DI 11052022
Galatia 2:11
Tetapi waktu Kefas (Petrus) datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.
Hal yg sulit utk dilakukan dlm pelayanan ialah bgmna kalau pemimpin berbuat kesalahan, ada yg berani menegurnya atau tidak? Dalam ayat ini Paulus dgn secara terbuka menegur Petrus yg berlaku munafik saat itu.
Kisahnya ttg saat Petrus yg saat itu menjadi pemimpin dr para rasul, makan bersama dgn org-org yg tdk bersunat, namun saat Yakobus dan rombongannya datang, Petrus perlahan mengundurkan diri spya tdk ketahuan makan bersama dgn mrka yg tdk bersunat. Mungkin kita berpikir memang karakter rasul Paulus ya spt itu, terlalu frontal dan mungkin terlihat emosional, namun kita harus melihatnya dari sudut pandang firman Tuhan, yg bersalah itu tetaplah hrs ditegur supaya tahu dia bersalah dan mau utk bertobat. Boleh dikatakan saat itu rasul Petrus adalah orang ‘no.1’, pemimpin dr para rasul, sementara Paulus saat itu baru saja diakui kerasulannya oleh mereka. Kalau zaman skrg mungkin kita berpikir itu tindakan yg tdk sopan, hrsnya ditegur 4 mata dulu, jgn diumbar aib pemimpin yg berbuat salah, dan mgkin ada banyak alasan lainnya. Takut nanti gereja bs bubar kalo zaman skrg kejadiannya. Apakah Paulus terlalu berlebihan? Pansos dg memanfaatkan kesalahan Petrus demi bisa dipuji-puji oleh jemaat krna dia rasul yg baru?
Pendeta atau rohaniwan selalu dianggap spt malaikat, pdhal malaikat saja ada yg berdosa dan dibuang dr hadapan Tuhan. Pendeta hrs sempurna, tdk boleh salah sedikitpun, harus jd model yg sempurna bagi mereka yg ingin menjadi Kristen yg baik. Tak jarang akhirnya para hamba Tuhan berusaha menutup ‘aib’ yg mrka lakukan dan ada jg yg baru menjelang akhir hidupnya, aibnya itu terkuak, jemaat dan pengerja jadi shock, tak jarang sampai terjadi perpecahan dlm grja, bahkan ada jemaat yg akhirnya tersandung dan murtad. Jadi pilih yg mana: ditegur kalau salah atau suatu saat baru terungkap dan efeknya sangat besar? Tindakan Paulus bisa menimbulkan banyak pendapat positif atau negatif, firman Tuhan hrslah tetap jd pedomannya. Rasul menegur rasul lainnya tentu ini hal yg pantas, ditegur bukan dgn 4 mata supaya ada efek jera, tidak mengulanginya lagi dan menjadi contoh bagi org lain. Paulus tdk sedang ‘pansos’, dia tetap menghormati Petrus sbg pemimpin dari para rasul dan jemaat Tuhan saat itu.
Menegur dgn motivasi yg murni, ini tentu hal yg baik, bukan utk menjatuhkan tp justru utk membangun kerohanian org yg berbuat dosa atau kesalahan, supaya bertobat dan kembali berkomitmen penuh melakukan firman Tuhan dgn konsisten.