Harta di Surga

DI 29082022

Lukas 18:22
Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Jenjang kehidupan menurut pandangan umum yg semua org idamkan adalah memiliki 3 hal ini dlm hidup mereka : harta kekayaan, tahta yaitu kekuasaan dan cinta atau keluarga yg bahagia. Itulah yg mereka cari seumur hidup mereka.

Sayangnya, di mata Tuhan, 3 hal itu bukan yang utama dan bukan yg primer bagi hidup manusia, melihat dr jawaban Yesus pada seorg pemimpin muda yg sangat saleh, sudah melakukan semua yg Taurat perintahkan. Yesus menyuruhnya utk meninggalkan 3 hal yg dia miliki lalu pergi untuk mengikut Yesus. Apa yg ingin Yesus sampaikan sebenarnya pada kita? Jangan mengikatkan diri dgn semua yg ada di dunia ini: harta, tahta dan cinta, semuanya kita tinggal semua saat nanti kita meninggal, kembali pd Tuhan. Peti mati yg paling mahalpun tidak bs kita nikmati kalau kita sdh meninggal nanti. Yesus menyuruh org muda itu utk menjual seluruh hartanya lalu berbagi dg orang miskin. Inilah jenjang kehidupan yg Yesus inginkan dr hidup kita: selain kita memiliki harta, tahta dan cinta, kita jgn terikat dgn semuanya, lalu masuk dlm fase kehidupan rela berkorban dan berbagi dgn sesama. Jadi Tuhan ingin kita memiliki harta di surga dengan mempraktekkan hidup berbagi dg sesama atas dasar mengasihi Tuhan dan sesama. Menjd berkat dan memiliki hidup yg tdk terikat dgn semua yg ada di dunia ini, tapi mengikatkan diri pd Tuhan.

Seumur hidup hanya mencari harta, tahta, cinta, kapan ada waktu utk menyiapkan harta di surga yg Yesus katakan itu? Kita ini spt org yg berniat tinggal di luar negeri, harus mempersiapkan apa yg hrs kita siapkan untuk bs dgn baik tinggal di sana nantinya. Kita ini akan meninggalkan dunia ini: ke surga atau neraka. Kalau mau ke neraka, tdk butuh persiapan apapun, hidup dlm dosa & hujatlah Tuhan, otomatis pasti masuk neraka, tp utk masuk surga itu ada persyaratan yg hrs kita penuhi. Itulah knpa butuh persiapan, jgn cuma menghabiskan umur kita untuk mencari 3 hal di atas. Hidup di dunia hanya sementara, tp nanti di surga atau neraka akan hidup kekal, pilihan ada di tangan kita, mau kekal di nana nantinya, dan jgn salah pilih. Mengikut Tuhan bkn hanya berarti menjd org Kristen, masuk dlm pelayanan dan taat pd firman Tuhan, tp di mana Tuhan ada kitapun harus ada di sana, artinya kita hrs ada di surga nantinya. Kerjakan keselamatan yg Tuhan berikan pada kita sehingga nantinya kita terima keselamatan yg utuh yaitu tinggal bersama dgn Tuhan di surga yg kekal. Jgn terikat dgn semua yg fana di dunia ini, semuanya tdk bs kita bawa saat nanti kita meninggal.

Kematian adalah antrian tanpa nomor antrian, kita tdk tahu kpn giliran nama kita dipanggil, hrs siap saat waktunya tiba, dan apakah kita siap kalau ternyata waktunya telah tiba utk kita?

Posted in Renungan | Comments Off on Harta di Surga

Kesendirian Dengan Tuhan

DI 27082022

Kejadian 22:19
Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.

Abraham pergi bersama Ishak dan 2 bujangnya, artinya ada 4 org yg pergi, tp di ayat ini hanya 3 org saja yg kembali setelah peristiwa Abraham hendak mengorbankan Ishak atas perintah dari Tuhan, Ishak di mana?

Secara logika, pastinya Ishak masih tetap ada di gunung itu, ditambah bukti saat Sara meninggal dunia di pasal selanjutnya (Kejadian 23), hanya dicatat bhw Abraham saja yg menguburkan, tapi nama Ishak tdk disebut. Wajarkah seorang anak tdk hadir saat penguburan ibunya? Maka secara logika bs kita simpulkan bhw Ishak ada di atas gunung di Tanah Moria, selama sekian waktu, br di Kejadian 24, Ishak baru muncul lagi berkaitan dgn pencarian jodoh yg dilakukan Abraham utk dia. Berapa lama Ishak ‘menghilang’? Tidak dgn jelas ditulis dlm Alkitab, tp mungkin utk jangka waktu yg cukup lama. Sendirian di gunung, apa yg Ishak kerjakan? Ini memang sebuah misteri yg tetap menjd sebuah rahasia, tp secara logika bs kita simpulkan, agaknya Tuhan sendiri yang hendak melakukan ‘sesuatu’ terhadap Ishak, spt Dia menghabiskan sekian waktu bbrpa kali utk menemui Abraham, ada kemungkinan Tuhan & Ishak ada dlm sebuah ‘pertemuan’ sesuai dgn yang Tuhan tetapkan. Jadi bukan hanya menguji ketaatan Abraham, memang ada tujuan khusus Tuhan menyuruh Abraham membawa Ishak ke gunung itu, hingga akhirnya Ishak pulang di saat yg Tuhan tentukan.

Dlm hidup setiap kita, ada saat-saat tertentu di mana Tuhan butuh kita ‘menyendiri’ hanya dgn Dia saja, terlepas apakah kita sdh berkeluarga ataukah di masa kita blm menikah. Ini utk hal yg Tuhan anggap penting utk masa depan kita, Dia minta kita taat menyediakan waktu khusus utk hanya bersama Tuhan saja. Wujudnya bisa doa puasa sekian hari, tanpa melakukan aktivitas yg kita lakukan sehari-hari, atau sengaja pergi utk berdoa khusuk di sebuah tempat yg sunyi, atau sesuai dgn petunjuk yg Tuhan berikan. Nasehat rasul Paulus membolehkan suami istri dengan sengaja utk memisahkan diri sementara waktu demi bs berdoa dan berpuasa:

1 Korintus 7:5 ILT
Janganlah saling beralasan seorang terhadap yang lain, kecuali atas dasar persetujuan bersama untuk sesaat, supaya kamu dapat leluasa untuk berpuasa dan berdoa; dan bersatulah kembali dengannya, supaya Setan tidak dapat mencobai kamu karena kurangnya pengendalian dirimu.

Tentu hal ini sudah dibicarakan dan disepakati oleh suami dan istri, jd tidak berkomunikasi dan berhubungan layaknya suami istri untuk jangka tertentu, setelah selesai doa puasa, kembali utk menjalani kehidupan sbg suami istri dg normal. Itulah sebabnya, ketika berpuasa, suami istri tdk dianjurkan melakukan kontak fisik (hubungan sex) selama sekian hari masa puasanya.

Taatkah kita ketika Tuhan ingin kita menyendiri hanya dgn Dia? Beranikah meninggalkan semua aktivitas demi taat pd Tuhan dlm hal seperti ini? Ketidak taatan selalu membawa dampak yang negatif utk masa depan kita.

Posted in Renungan | Comments Off on Kesendirian Dengan Tuhan

Rela Melepaskan

DI 26082022

1 Raja-raja 3:24-26 (TB) Sesudah itu raja berkata: “Ambilkan aku pedang,” lalu dibawalah pedang ke depan raja.
Kata raja: “Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain.”
Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: “Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia.” Tetapi yang lain itu berkata: “Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!”

Kisah perebutan seorg bayi oleh 2 org ibu dalam zaman raja Salomo memerintah, tentu kita pasti pernah membacanya, dan mgkin kita terkejut dg keputusan raja Salomo utk ‘membelah’ bayi itu menjadi 2, koq malah dibunuh bayinya? Kejam.

Pd akhirnya kita tahu siapa ibu sebenarnya dari bayi yg hidup itu, dia rela menyerahkan bayinya demi anaknya bs tetap hidup. Kasih seorang ibu pasti bs dibuktikan yaitu apapun dilakukan demi sang anak bs tetap hidup. Berani berkorban dan kehilangan demi suatu kehidupan, itulah kasih yang sejati, spt Bapa rela memberikan Anak-Nya yang tunggal supaya kita bs diselamatkan. Bukti kasih kita adalah bukan bnyk berbuat kebaikan, karena orang atheis pun bs melakukannya juga, tp kasih yg dr Tuhan rela melepaskan demi satu kehidupan tetap terjaga. Itulah mengapa Yesus mengucapkan perkataan ini saat Dia bersama dg para murid: Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yohanes 15:13). Kasih yg rela memberi nyawa, tdk smua org sanggup utk melakukannya. Kerelaan ialah bagian dr mengasihi, dilakukan dg sepenuh hati dan tulus, berani berkorban demi sesuatu yang nilainya setimpal dgn apa yg dikorbankan. Bnyk kesaksian dlm realita kehidupan kita mengenai org-org yang rela berkorban nyawa demi org lain bs tetap menikmati kebebasan dan kehidupan.

Spt perintah raja Salomo yg kedengarannya itu kejam, menyuruh utk membelah bayi menjd dua, kadang keputusan Tuhan dlm hidup kita juga itu terlihat ‘kejam’, kenapa kita yg hrs melepaskan dan hrs kitalah yg berkorban? Kenapa Tuhan yg memberi tp Dia jg yg mengambilnya? Kita ingat saat Abraham diperintah Tuhan utk membawa anaknya, Ishak, yg adalah anak yg Tuhan sendiri janjikan lahir di masa tua Abraham, utk menjadi korban bakaran di gunung (Kejadian 22). Br saja senang menikmati punya anak di usia tua, tapi Tuhan suruh utk menjadikannya korban bakaran dan tentunya Abraham sndrilah yg akan menjadi eksekutornya, menikam anaknya sendiri, artinya hrs membunuh Ishak, membunuh anak tunggal yg lahir dr keajaiban Tuhan. Koq Tuhan kejam & rasanya ‘enteng’ saja mengeluarkan perintah yg spt itu? Salomo jg terlihat ‘enteng’ saja saat dia memerintahkan membelah bayi itu menjd 2 lalu menyerahkan masing-masing setengah pd 2 ibu yg sdg berperkara itu. ‘Kekejaman’ ini tujuannya utk menguji kasih kita, benarkah kita adalah org yg memiliki kasih yg murni, benarkah kita ialah org yg rela melepaskan demi suatu kehidupan bs tetap ada.

Ingat, kasih kita teruji bukan saat kita banyak & senang berbuat kebaikan, tp ketika Tuhan ingin mengambil kembali apa yg pernah Dia berikan, itu hanya utk menguji kemurnian kasih kita.

Posted in Renungan | Comments Off on Rela Melepaskan

Jangan Pandang Status Sosialnya

DI 25082022

Keluaran 23:3
Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya.

Dlm pemikiran org pd umumnya, org miskin itu biasanya org yg tertindas, org yg teraniaya, dan segala penilaian lain yg membuat kita lebih pny simpati yg lebih utk org miskin ketika suatu hal atau perkara terjd atas mereka.

Jadi di sini kita belajar utk menilai sesuatu tidak berdasarkan status sosial seseorg, artinya bhw org yg jahat, org yg brengsek, yang tdk bermoral, dsbnya itu bisa ada di semua kalangan, baik org yg kaya, menengah maupun yg miskin. Org bisa sengaja membuat dirinya terlihat miskin, terlihat sbg korban, teraniaya, yg dirugikan, pdhal mrka yg justru adalah pelaku kejahatannya. Bermain sbg ‘korban’ demi mendpt simpati publik karena memang publik lebih ‘percaya’ pd kesaksian org yg teraniaya apalagi dia juga miskin, orang kaya biasanya dianggap menyalah gunakan hartanya utk berbuat sewenang-wenang. Ini bs terjd krna pemahaman yg berlaku secara umum: ‘yg kuat menindas yg lemah’, belum lagi trauma sejarah bila dulu pernah dijajah bangsa lain. Dlm kasus yg masih belum jelas, tetap hrs netral dan tidak memihak pihak manapun, sampai ditemukan yg layak disebut saksi dan kesaksiannya itu benar, bkn saksi dusta. Jgn sampai kita tertipu dengan penampilan luar seseorg, tapi dengarkanlah apa yg dikatakan para saksi, barulah suatu perkara bs dipertimbangkan utk menentukan siapa yang benar dan siapa yg salah.

Menilai suatu perkara atau kejadian tentu tidak bs dgn mengandalkan rasa kasihan dan apa yg terlihat oleh mata semata, perlu diselidiki motif dari suatu peristiwa yg terjd, kenapa itu terjadi & bagaimana itu terjd. Kisah raja Salomo yg pada akhirnya bs memecahkan satu perkara yg rumit bs kita jadikan contoh, ketika sulit menemukan fakta dan bukti-bukti, maka peran hikmat menjd penentunya (1 Raja-Raja 3:16-28). Org bs menjd saksi dusta, bukti bs sangat minim bahkan tidak ada, maka hikmat menjd solusi utk menentukan siapa yg benar dan siapa yg salah. Pengadilan yg manusia miliki bs saja membuat keputusan yg salah, menghukum org yg tdk bersalah, juga pelakunya malah dibebaskan. Dlm menentukan siapa yg salah di antara anak-anak kita yg suatu saat bertengkarpun, kadang kita sulit utk dapat memberi keadilan pd semua pihak. Jd memang sebaiknya kita jgn menggunakan perasaan yang dipengaruhi oleh apa yg terlihat oleh mata kita, org miskin belum tentu selalu jadi korban, orang kaya belum tentu selalu adalah penindas, karna org berbuat jahat itu bs saja org yg miskin atau kaya, tergantung apa perkara yang dihadapi, kita hrs meneliti suatu perkara scra mendalam.

Jgn menjd saksi yg menyatakan kebohongan, ini bs membuat nasib orang yg tdk bersalah dan jg keluarganya menderita, jadilah saksi yg jujur, ini yg diajarkan Tuhan pada kita.

Posted in Renungan | Comments Off on Jangan Pandang Status Sosialnya

Tuhan Yang Memberi Makan

DI 24082022

Pengkhotbah 3:13
Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.

Kita bs makan, minum, menikmati hasil dr kerja keras kita, apakah itu karena kehebatan yg kita miliki, atau itu pemberian dr Tuhan? Umumnya org akan mengatakan kedua pilihan itu benar.

Secara realita yg terlihat mata, kita yang bekerja, berdagang, berbisnis, berinvestasi, dsbnya, dan itu menghasilkan pemasukan yg menunjang utk kita membiayai kebutuhan hidup. Lalu knpa dlm ayat di atas disebutkan bhw itu pemberian dari Tuhan? Dlm bahasa aslinya, kata pemberian itu adalah ‘mattath’ yg artinya pemberian, upah. Jd dgn pengertian ini, kita bs pahami bhw kita bisa melakukan aktivitas harian kita, termasuk dalam hal bekerja dan berbisnis, itu sebuah ‘upah’ yang Tuhan berikan pada kita. Upah diberikan setelah sesuatu dilakukan sesuai dgn kesepakatan yang telah disetujui bersama:

Keluaran 23:25
Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu.

Jd kita bisa makan, minum dan menikmati hasil dr kerja keras kita itu adalah upah dari ibadah yg kita lakukan utk Tuhan, melayani Tuhan melalui keseharian hidup kita. Semuanya diberkati oleh Tuhan, artinya ada makanannya dan minuman, tersedia bagi kita.

Dlm ayat di atas, makanan, minuman, dan juga kesehatan menjadi 1 paket yg Tuhan sediakan bagi kita sbg upah atau reward dari ibadah kita pada Tuhan. Ibadah ini jgn diartikan sempit, bkn hanya bcra ttg ibadah tiap Minggu di gereja, tapi lebih kepada bagaimana kita hidup benar setiap hari di hadapan Tuhan. Kalau kita sakit, ini pasti mengganggu aktivitas harian kita, mengganggu pekerjaan kita, karena itulah kita perlu makanan, minuman dan kesehatan yg diberkati Tuhan, ada jaminan yg Tuhan berikan. Jadi jgn sombong & mengatakan bhw tdk ada peran Tuhan di dalam pencapaian finansial dan kualitas hidup yg kita capai sampai hari ini, seandainya Tuhan hari ini menyetop nafas kita, harta yg kita miliki pun tdk sanggup utk menahannya, apa sih yg pantas utk disombongkan di hadapan Tuhan? Nafas saja itu pemberian Tuhan juga. Jadi mengapa sblum kita makan biasanya kita berdoa? Itu waktu utk kita mengingat bhw Tuhan yg menyediakan apa yang bs kita makan hari ini, dan Dia memberkati utk kita nikmati, maka berdoa utk makanan dan minuman hrs disertai dgn ucapan syukur bahwa makanan dan minuman ini adalah wujud berkat Tuhan utk kita.

Menikmati hasil dari kerja keras kita itu sesuatu yg baik, tapi ingatlah bhw itu juga karena Tuhan yang memberikannya pd kita sebagai upah dari ibadah kita pd Tuhan.

Posted in Renungan | Comments Off on Tuhan Yang Memberi Makan

Seandainya Tidak Dilahirkan

DI 23082022

Ayub 3:11
Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?

Bagi sebagian org, hidup itu penuh penderitaan dan hal yg pahit, sedikit kemanisan dan hampir tdk pernah merasakan kebahagiaan yg panjang, hingga timbul pikiran: untuk apa aku dilahirkan di dunia ini?

Jgn mudah menghakimi org yg berpikir seperti itu, karena org yg saleh spt Ayub saja ternyata sempat jg berpikir demikian. Kadang kita mulai menghakimi org dgn mengatakan bhw itu karna kurang bersyukur, kurang memaknai kehidupan, berani melawan ketetapan Tuhan. Ya memang ketetapan Tuhanlah yg membuat seseorg lahir di keluarga yg spt apa, kalau dilahirkan dlm satu keluarga kaya raya, tentu hidupnya nyaman dan jarang mengalami kesulitan finansial, tapi yang dilahirkan dr keluarga miskin, broken home, dan mgkin yatim piatu sejak lahir, apakah bisa kita langsung menghakimi bhw itu karena akibat dr dosa? Hanya Tuhan yg tahu persis alasan knpa Dia menempatkan kelahiran seseorg di keluarga yang bgmna, tapi percayalah bhw Tuhan itu adil, tiap org punya kesempatan yg sama utk hidup bahagia, bahkan org kayapun mengalami tidak bahagia dlm sisi hidup yg berbeda, secara uang tdk berkekurangan, tp mgkin dlm hal yg lain, dia mengalami penderitaan scra jiwa yg tergolong berat. Jadi jgn berpikir bahwa Tuhan salah saat menempatkan seseorg lahir di keluarga yg spt apa, karena pd dasarnya Tuhan mengasihi dan menginginkan setiap org hidup dlm keadaan yg baik.

Selama kita hidup di dunia pasti ada mengalami penderitaan, semua org mengalaminya walau di dlm wujud penderitaan yg berbeda. Sikap kita di dlm menjalani kehidupan ini menjd penentu utk perubahan hidup yg akan kita alami di masa yg akan datang, kalau ingin mengubah ke arah yg lebih baik, mulailah dr sekarang, berdamailah dg latar belakang hidup kita, artinya bisa menerima bahwa semua itu adalah ketetapan Tuhan, jgn iri dgn hidup org lain, itu hanya menahan langkah kita utk terus maju ke arah yg lebih baik. Orang hanya bs berkomentar tp sedikit saja yang mau mendampingi kita meraih masa depan yg lebih baik. Dlm penderitaan Daud, dia punya Yonatan sbg saudara ipar sekaligus sahabat terbaiknya, dia punya org-org yg mendukung dia hingga dia bs sampai menduduki tahta raja. Memang pasti ada hal yg pahit kita alami, tp pasti Tuhan juga menyediakan hal yg manis bagi kita. Semua yg terjd dlm hidup manusia di dunia ini ada musim atau masa ‘expired’nya, spt saat musim hujan pasti frekuensi hujan lebih banyak drpd musim kemarau, itulah sebabnya kadang penderitaan yg kita alami itu muncul silih berganti, mungkin karena hidup kita sedang mengalami ‘musim’ yg dinamakan musim ujian kehidupan dr Tuhan. Yg penting jgn sampai kita kehilangan iman.

Ingat Tuhan itu adil, hari ini kita menderita, suatu saat penderitaan itu berganti dgn sukacita, dan yg hari ini sedang bersukacita, siapkan diri krna suatu saat akan datang ‘musim kehidupan’ yang hanya ada sedikit sukacita di dlmnya.

Posted in Renungan | Comments Off on Seandainya Tidak Dilahirkan

Mendengar Saja Tidak Cukup

DI 22082022

Ayub 42:5 KJV
I have heard of thee by the hearing of the ear: but now mine eye seeth thee.

Aku telah mendengar-Mu oleh pendengaran telinga tapi sekarang mataku sendiri melihat-Mu

Hanya mendengar tentang Tuhan saja, Ayub bs hidup begitu saleh dan menjauhi kejahatan, tapi ternyata ini belumlah cukup utk menjalani hidup dengan kuat saat ujian Tuhan datang.

2x Ayub diuji Tuhan, ujian pertama dia lulus dgn baik, walaupun semua hartanya hilang dan dia hrs kehilangan semua anak-anaknya, dia masih bisa tetap berkata benar ttg Tuhan, namun saat ujian yg kedua yaitu nyawanya hampir terancam oleh sakit penyakit, dia gagal dan berdosa dlm perkataannya, dia berkata bhw lebih baik dia tdk usah dilahirkan ke dunia (Ayub 3). Ayub tetaplah manusia biasa, ada benih dosa dlm dagingnya & saat itu dia kalah melawan pikirannya yg salah ttg hidupnya. Keraguannya ttg apa yg dia dengar ttg Tuhan itu mulai muncul dan menguasai hati dan pikirannya, penderitaannya yg luar biasa itu mulai menekan jiwanya, dan dia menyalahkan Tuhan ttg hari kelahirannya. Mendengar khotbah saja tdk cukup, menonton tayangan medsos ttg khotbah dan kesaksian saja belum cukup, tapi kita sendiri hrs mengalami Tuhan secara pribadi dan membuktikan bhw semua yg ada di Alkitab ttg Tuhan itu benar dan bukan dongeng, bukan karangan para nabi zaman dulu, teori juga harus ditindak lanjuti dgn latihan dan praktek, barulah itu menjd suatu pengetahuan yg sempurna, jadi kitapun tdk cukup menjd ‘ahli Alkitab’ tapi perlu berlanjut sbg pelaku firman Tuhan.

Melihat dgn mata sendiri artinya menjadi saksi, tahu persis bahwa sesuatu yg benar itu yg mana dan seperti apa. Kalau hanya mendengar, belum bs dikategorikan sbg saksi, karena perkataan & suara belum tentu menggambarkan situasi yang sebenarnya. Jgn jadi fans hamba Tuhan tertentu tapi jadilah pengikut Kristus yg setia, khotbah yg bagus dan berbobot tetap tidak bisa mengubah hidup dan karakter kita kalau kita tdk bertekad utk menjd pelaku firman. Jgn fanatik dgn gereja kita, seolah-olah gereja kita punya doktrin yang paling benar, karena doktrin gereja kita tdk bisa memberikan kita jaminan keselamatan, tapi kita lebih baik fanatik pada Tuhan, yakin bhw hanya Tuhan Yesus Kristus saja yg memberi jaminan keselamatan, tuhan yang lainnya tidak sanggup utk menjaminnya. Ingatlah bhw tdk ada satupun hamba Tuhan dan gereja yg sempurna, tapi yg pasti sempurna hanyalah Tuhan, beriman pada Tuhan, bkn pd hamba Tuhan ataupun doktrin dr gereja kita, biarlah mata kita tertuju pada Tuhan sehingga saat kita ‘menutup mata’ nanti, yang kita lihat bukanlah yang mengerikan, tapi yang kita lihat adalah Tuhan sendiri yang menyambut ‘kepulangan’ kita.

Tetaplah setia dalam melakukan firman Tuhan, apapun situasi yg sdg kita alami, jangan goyah tapi tetaplah pandang Tuhan, jgn biarkan benih dosa menguasai hati dan pikiran kita.

Posted in Renungan | Comments Off on Mendengar Saja Tidak Cukup

Pencemaran Rohani

DI 20082022

2 Korintus 7:1
Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.

Pencemaran dlm kalimat ini merujuk pd apapun yg bs merusak atau menggagalkan kekudusan kita di hadapan Tuhan, dan ternyata ada 2 jenis pencemaran yaitu pencemaran daging/tubuh & pencemaran rohani.

Kita tahu dlm Alkitab bahwa bagi bangsa Israel ada aturan mengenai kekudusan tubuh, semua diatur dlm hukum Taurat dan setiap orang Israel hrs taat dan jika melanggar maka ada hal-hal yg hrs dilakukan supaya keadaan mereka kembali menjd kudus. Dlm keseharianpun kita jg sangat memperhatikan kondisi kebersihan tubuh, itulah sebabnya mandi dan membasuh bagian tubuh menjd cara utk membersihkan diri dr kotoran yg sempat melekat pd tubuh kita. Dlm hal dosapun kita mengenal ada 2 jenis, dosa yg melibatkan tubuh kita, seperti membunuh, berzinah, dsbnya, dan ada dosa yang berkaitan dgn roh dan rohani kita, misalkan dosa dlm hati dan pikiran, ketidak taatan pd Tuhan, penyembahan berhala, dsbnya yg membuat kekudusan hidup kita menjd rusak dan kita tdk kudus di hadapan Tuhan sehingga tentunya ini bs menghambat bnyk hal, sehingga dia kita bs menjd tdk didengar Tuhan, kita sulit utk berdoa dan merasakan hadirat Tuhan. Karna itulah penting bagi kita utk menjaga roh supaya bebas dr segala macam kecemaran yg merusak hubungan kita dgn Tuhan, jgn hanya telaten dlm menjaga kebersihan fisik/tubuh saja.

Pencemaran rohani pasti berhubungan dengan 2 hal: Tuhan dan firman-Nya. Sengaja tidak mau taat pd Tuhan dan firman-Nya jelas menjd tanda adanya sesuatu yg cemar telah ‘melekat’ pd roh kita, apalagi kalau terlibat okultisme dan semua jenis penyembahan berhala, roh kita mulai bisa dikendalikan oleh roh jahat dan akhirnya hidup kita berakhir dgn mengenaskan. Yang penting utk jd perhatian kita adalah apa yg disebut dgn ‘benih dosa’, yaitu pikiran dan dorongan yg kuat mendesak kita utk berbuat dosa. Sebelum benih dosa berubah menjd perbuatan dosa yang tentu saja dilakukan dengan menggunakan tubuh kita, maka kita hrs segera mematikan benih dosa ini, spt kita memadamkan api yg masih kecil spya tdk membesar dan bs membakar. Jgn biarkan benih dosa menjd perbuatan dosa, tetapi ingat bhw keinginan yg timbul dlm hati dan pikiran yg didorong oleh benih dosa, itu sudah membuat cemar roh dan rohani kita, perlu kita bersihkan dan buang dr hati dan pikiran. Walaupun belum berwujud perbuatan dosa, namun itu tetaplah dosa yg mencemari roh kita. Jadi amat penting bagi kita utk memiliki hati dan pukiran seperti yg ada dlm pikiran Kristus (Filipi 2:5).

Tetap hidup di dalam kekudusan, waspada dgn segala hal yg bisa mencemarkan tubuh dan roh kita, jgn biarkan benih dosa mengendalikan hati dan pikiran kita.

Posted in Renungan | Comments Off on Pencemaran Rohani

Kapan Dihakimi Tuhan?

DI 19082022

1 Petrus 4:5
Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

Tuhan menghakimi org yg hidup dan yg mati, jd bs kita simpulkan bhw ada 2 jenis penghakiman Tuhan yaitu ketika seseorang masih hidup, atau nanti setelah seseorg telah meninggal.

Dunia jg punya pengadilan yg menghakimi apa yg diperbuat manusia kalau melanggar aturan & ketentuan hukum yang berlaku di suatu negara atau lingkungan. Kita tahu ada level pengadilan di negara kita, mulai dari pengadilan negeri yang ada di kota masing-masing hingga Mahkamah Agung sbg pengadilan yg tertinggi. Apakah bisa pengadilan di dunia ini memberi keputusan yang salah? Bbrpa kasus vonis yg salah pernah terjd, belum lagi kalau ada ‘kong kalikong’ dg petugas pengadilan, yg seharusnya bersalah dan ditahan malah bs ringan hukumannya atau malah bebas tanpa syarat. Semua org umumnya percaya bhw sekalipun seseorg bisa lolos dr penghakiman di dunia ini, dia tdk akan lolos dari penghakiman di ‘akherat’, kalau dalam iman Kristen, kita percaya bhw semua orang akan dihakimi Tuhan setelah nantinya meninggal. Bagi kita yg beriman dalam Kristus, kita memang tetap dihakimi, tapi bukan utk dihukum, karena Kristus telah memberi kita pengampunan dosa dan keselamatan, sehingga penghakiman ini berakhir dgn kebahagiaan yg tentunya kita semua mengharapkannya : Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat (2 Korintus 5:10).

Penghakiman Tuhan pd seseorg yg masih hidup ini berhubungan dgn hukum ‘tabur tuai’, beda dg penghakiman stlah meninggal yg berhubungan dg ‘memberi upah’ sesuai dgn perbuatannya. Ini kelihatannya keduanya mirip, tapi ada hal yang penting perlu kita ketahui. Selama masih hidup di dunia ini, seseorg bs berubah, yg baik bisa jd jahat dan murtad, yg jahat bs bertobat dan jadi org baik, setelah meninggal, keadaan yang akhir hidup seseorg itu sudah tdk bs diubah lagi, tidak punya kesempatan lagi utk bertobat. Maka kita tahu bhw penghakiman Tuhan terhadap org yg sdh mati bersifat final: masuk surga atau neraka sedangkan penghakiman Tuhan selama org itu masih hidup, belum menentukan masuk surga atau neraka, itulah kenapa hanya berhubungan dgn hukum tabur tuai saja. Tdk hidup menjaga kesehatan misalnya, penghukuman Tuhan bisa berupa org itu matinya karena sakit penyakit. Tp perlu diingat bhw tdk semua org yg meninggal karena sakit itu berarti dia punya dosa besar & dihukum Tuhan, jangan berpikir spt itu, yg perlu jd perhatian adalah lebih baik mati karena sakit tp ada pertobatan daripada mati sehat tapi dlm keadaan murtad dr Tuhan, kehilangan apa yang awalnya dia miliki: keselamatan dr Tuhan.

Bertindaklah hati-hati, apapun yang kita lakukan akan diadili oleh Tuhan, yang terpenting adalah jgn sampai kita mati dlm keadaan tanpa adanya pertobatan dlm hidup kita, tetap beriman dalam Kristus dan menerima keselamatan seutuhnya dr Tuhan.

Posted in Renungan | Comments Off on Kapan Dihakimi Tuhan?

Menderita Karena Berbuat Baik

DI 18082022

1 Petrus 2:20 KJV
For what glory is it, if, when ye be buffeted for your faults, ye shall take it patiently? but if, when ye do well, and suffer for it, ye take it patiently, this is acceptable with God.

Sebab apa mulianya, ketika kamu dipukul karena kesalahan-kesalahanmu, kamu dengan sabar menerimanya? Tapi jika, ketika kamu berbuat baik, dan menderita karenanya, kamu dengan sabar menerimanya, ini adalah yang berkenan dengan Tuhan.

Sejak dulu kita biasa diajarkan, berbuat baiklah maka keadaan kitapun menjadi baik, tdk punya musuh dan hidup kita jadi damai, jangan menjd pembuat keonaran, supaya kita tidak perlu utk bermasalah dgn org lain.

Tapi realita kehidupan justru membuktikan bhw sekalipun kita sdh berbuat baik, tetap saja ada org-org yg tdk senang dgn perbuatan baik kita, apalagi kalau sampai mengganggu pendapatan atau sumber penghasilan mereka. Di dunia ini, tdk semua org suka dgn kebenaran, peraturan & etika serta kemurnian motivasi dlm melakuksn sesuatu. “Menyimpang sedikit tak apalah, mana ada sih org yg benar-benar lurus dan jujur? Lihat saja di semua profesi dr yg terhormat sampai ke yg jahat sekalipun, semuanya tidak 100% punya kejujuran dan niat baik, yang penting bgmna kita bs mempertahankan posisi kita atau menggeser posisi org lain dan kita rebut.” Mereka yg punya pikiran spt ini tidak sedikit jumlahnya, malah dg bangganya masih ‘pamer” kereligiysannya demi menutupi prinsip hidup yg sebenarnya dia anut. Banyak membawa-bawa nama Tuhan di dalam perkataannya, mengutip ayat-ayat dan kalau sdg berdoa kelihatan sangat ‘intim’ dgn Tuhan. Tapi apakah Tuhan berkenan dgn org yg seperti itu? Dari ayat yg kita baca, Tuhan berkenan pd orang yang menderita sekalipun itu karena dia berbuat baik, yg tetap memegang teguh prinsip hidup yg berdasar pd kebenaran firman Tuhan.

Sabar menderita, artinya penderitaan yg dialami itu sangat besar atau mgkin jumlah penderitaan yg hrs ditanggung sangat banyak. Menderita yg dlm jangka waktu panjang. Di sinilah akan kita bs lihat, siapa yang melakukan kebaikan karena mengasihi Tuhan dan siapa yang berbuat baik karena alasan ‘transaksional’ semata, artinya ia berbuat baik karena ingin mendapatkan reward atau balasan dr org lain, jd ‘sengaja’ berbuat yg baik dan bersikap manis demi sesuatu, bknkah ini mirip dgn org yg menjual sesuatu? Bersikap ramah dan manis terhadap calon pembeli demi mengharapkan terjadinya transaksi jual beli? Ini yg dimaksud dgn ‘transaksional’, melakukan dan berharap menerima balasannya. Kalau merasa ‘rugi’ maka dia berhenti berbuat baik pd org itu, dan bahkan bs menjelek-jelekkan nama baik org itu karena ‘sakit hati’ kenaikannya tdk terbalas. Jgn sampai kita menjd org yg seperti itu, sadar bhw Tuhan tahu isi hati dan pikiran kita, semua yg kita pikirkan dan perbuat sedang dinilai oleh Tuhan dan suatu saat Dia minta pertanggungan jwbannya dr kita, Dia akan memberi upah untuk hal baik yg berkenan kepada-Nya, dan memberi hukuman utk hal buruk yg kita lakukan.

Menderita karena berbuat baik, sabarlah untuk menanggungnya, sekali waktu semuanya akan berakhir dan kita menerima upah yang baik dari Tuhan.

Posted in Renungan | Comments Off on Menderita Karena Berbuat Baik