknkah tradisi itu hasil hikmat manusia yg diakui scra umum? Bknkah motivasi atau pengetahuan sekuler jg hasil dr hikmat manusia? Ini bkn berarti kita mengabaikan semua itu, tp kita hrs menempatkan Tuhan di atas segalanya. Kalau ada tradisi yg tdk sesuai Firman Tuhan, jgn kita ikuti. Teknologi membantu jalannya ibadah, tp kita jgn terfokus pd mewahnya tempat ibadah, tp berfokus utk beribadah pd Tuhan.

Manusia bs berkata apapun, tp sbg org percaya kita yakin ketetapan Tuhanlah yg terjd dlm hidup kita. Nasehat yg baik blm tentu tepat utk dipraktekkan dlm situasi yg kita hadapi, tuntunan Tuhanlah yg bs mengatasi semuanya. Andalkan Tuhan, jgn bersandar pd kekuatan manusia, aktifkan iman kita

Posted in Renungan | Comments Off on Dasar Iman

Berani Melepas

DI 07022018

Ezra 10:19

  • Dengan memegang tangan, mereka itu berjanji akan mengusir isteri mereka. Dan mereka mempersembahkan seekor domba jantan dari kawanan kambing domba sebagai korban penebus salah karena kesalahan mereka.

Zaman itu bangsa Israel beroleh anugerah membangun kembali rumah Tuhan, namun jg mrka berkomitmen utk hidup sesuai hukum Tuhan.

Saat itu terjd bnyk pernikahan dg bangsa asing shga mrka melanggar apa yg dilarang oleh Tuhan, konsekuensinya adalah mrka hrs melepaskan isteri dan anak-anaknya. Tentu ini tdk mudah, krna pasti mrka sangat mencintai keluarga mrka, namun hukum Tuhan lebih utama dr segalanya.

Apa yg hari-hari ini membuat kita hidup tdk sesuai Firman Tuhan? Mgkin itu kedagingan kita yg menggoda kita berbuat dosa, mgkin jg keserakahan akan uang, hobby kita yg bgtu mengikat: games online, chattingan, dsbnya. Apapun itu, hrs kita lepaskan dr diri kita walaupun kita sangat menyukainya.

Smartphone zaman ini telah bgtu mengikat diri kita, dulu kita anggap itu hanya alat komunikasi dan alat bantu kita bekerja, namun skrg justru kita bgtu sangat bergantung padanya, lupa bawa sekian jam saja kita menjd sangat kuatir dan terganggu aktivitas. Dlm hal berdoa dan ibadah, waktu utk Tuhan masih saja kita ‘curi’ utk melihat dan membalas pesan masuk ataupun bermain games online.

Tuhan tahu kita butuh bnyk hal dlm hidup kita, tp jgn sampai justru itu semua menjauhkan diri kita dr Tuhan. Kitalah yg hrs menguasai, bkn dikuasai, shga kita bs hidup dlm keseimbangan. Tak salah punya smartphone paling canggih, tp jgn sampai membuat kita malas berdoa dan tdk fokus saat mendengar Firman Tuhan. Jgn jg hobby kita justru merusak keharmonisan keluarga. Bagilah perhatian kita dg seimbang, demikian jg dg waktu yg kita miliki. Keluarga tdk boleh menghambat hubungan kita dg Tuhan.

Tinggalkan apa yg membuat kita hidup tdk sesuai firman Tuhan, kekekalan di surga tdk sebanding dg kenikmatan duniawi yg sifatnya sementara

Posted in Renungan | Comments Off on Berani Melepas

Beda Pendapat

DI 06022018

Kisah Para Rasul 15:39

  • Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.

Beda pendapat itu hal biasa, namun beda prinsip dlm sebuah hal bs berakibat saling berpisah. Ini yg terjd pd Rasul Paulus dan Barnabas perihal seorg yg bernama Yohanes yg disebut Markus. Yohanes dulu meninggalkan mrka dlm perjalanan, kembali ke Yerusalem, ini dianggap Paulus sbg wujud ketdk setiaan pd tugas.

Perdebatan terjd dan hasilnya adalah Paulus dan Barnabas akhirnya berpisah, pergi ke tujuan yg berbeda. Mgkin kita bertanya, seharusnya para rasul ini bs rukun berdamai, tp justru sebaliknya. Tdk mudah kita pahami krna kita ada ‘di luar’ situasi tersebut.

Bgmna sikap kita jika diperhadapkan pd situasi perdebatan ttg prinsip? Dlm kasus di ayat ini, mana pihak yg benar: Paulus atau Barnabas? Sering kita terjebak dg pola pikir ini: kalau ada 2 pihak berdebat, pasti yg 1 benar dan yg lain salah, pdhal blm tentu begitu, mgkin justru keduanya benar atau keduanya salah. Dlm ayat ini dr sisi nilai kesetiaan, pendapat rasul Paulus itu benar, org yg tdk setia sangat mgkin merusak pelayanan yg ada, namun pendapat Barnabas ada benarnya, beri kesempatan kedua utk seseorg yg dulu salah utk kembali melayani.

Kita hrs berhikmat ketika ada dlm situasi perdebatan tajam, sebisa mgkin mendpt satu kesepakatan bersama, jika tdk terjd, apakah perlu ‘berpisah’? Dulu tdk ada sistem ‘voting’, tp skrg mgkin voting bs menjd jalan tengah utk mengambil sebuah kesepakatan ttg sesuatu. Inipun dg syarat: apapun hasilnya, semua pihak hrs mengikuti hasil voting walaupun tdk setuju dg itu. Tdk mudah, namun inilah cara utk menghindari perpecahan dlm sebuah team.

Perdebatan jgn berujung pd permusuhan dan saling ‘serang’ satu sama lain, bgtu sdh ditentukan hasilnya, perdebatan hrs selesai dan hubungan semuanya kembali spt semula, dlm keadaan yg baik. Butuh kedewasaan utk bs melakukannya

Posted in Renungan | Comments Off on Beda Pendapat

Seumur Hidup

DI 05022018

1 Samuel 7:15

  • Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya.

Kisah hidup Samuel sangat menarik diperhatikan detailnya, kali ini kita akan belajar ttg kesetiaan Samuel.

Darimana kita tahu seseorg itu setia? Sampai tua? Tidak, ternyata sampai org itu mati br bs diukur kesetiaan org itu. Kesetiaan Samuel terlihat dr ayat ini: dia dipercaya Tuhan memimpin bangsa Israel seumur hidupnya. Tak ada masa ‘pensiun’, selama dia hidup, dia berkomitmen utk setia menjalankan tugas.

Kesetiaan Samuel ternyata dihasilkan dr benih kesetiaan yg ditanamkan oleh ibunya yaitu Hana, Hana setia menepati nazar utk menyerahkan hidup Samuel sejak kecil pd Tuhan. Banyak org yg ‘kepepet’ menghadapi masalah, bernazar pd Tuhan spya Tuhan menolong, tp bgtu Tuhan telah menolong, dia lupa membayar nazarnya pd Tuhan. Ini sebuah ketdk setiaan.

Benih kesetiaan ini Samuel pelihara hingga akhir hidupnya, tdk mudah bahkan mgkin justru membuat hidupnya kerepotan krna hrs menghadapi satu bangsa org Israel pd waktu itu. Kita saja terkadang pusing menghadapi puluhan karyawan yg kita punya, ini justru 1 bangsa yg entah brp jumlahnya wkt itu. Kesetiaan itu bkn otomatis ada dlm diri seseorg. Kesetiaan kadang diperhadapkan dg kelemahan, kemustahilan, kerepotan, ketdk sukaan, godaan, kedagingan, dsbnya. Samuel berhasil melewati semuanya dan Tuhan mempercayakan jabatan hakim itu seumur hidupnya.

Jadilah setia jika kita ingin menyenangkan hati Tuhan, Dia sangat menghargai kesetiaan yg kita tunjukkan. Apa gunanya org hebat tp tdk setia? Pengkhianat biasanya org yg justru ‘hebat’, krna kehebatannya, dia berpikir buat apa setia pd atasannya, hingga akhirnya dia ingin menjd atasan, bknkah ini sama spt yg iblis pikirkan, dia ingin menjd Tuhan dan Tuhan justru hrs menyembahnya.

Jadilah setia seumur hidup kita, kerjakan dg baik apa yg Tuhan percayakan, jgn andalkan kemampuan sndri, jgn tergoda dan jd pemberontak. Jadikan Tuhan yg terutama

Posted in Renungan | Comments Off on Seumur Hidup

Pasti Terbalas

DI 03022018

Amsal 13:21 KJV
Evil pursueth sinners: but to the righteous good shall be repayed.

  • Kejahatan/keburukan mengejar para pendosa: tapi terhadap para orang benar, yang baik selalu dibayar kembali.

Banyak hal dlm dunia ini yg membuat kita berpikir apa masih ada gunanya utk hidup benar dan berbuat baik?

Misalkan saat kita membuat kegiatan bakti sosial, ada saja pihak-pihak yg mencurigai dan menuding itu sbg bagian dr mempengaruhi keyakinan org lain, pdhal murni ingin berbuat baik bagi org lain tanpa pandang dr golongan mana asalnya. Ini memang terjd krna mgkin ada pihak yg sblumnya mengadakan baksos dg maksud yg tersembunyi, dampaknya kena pd pihak yg merasa curiga.

Hidup benar di zaman yg justru melegalkan dosa sbg sebuah aktivitas harian manusia, kadang membuat kita merasa apa masih berguna hidup benar di hadapan Tuhan? Org yg berdosa malah terlihat baik-baik saja. Scra mata kita mgkin terlihat demikian, tp apa yg mata kita lihat seringkali bknlah realita yg seutuhnya.

Ayat ini berkata hal yg jahat/buruk itu ‘mengejar’ hidup para pendosa. Pendosa beda dg org berdosa, org berdosa bs bertobat, para pendosa tdk mau bertobat. Mgkin keadaan mrka skrg baik-baik saja, tp hal yg jahat/buruk makin mendekati hidup mrka. Tuhan itu Hakim Yangadil, Dia membalas sesuai perbuatan yg manusia lakukan.

Org benar akan menerima kembali hal yg baik dlm hidupnya. Istilahnya adalah ‘dibayar kembali’, jd ada gunanya terhadap hidup kita. Kalau benar yg dikatakan dlm ayat ini, mengapa dlm hidup org benar msh terjd tragedi, kemalangan, dan hal yg buruk?

Dlm keKristenan, tdk ada org benar yg tanpa dosa, org benar adalah org berdosa yg bertobat dan dibenarkan oleh Tuhan. Krna masih bs berbuat dosa, maka masih bs terjd hal-hal yg disebutkan di atas. Kalau itu terjd bkn akibat dr dosanya, berarti itu terjd atas seizin Tuhan utk Dia menyatakan kuasa-Nya dlm hidup org benar. Tp sbg ganjaran hidup benar, hal-hal baiklah yg akan Tuhan balaskan

Posted in Renungan | Comments Off on Pasti Terbalas

Terlalu Sombong

DI 02022018

Kejadian 4:23-24
Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: “Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak;

  • sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.”

Di dunia ini bnyk kita temui org yg ‘songong’ atau bebal, sdh buat salah malah bangga dan tak merasa salah sama sekali. Kisah dlm ayat ini salah satu contohnya.

Lamekh itu cicit dr Kain, anak cucunya Kain, melakukan jg pembunuhan spt leluhurnya, tp justru kalimat yg diucapkannya menjd sebuah kesombongan yg sangat parah. Dosa membunuh zaman itu berlaku hukum ‘nyawa ganti nyawa’, jd ada kemungkinan si pembunuh bs saja dibunuh oleh org lain. Hal inilah yg ditakutkan Kain setelah membunuh adiknya, Habel, dan Tuhan menjamin nyawa Kain, dan akan menghukum 7x lebih berat bagi org yg membunuh Kain bila terjd (Kejadian 4:15).

Ungkapan Lamekh yg mengutip perkataan Tuhan pd Kain salah kaprah, dia menyombongkan diri dg berkata bhw jika yg membunuh Kain akan dibalas Tuhan 7x lipat, maka yg membunuh dirinya akan dibalas Tuhan 70x lipat. Dia merasa benar boleh membunuh org dan mengangkat dirinya sndri sbg org yg dilindungi Tuhan. Sdh salah, merasa dibela Tuhan.

Bknkah bnyk org yg spt Lamekh di sekitar kita? Tak merasa berdosa sdh menyakiti bnyk org dan malah berkoar-koar bhw Tuhan membela dia. Sptnya dia berkata Tuhan toleran dg dosa yg dilakukan dg alasan tertentu. Kain dihukum Tuhan, tp dilindungi nyawanya, itu kasih karunia Tuhan, tp Lamekh merasa yg dibuatnya itu benar dan Tuhan lebih sayang dia drpd terhadap leluhurnya, Kain. Kepekaan telah berbuat dosa telah menipis hari-hari ini.

Tuhan tdk membiarkan perbuatan dosa tanpa hukuman, Dia tdk bahagia ketika kita berbuat dosa. Jgn meremehkan pengampunan Tuhan dg berbuat dosa lagi dg dalih apapun.

Posted in Renungan | Comments Off on Terlalu Sombong