Gara-Gara Tidak Mau Membangun Hubungan

DI 21022023

Lukas 16:22-23
Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

Ada pengemis mati kelaparan di depan rumah kita, pdhal di dlm rumah, kita punya makanan yg banyak, mestinya pengemis itu tidak akan mati kalau seandainya kita memberi dia makan dan mau menolong dia.

Setelah keduanya mati, kisah dlm ayat ini mulai bercerita keadaan yg dialami di alam kematian, si org kaya ini mengalami penderitaan. Mungkin kita tdk menyadari bhw sebuah relasi/hubungan bisa menentukan apa yg akan kita alami di alam sesudah kematian tubuh, ini belum neraka atau surga, tp sdh jelas arahnya mau kemana. Kalau saja si org kaya ini peduli dgn si pengemis, dgn memberi dia makan dan merawatnya, mungkin dia tdk akan menderita di alam kematian. Tidak mau membangun hubungan dg si pengemis, ini sesuatu yg jahat di mata Tuhan, tdk mau peduli dgn nasib org susah pdhal bisa melakukan yang baik terhadap orang itu, ini bukti tidak ada kasih Tuhan dlm diri seseorg. Kadang kita berpikir ttg untung ruginya kalau kita mau bangun sebuah hubungan dgn seseorg, jelas ini ‘transaksional’ sifatnya, mgkin dlm dunia bisnis & perdagangan hal ini lumrah, siapa yang mau rugi karena salah memilih mitra bisnis? Salah memilih teman juga bs berakibat buruk, tapi bicara ttg kemanusiaan, ini ttg hati nurani dan perintah Tuhan, tdk boleh menghitung untung ruginya, tapi justru gembira bs menjd berkat bagi org lain.

Kisah berbeda kita lihat dr perumpamaan orang Samaria yg menolong seorg yg dlm perjalanan dirampok dan dianiaya (Lukas 10:25-37). Tidak kenal sm sekali sebelumnya, tp melihat ada org yg menderita, hati nuraninya tergerak menolong bahkan membawa org yang kerampokan itu ke penginapan spya bs dirawat, dan biaya selama di penginapan dia yg tanggung. Org Samaria ini disebut sbg org yg paham ttg mengasihi orang yang disebut ‘sesamanya’, sebuah sindiran telak utk para imam dan org Lewi yg dlm kisah ini tdk menolong dan bahkan menghindar. Dari 2 kisah di atas, 2 org hampir mati, yg satu akhirnya mati karena tdk ada yg mau bangun relasi dgn dia, yg lainnya akhirnya tetap hidup krna ada org yang mau bangun relasi dengan dirinya, betapa besar dampak dr sebuah relasi yg bukan transaksional sifatnya, bagi yg ditolong, mengalami kehidupan dan yg menolong pasti menerima balasan baik yg dr Tuhan, sementara yg tdk ditolong akhirnya mati tapi dibalas baik oleh Tuhan, sementara yg tdk menolong jg mati namun mendapat balasan yg buruk dr Tuhan. Mau membangun relasi atau tdk, ternyata bs berpengaruh pd keadaan kita di alam kematian.

Adakah ‘pengemis Lazarus’ dan ‘orang yg telah dirampok’ spt dlm 2 kisah di atas dlm kehidupan kita? Jgn pikir untung dan ruginya, jadilah berkat bagi mereka melalui kebaikan yang kita lakukan.

Posted in Renungan | Comments Off on Gara-Gara Tidak Mau Membangun Hubungan

Bersiap dan Jangan Membuat Marah

DI 20022023

Lukas 12:47 ILT3
Dan hamba itu, yang mengetahui kehendak tuannya tetapi tidak bersiap diri, bahkan tidak berbuat sesuai dengan kehendaknya, dia akan dipukuli bertubi-tubi.

Perumpamaan ini berkaitan dgn sikap seorang hamba ketika menantikan tuannya kembali dari pesta pernikahannya, ini gambaran ttg apa yang hrs dilakukan saat menanti kedatangan Tuhan kembali yg kedua kalinya.

Yg terjd adalah sikap hamba yg spt ini sangat membuatnya tuannya murka sehingga dihukum dgn pukulan yg bertubi-tubi, bukan sekali saja dipukul namun berkali-kali, mgkin lebih tepatnya disebut dihajar habis-habisan. Ada 2 kesalahan fatal yg dilakukan hamba itu, pertama, dia tidak bersiap diri, malahan berpikir bhw tuannya blm akan kembali, ada penundaan (ay 45), karna itu dia malah berbuat yang tdk baik terhadap para hamba yg lainnya. Ini gambaran ttg orang yang berpikir bhw kedatangan Tuhan Yesus kembali yg kedua kali sedang ditunda, masih lama dan menyerang hamba-hamba Tuhan yg setia dalam menyerukan untuk bersiap menanti kedatangan Tuhan, dan malah mengajak org lain utk hidup berpesta pora, tdk perlu melakukan apapun utk bersiap menanti kedatangan Tuhan. Org seperti ini nanti akan menerima banyak pukulan Tuhan karena telah melakukan hal yg jahat. Peringatan utk kita adalah persiapkan diri utk menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali yg kedua, dan bila itu belum terjd selama kita hidup, bersiaplah untuk bertemu Tuhan saat kita pulang ke rumah Bapa di surga.

Kesalahan yg kedua adalah tdk berbuat sesuai dgn kehendak tuannya, ini bs diartikan sengaja membuat tuannya kecewa dan murka, atau dia berpikir bhw dia lebih tahu utk melakukan dgn lebih baik drpd yg diperintahkan tuannya. Tidak taat adalah sebuah tanda pemberontakan, satu sikap merasa setara dgn yg dilawan, dan jangan heran bnyk org bahkan hamba-hamba Tuhan di akhir zaman yg hanya menyampaikan khotbah spt motivator tapi tdk lagi berkhotbah tentang pengakuan dosa dan pertobatan. Org yg hanya hidup berfokus pd kekayaan duniawi tp sangat meremehkan kehidupan kekal nantinya. Masuk surga dipandang sbg suatu hal yg mudah tanpa butuh memenuhi syarat yg Tuhan berikan. Yang terpenting tetap datang ke gereja tp dosa juga tetap dilakukan terus menerus, hati sudah tidak ada ‘alarm’ lagi saat hendak berbuat dosa. Yang Tuhan inginkan adalah kita jgn melupakan satu hal yg penting yaitu kehidupan setelah kematian nanti: mau di surga atau di neraka? Kita lakukan apa yg Tuhan perintahkan lewat firman-Nya, jgn dikurangi atau ditambahi, hrs pas spt yg Tuhan kehendaki, jgn melawan kehendak Tuhan.

Tuhan ‘memukul’ dgn kasih supaya kita sadar utk bertobat, tp Dia ‘memukul’ dgn bertubi-tubi karena kita menjd hamba yg tdk taat dan berani melawan kehendak Tuhan.

Posted in Renungan | Comments Off on Bersiap dan Jangan Membuat Marah

Jangan Mabuk Kebahagiaan

DI 17022023

Lukas 16:19, 25
“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

Hidup ini ada kemanisan dan juga hal yg pahit, tp itu blm tentu benar, karena dlm kisah di atas, Lazarus sepanjang hidupnya mengalami hal yg pahit sedangkan org kaya itu sepanjang hidup mengalami kemanisan: hidup mewah.

Berhati-hatilah ketika kita ada dlm keadaan yg penuh kemanisan, salah satunya ketika harta yg kita miliki sangat banyak, secara finansial kita aman dr kekurangan dan kemiskinan, tapi justru di keadaan spt ini, kita bisa sedang berjalan ke arah kebinasaan. Kekayaan yg awalnya adalah ‘berkat’ bs berubah menjd ‘kutuk’ yg mengerikan dampaknya. Org kaya dlm kisah ini mengalami siksaan di alam maut, apa sebabnya? Harta yg dia miliki hanya dinikmati sendiri tanpa berbuat sesuatu terhadap Lazarus yg berbaring di dekat pintu rumahnya dan makan dr apa yg jatuh dari meja org kaya itu. Ada seorg pengemis di depan rumah, tp tdk berbagi makanan sedikitpun, hal ini dipandang Tuhan sbg suatu hal yg setimpal dibalas dgn penderitaan di alam maut, melihat ada org kelaparan hingga mati, tetapi diam saja sementara ada makanan berlimpah di rumah. Kalau boleh mengunakan sindiran yg kasar, dgn kata lain org kaya ini disindir begini: “Km punya mata, tidak? Hatimu terbuat dari batu? Ada org miskin kelaparan dibiarkan hingga mati?” Kita pasti ingat di waktu yg berbeda, Yesus dengan tegas menyuruh seorg kaya yg masih muda utk menjual seluruh hartanya dan membagikannya pd org miskin lalu mengikuti Dia? Inilah sebuah peringatan ttg kekayaan!

Masih ragu? Satu contoh lagi kita lihat dr hidup 10 anak Ayub yang pertama? Mereka bergiliran pesta tiap hari, dan apa yang terjadi pd mereka? Mereka semua mati dlm sekejap! Bukankah itu bagian dari ujian Tuhan terhadap Ayub melalui tangan iblis? Jgn cepat menyimpulkan, Tuhan tdk pernah bermain-main dgn nyawa seseorang, jd kalau seseorg itu mati atas seizin Tuhan, ada alasan-Nya. Dlm pesta pora, mulut kadang tidak terkendali, bs saja mengucapkan sesuatu yang jahat terhadap Tuhan, dan ini yg Ayub pikirkan shga setiap selesai anak-anaknya berpesta, dia menguruskan mereka dan membakar korban bakaran pd Tuhan (Ayub 1:5). Masih ragu juga?
“Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Lukas 12:19-21). 3 contoh di atas, biarlah menjd satu peringatan bagi kita, hati-hati dengan kekayaan.

Apakah ada ‘pengemis Lazarus’ di dekat kita? Mgkin itu kerabat dekat yang sdg kesusahan, mgkin itu teman kita yg sdg terpuruk, jgn diam saja, buatlah sesuatu utk mereka dgn harta yg kita miliki dan muliakan Tuhan!

Posted in Renungan | Comments Off on Jangan Mabuk Kebahagiaan

Kasih Yang Terbukti

DI 16022023

Lukas 15:17-18
Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

Perumpamaan ttg anak yg terhilang ini menjadi gambaran spt apa Tuhan mengasihi kita, seperti apa ‘kasih’ yg ditawarkan oleh dunia dan iblis, ini yg bs kita renungkan sbg sebuah pelajaran.

Si anak bungsu ini mengejar kebahagiaan dunia yaitu harta berlimpah: meminta harta warisan dr ayahnya sblum waktu yg seharusnya utk hidup berfoya-foya, suka dgn kenikmatan tubuh yang digambarkan dgn melibatkan diri dg sex bebas dgn pelacur-pelacur (ay 30). Dia memilih pergi jauh supaya bebas melakukan apa yg dia mau, tp ternyata dia tertipu dgn semuanya itu. Saat hartanya habis, dia hidup melarat, org menjauhi dan tdk menghargai dia lagi, dan spt yang kita baca, hidupnya sangat mengenaskan, hingga akhirnya dia sadar bhw kasih yang sejati hanya dia rasakan dr kasih ayahnya, dan dia berpikir utk pulang walaupun dgn perasaan malu karna sadar dirinya tdk layak lagi dianggap sebagai anak dr ayahnya. Kalau kasih itu nyata dan bisa dirasakan, pasti suatu saat org yang merasakan kasih itu akan ingat dan ingin kembali lagi bisa merasakan kasih itu. Kasih duniawi tergantung dr brp bnyk harta dan kekuasaan yg kita miliki, kalau kita kaya dan punya posisi bagus, pasti kita dihormati, disanjung dan diperlakukan spt ‘raja’, tp begitu semuanya tdk kita miliki lagi, yg terjd adalah kita dianggap spt ‘sampah’.

Kasih yg sejati dimiliki oleh org-org yg setia ada bersama kita di saat suka dan duka, sehat dan sakit, kaya atau miskin, bahkan hingga lanjut usia, mereka tetap mengasihi kita. Kasih sejati adalah kasih yg punya stok pengampunan yang berlimpah dan siap memulihkan kembali semua hubungan yg telah rusak, ini digambarkan dlm kisah ini, sang ayah memulihkan hubungan ayah dgn anak, memberikan apa yg selayaknya sang anak terima bahkan bersukacita karena si anak telah kembali pulang, pdhal yg dilakukan si anak itu adalah durhaka terhadap orgtua. Harta boleh hilang, asalkan si anak bertobat, itu suatu berkat yg besar bagi sang ayah. Pelajaran penting dari kisah ini adalah: pulihnya suatu hubungan jauh lebih berharga dr harta apapun. Kalau seorang suami membelikan hadiah cincin berlian mahal tp ketahuan selingkuh, apakah itu bs disebut dg mengasihi istri? Kalau orgtua sudah lansia dan sakit, tp anak-anak tdk mau merawat langsung dgn berbagai alasan, apakah ini mengasihi? Yg perlu kita ingat dlm dunia ini, hanya sedikit org yg betul-betul mengasihi kita dgn kasih sejati yg nyata, itu bisa kita buktikan di saat mengalami kondisi yg sedang tdk baik, siapa yang setia dan tetap ada untuk kita.

Taburlah kasih maka kita akan menuai kasih pd saatnya, walaupun mgkin kasih kita tdk terbalas dan justru kita tersakiti, kasih sejati tetap harus kita tunjukkan dan bersiap utk mengampuni dan memulihkan hubungan yg rusak.

Posted in Renungan | Comments Off on Kasih Yang Terbukti

Jangan ‘Karaoke’ di Gereja

DI 15022023

2 Tawarikh 20:22
Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat TUHANlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah.

Apa bedanya memuji Tuhan dgn karaoke lagu rohani? Tanpa sadar seringkali org berkaraoke di saat ibadah, dan tdk menyadari bhw pujian yg berkenan di hadapan Tuhan akan menghadirkan kuasa Tuhan di tengah-tengah umat-Nya.

Kalau memuji seseorg, tujuannya jelas supaya org itu hatinya senang, bkn untuk membuat hati kita sndri yg senang. Berkaraoke itu usaha utk membuat hati senang, bs melepas penat stress yg menekan hidup kita, kita pilih bernyanyi lagu yg kita sukai, walau terkadang syair lagunya tdk begitu baik utk dinyanyikan. Tapi sayangnya, di ibadah gereja terkadang yang terjadi bukannya memuji Tuhan: membuat Tuhan senang, namun justru membuat kita senang: pilihan lagunya yg musik dan iramanya kita suka, ‘beat’nya begitu asyik, liriknya yg kita sukai. Maka saat bernyanyi justru kita bersemangat, tapi begitu lagu pujian yang bkn favorit kita, kita ‘lesu’ menyanyikannya. Bukankah itu persis di ruang karaoke? Kalau org lain sdg menyanyikan lagu kesukaannya yg bkn lagu favorit kita, biasanya kita tdk ikut bernyanyi atau bergoyang, lihat-lihat HP sambil memilih lagu favorit kita berikutnya yg akan dinyanyikan. Seharusnya lagu pujian apapun yg dinyanyikan saat ibadah, kita tetap hrs semangat bernyanyi karena tujuannya membuat Tuhan senang, bkn membuat kita senang. Kalau mau senang, pergi ke tempat karaokean, bebas nyanyi apa saja.

Yang menciptakan lagu pujian jg hrs Alkitabiah, sebagai contoh: satu lagu syairnya berkata: Kau Tuhan s’lalu menjawab semua seru doaku, tapi lagu yg lain berkata: Tak selalu Tuhan menjawab doa. Yg benar yg mana? Kalau maksudnya ialah Tuhan selalu mendengar doa tapi tdk selalu apa yg kita minta itu dikabulkan Tuhan, ini masih bs dipahami. Benarkah Tuhan selalu mendengar doa kita? Alkitab berkata: Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu (Yesaya 59:1-2). Jadi yg benar adalah Tuhan selalu mendengar & menjawab doa kita selama tdk ada penghalang, yaitu kejahatan dan dosa kita. Kalau ada penghalang, Dia tdk akan mendengar dan menjawab kita. Memuji Tuhan itu jgn asal nyanyi, pahami jg syairnya apakah Alkitabiah atau tdk? Karena apa yg kita naikkan sbg pujian bagi Tuhan itu dampaknya kembali pd diri kita.

Pujilah Tuhan dgn segenap hati, tapi jgn untuk menyenangkan diri kita sndri, senangkan Tuhan dan Dia akan mengizinkan kita merasakan bhw Dia hadir di dlm hadirat-Nya.

Posted in Renungan | Comments Off on Jangan ‘Karaoke’ di Gereja

Bisa Turut Merasakan

DI 14022023

Roma 12:15
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

Kalau kita sedang merasakan sesuatu yg beda dgn yg sedang dirasakan orang lain, ayat di atas tentu agak sulit utk diterapkan, apalagi sampai bs mengubah apa yg kita rasakan.

Kalau kita sedang merasa senang, bersukacita, lalu melihat ada org yg sedang sedih, mungkin masih bisa merasa ikut sedih walaupun sedikit dan hati tergerak utk melakukan sesuatu yang diharapkan bs mengurangi kesedihannya. Tapi bgmna kalau kita sedang sedih lalu melihat org lain sedang bersukacita, bisakah kita ikut juga bersukacita? Rasanya tentu berat, namun harus bs dilakukan. InI bukan berarti berpura-pura ikut sedih atau bersukacita, tapi hati benar-benar bs merasakannya. Ketika suasana hati sedang tdk begitu baik, pikiran kitalah yg seharusnya besar peranannya untuk menyatakan sikap kita. Di sini pesannya adalah turut merasakan dan berbagi, ada kedekatan hati antara kita dgn org lain yang nyata, bukan hubungan yg semu. Yg bersukacita bs berbagi sukacitanya dgn yg sedang bersedih supaya kesedihannya tidak terlalu membebani, yg sedang sedih berbagi cerita mengapa menjd sedih pd org yg sedang bersukacita, supaya ada kelegaan dlm hati sehingga bs ikut bersukacita dgn org yg sedang bersukacita. Secara teori ini mudah dibaca, tp sulit utk diterapkan, namun ini kembali pd kedewasaan rohani masing-masing org, dan kedewasaannya dlm berpikir.

Berbagi sukacita mgkin lebih mudah, tp berbagi kesedihan itu sesuatu yg sulit, tentu tidak sopan kalau org sdg bersukacita tapi justru kita malah menceritakan kesedihan kita, itu rasanya seperti kita membagikan sebagian beban kita pd orang lain. Tapi itulah kasih, apalagi kasih yang seperti Tuhan lakukan pd kita, mengasihi tidak pernah merasa terbebani ketika org lain menceritakan perasaan sedihnya, malah berpikir apa yg dapat dilakukan utk meringankan kesedihan org lain. Mengasihi itu mau membuka hati, memendam perasaan sedih sendirian itu tidak baik dan bisa menyebabkan penyakit muncul pd tubuh. Setiap kita saling membutuhkan dgn orang lain, seperti saat Tuhan memberikan Hawa pd Adam. Dalam kitab Pengkhotbah dikatakan:
Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wahai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Dan bilamana seorang dapat dikalahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan (Pengkhotbah 4:9,10,12).

Sendirian merasakan sesuatu itu tidak baik, tapi kita jg hrs siap menampung perasaan orang lain dgn keterbukaan dan kedewasaan, mengasihi itu tidak boleh pura-pura.

Posted in Renungan | Comments Off on Bisa Turut Merasakan

Mengasihi Dengan Jujur

DI 13022023

Roma 12:9
Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.

Apa jadinya kalau di depan orang terlihat sangat saling mengasihi tp kemudian ketahuan terjadi tindakan- tindakan yg justru tdk mencerminkan kasih? Itu sebuah kemunafikan!

Jgn langsung percaya dg apa yg terlihat baik & sempurna di medsos, sebagian besar itu hanya settingan demi mencapai tujuan pribadi atau jg berkaitan dgn pekerjaannya. Kita pasti pernah menemukan kisah bnyk terjadi KDRT yg dialami pasangan-pasangan yg justru terlihat mesra dan harmonis di postingan medsos. Ada jg yg kesal krna tertipu rayuan dan iming-iming keuntungan besar hingga rugi uang dlm jumlah besar. Di dlm ayat yg kita baca, ternyata diingatkan bhw kasih itu bkn berupa ucapan tp hrs dibuktikan dengan perbuatan yang mencerminkan kasih itu. Adalah sebuah kemunafikan dan kepura-puraan ketika org yg katanya mengasihi justru tdk bersikap & melakukan apa yg baik, malah melakukan yang jahat, contohnya dlm kasus KDRT pd pasangan yg sblumnya terlihat begitu saling mengasihi di medsos, mengumbar kemesraan, saling memuji satu sama lain. Kalau mengasihi itu melakukan apa yg baik terhadap org lain, bukan justru yang jahat, suatu saat pasti akan terbongkar dan jadi konsumsi publik yg memalukan. Mengasihi itu bukan hanya berupa kata-kata manis yang enak didengar, tp hrs bs menyentuh hati dan efeknya adalah kebahagiaan.

Kasihi orang lain dgn semampu kita, jgn berjanji yg berlebihan, misalnya demi membahagiakan pasangan malah terlibat judi karena ingin cepat mendapatkan bnyk uang. Berilah yg mampu utk kita berikan. Sebaliknya, jgn menuntut orang lain sesuatu yg di luar batas kemampuannya karena iri dgn org lain yg bs membelikan sesuatu yang mahal pd pasangannya. Kalau orgtua belum bs utk memenuhi permintaan kita, jgn paksa mrka utk harus bisa memenuhinya, bersyukurlah dgn semua yg ada. Jgn berkata orgtua tidak sayang karena blm bs memberi apa yg kita mau. Mulai dr diri kita dulu utk memberi contoh bagaimana mengasihi dgn tulus, bangun hubungan yg baik dgn org yg kita kasihi, kenali jenis bahasa kasih yang mereka punya dan usahakanlah membuat mereka bahagia. Ingat bhw kalau mengasihi itu hrs melakukan apa yg baik terhadap orang lain, bukan justru melakukan yg jahat. Kasih itu tidak selalu hrs berwujud sebuah pemberian, kasih itu jg berupa setia mendampingi kita di segala jenis situasi, kasih itu jg berupa memberi rasa aman & percaya diri, dan masih bnyk lagi wujud kasih yg bs kita temukan, tp kadang kita tidak berpikir bhw itulah wujud lain dr kasih.

Taburlah lebih dahulu perbuatan kasih, maka ini akan menjd suatu benih yg suatu saat akan bisa kita tuai hasilnya, jgn terlalu banyak menuntut tp jadilah teladan dlm hal mengasihi.

Posted in Renungan | Comments Off on Mengasihi Dengan Jujur

Dilahirkan Dari Atas

DI 11022023

Yohanes 3:3
Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

Dalam bahasa aslinya, kata dilahirkan kembali itu adalah dilahirkan dari atas, dan ini memang berpengaruh bagi kita utk memahami apa yang ingin Yesus sampaikan pd Nikodemus.

Kalau kita dilahirkan, pasti sblumnya ada proses dikandungnya, jd kalau dilahirkan dari atas, kita jg dikandung dr atas, jd siapa yg ‘mengandung’ kita? Yohanes 3:6 menulis: Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh, ini bs dimaknai bahwa kita hrs dilahirkan dari Roh. Jadi apakah Tuhan ‘melahirkan’? Mgkin kita bs merujuk pada kelahiran Yesus, Maria yg mengandung, tapi bkn akibat persetubuhan manusia, tp Roh Kuduslah yg membuat Maria bs mengandung: Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah (Lukas 1:35). Jadi prosesnya adalah ketika kita dinaungi oleh Roh Kudus, maka kita dilahirkan dari atas, dan menjd kudus. Dilahirkan dr atas artinya menjd kudus akibat dinaungi oleh Roh Kudus. Jadi kekudusan kita di hadapan Tuhan tdk bs dihasilkan oleh diri kita sendiri, karena kita masih hidup dlm tubuh jasmani yg dipakai utk berbuat dosa, maka kita hrs dilahirkan dari Roh, maka kita memiliki roh yang kudus, tubuh pasti mati karena dosa, tp roh tetap hidup.

Apa arti dinaungi Roh Kudus? Dlm bhsa aslinya dr ayat Lukas 1:35 itu, dijelaskan bhw saat Roh Kudus turun ke atas kita dan ‘overshadow’ yaitu membuat kita ada spt ditutupi oleh bayangan dr sesuatu shga kita tdk terkena dampak. Misalnya ketika kita ada dlm rumah, maka air hujan tidak akan bs membasahi kita. Ditutupi bayangan itu membuat kita terlindungi, spt diselimuti sebuah keamanan yg kuat. Ini yg mgkin sebagian orang sulit utk mengalaminya, krna butuh penundukan diri yg sepenuhnya, sama spt bayi dlm rahim yg tdk punya kekuatan, hanya bs bergerak terbatas dan hidupnya bergantung dr asupan makanan yg dikomsumsi oleh ibunya. Hidup bergantung pd Tuhan memang sebuah proses yg sulit, dari yg dulu kita hidup bergantung pd bnyknya harta dan kekuasaan manusia, tp harus beralih hidup bergantung dr apa yg Tuhan firmankan pd kita. Dulu berbisnis boleh melakukan kecurangan, tp setelah hidup dlm Tuhan, berbisnis hrs jujur dan mengikuti apa yg tertulis dlm Alkitab, jika terus dilakukan maka bisnis kita itu menjd bisnis yang kudus di hadapan Tuhan. Jadi dilahirkan dr atas hasilnya adalah kita menjadi kudus di hadapan Tuhan.

Sudahkah kita dinaungi oleh Roh Kudus? Atau kita masih 100% yg mengendalikan hidup kita sendiri? Hidup bergantung pd Tuhan hasilnya adalah kekudusan.

Posted in Renungan | Comments Off on Dilahirkan Dari Atas

Tidak Usah Berdebat

DI 10022023

Matius 16:4
Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi.

Ketika Yesus diminta untuk memberikan sebuah tanda dr surga oleh org Farisi dan Saduki, Yesus hanya menjawab singkat lalu kemudian pergi & meninggalkan mereka dgn segala pikiran yang ada dlm diri mereka.

Menghindari perdebatan memang hrs dilakukan saat bertemu dgn org-org yang tujuannya hanya ingin memuaskan hasratnya utk menang dalam perdebatan. Org Farisi dan Saduki paham benar ttg Taurat dan kehadiran Yesus membuat mrka kehilangan bnyk pengikut dr masyarakat umum, karena itulah mereka berusaha untuk membuat Yesus dipermalukan di depan umum. Yesus tdk mau mengikuti strategi mereka dan tidak ingin melayani perdebatan, memilih menjwb singkat dan pergi. Ini hal yg perlu jd pemikiran kita saat ditantang utk membuktikan siapa diri kita: jika kita menang debat, apa dampaknya? Dlm Amsal diingatkan: Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi (Amsal 10:19). Kita harus paham bhw kalau kita salah bicara, lawan debat akan menggunakan hal itu utk menjatuhkan kita di depan umum, apalagi kalau itu dianggap sbg suatu perbuatan penistaan, kita bs dipidanakan dan tentu saja ini sangat merepotkan hidup kita. Jadi pertimbangkan untung ruginya kalau tetap ingin berdebat, kendalikan perkataan dgn benar dan bersikap bijaksana.

Ada saatnya utk membela diri, tapi ada saatnya kita sengaja diam dan membiarkan waktu yang membuktikan semuanya. Yakinlah bahwa Tuhan adalah Pembela kita, percayakan semuanya pd Tuhan dan tetaplah fokus pada pekerjaan tugas kita. Ingat juga bahwa: Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan (Pengkhotbah 5:3). Kita membela diripun belum tentu org lain langsung percaya dan balik membela kita. Ada orang yg senang melihat org lain ‘berantem’, dianggap itu spt sebuah hiburan, krna itu tdk heran ada orang yg sengaja menciptakan konflik dgn orang lain di medsos, bahkan ada yg settingan, karena hal ini memang ada peminatnya. Tdk semua orang ingin berdebat dgn tujuan yang positif, berdebat utk bs menemukan sudut pandang yg berbeda tapi memperkaya wawasan dan pengetahuan. Spt Yesus yg seringkali tdk ingin berdebat dgn org Farisi, tp berdiskusi serius dgn Nikodemus, seorg Farisi dan pemimpin agama Yahudi yang datang menemui Yesus (Yohanes 3). Jadi kita hrs bs menilai org, siapa yg pantas diajak untuk berdiskusi dan berdebat, dan siapa yg tdk perlu diladeni terlalu lama dlm percakapan, jgn nanti malah kita jadi emosian dan terlihat bodoh.

Jgn membuang waktu utk percakapan yg tidak menguntungkan, sia-sia dan bodoh, waktu kita sangat berharga, gunakan utk hal-hal yg positif dan menguntungkan.

Posted in Renungan | Comments Off on Tidak Usah Berdebat

Dipancing Membuktikan Diri Hebat

DI 09022023

Matius 16:1

Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka.

Org yg bisa melakukan mujizat, menyembuhkan yg sakit, mengusir roh jahat, pasti dianggap org yg sakti dan punya ‘isi’ di dalam dirinya, tapi dari mana dia mendapatkan semua itu, org mungkin berpikir yg negatif.

Kehadiran Yesus di zaman itu menang sedikit banyak menimbulkan kehebohan, selain sering melakukan mujizat, Dia jg berhikmat & mengajar dgn gaya yg berbeda, semua ini menimbulkan beragam pendapat ttg Yesus, apalagi latar blkg Yesus bukanlah yg istimewa, hanya seorg anak tukang kayu yg mendadak viral krna ‘kesaktian’ dan kharisma yg dimiliki-Nya. Ayat yg kita baca menjd contoh bgmna bnyk keraguan dr org-org kalangan Farisi dan Saduki ttg darimana kuasa yg dimiliki Yesus dgn menyuruh Dia melakukan suatu tanda dr surga. Ini sebuah pancingan yg mengarah pd kesombongan yg justru membuat kejatuhan Yesus nantinya di hadapan Bapa. Hal ini bs kita pahami ketika misalnya kita disuruh utk membuktikan bhw kita bs melakukan suatu mujizat, pdhal yg membuat mujizat adalah dari kuasa Tuhan yg bekerja di dlm kita, kalau Tuhan tdk mau melakukan mujizat, maka kita tdk akan bs menunjukkan mujizat Tuhan. Jika kita tetap berusaha menunjukkannya, itulah kesombongan dlm pengertian bhw kita lupa Tuhanlah yg telah bekerja melalui kita, tapi kita berusaha supaya org yakin bhw kita ini org yang ‘sakti’, main-main dgn kuasa Tuhan.

Org umumnya suka utk menjd populer dan bisa menarik bnyk perhatian di mata bnyk org, itulah ‘pintu’ utk meraup bnyk keuntungan dan peluang untuk mendapatkan bnyk uang. Buktikan bahwa dirinya hebat dan layak utk dikagumi dgn segala cara, yg penting viral dulu. Tetapi kita bersyukur masih bnyk org yang tetap rendah hati dan tidak sombong walaupun mereka punya sesuatu yang mulia. Populer dipandang hanya suatu dampak yg tdk terhindarkan, bkn sesuatu yg sengaja utk dicari. Ini bs terlihat dari bgmna org itu bercerita ttg kuasa Tuhan yg bekerja dlm hidupnya, bukan menceritakan kehebatan dirinya sendiri, tidak perlu utk pamer ‘kesaktian’ untuk mendapatkan pengakuan dr bnyk org, yg terpenting ialah tetap mendpt perkenanan dr Tuhan, tdk gila hormat & pujian dr manusia. Ketika orang lain meragukan kita, jgn terpancing utk membuktikan diri demi sebuah pengakuan, yg terpenting adalah hasil dr apa yg kita perbuat, itu sdh menjd bukti yang tdk terbantahkan. Dikomentari negatif dan difitnah, jgn pedulikan dan jgn dibalas, cukup bawa dlm doa dan tetap fokus pada apa yg kita kerjakan.

Org lain meragukan kita itu hal yg wajar, tidak disukai dan berusaha utk dipermalukan di dpn umum adalah suatu cobaan yang Yesus sendiri pernah mengalaminya, contohlah bgmna Yesus menghadapi semuanya itu.

Posted in Renungan | Comments Off on Dipancing Membuktikan Diri Hebat