Tidak Juga Bertobat

DI 03062024

Matius 11:20
Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya:

Mengalami mujizat belum tentu orangnya itu akan bertobat, hanya butuh mujizat dr Tuhan tp tdk butuh Tuhan, dan ini terus terjd hingga zaman ini.

Mungkin bila diteliti lebih lanjut, apakah dgn cara mengadakan KKR yg disertai pelayanan kesembuhan dan mujizat itu, relevan tdk dgn jumlah jiwa orang yg bertobat? Atau sekedar supaya ‘mengharumkan’ nama gereja? Dana yg dikeluarkan utk kegiatan ini apakah ada hasil pertobatan jiwa-jiwa? Mungkin sedikit jumlah org yang bertobat, selebihnya jemaat lokal yg hanya sekedar ingin melihat apakah mujizat akan terjd di KKR itu. Dari ayat yang kita baca, ternyata di tempat-tempat Yesus banyak melakukan mujizat, tempat-tempat itu ternyata minim tingkat pertobatannya, ini membuat kita paham bhw mengalami kuasa Tuhan blm tentu membuat org itu bertobat & rindu hidup baru di dalam Tuhan. Penginjilan yg efektif sebaiknya perlu di-update caranya sesuai dgn perkembangan zaman yg terjadi di zaman ini. Bukan diganti sama sekali cara penginjilannya, tetapi menemukan cara yang lebih sesuai dgn zaman ini.

Org yg mengalami mujizat belum tentu pasti mengalami perjumpaan dgn pribadi Tuhan yg melakukan mujizat itu. Ini 2 hal yg sangat berbeda. Dlm berbagai kisah dlm 4 kitab Injil kita temukan bbrpa kali Yesus melakukan dg cara yg luar biasa: melakukan mujizat bukan di lokasi di mana orang memerlukan mujizat, cukup hanya mengatakan sesuatu, di tempat lain mujizat sudah terjadi. Jadi lebih penting bagi tiap org utk mengalami perjumpaan dg Tuhan secara pribadi, bukan sekedar kagum dan senang melihat hal yg supranatural, tapi punya hasrat yang mendalam utk mengenal Tuhan lebih lagi. Awal perjumpaan dg Tuhan adalah pertobatan yg sejati, kesadaran akan bahaya dosa dlm hidupnya, keinginan untuk hidup meninggalkan ‘gelap’ menuju ‘terang’ Tuhan yg ajaib. Inilah yg Tuhan inginkan Dia temukan ketika Dia menyatakan kuasa-Nya yaitu sebanyak mgkin org bertobat.

Bagaimana dgn hidup rohani kita? Jgn kejar hanya berkat Tuhan, tapi kejar perkenankan Tuhan atas hidup kita, kenali pribadi-Nya dg lebih dalam, hingga nanti kita hidup di dalam kekekalan bersama Tuhan.

Posted in Renungan | Comments Off on Tidak Juga Bertobat

Keraguan Iman

DI 31052024

Matius 11:2-3 ILT3
Dan setelah Yohanes di dalam penjara mendengar pekerjaan-pekerjaan HaMashiakh, seraya mengutus dua murid-Nya
dia bertanya kepada-Nya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan yang lain?”

Dengan begitu yakinnya Yohanes Pembaptis mengawali pelayanannya sbg penggenap dr nubuatan ttg munculnya Mesias bagi Israel, namun dlm ayat ini, keraguannya mengusik imannya ttg Mesias.

Dlm hidup org Kristen, kita hidup dalam dua jenis dunia, yg pertama yaitu dunia jasmani yg kita sedang hidup sekarang, lalu dunia yg kita sebut dunia ‘rohani’, di mana kita hidup sbg anggota Kerajaan Surga. Inilah yg jadi penyebab bhw kadang kita diperhadapkan dgn 2 fakta: realita yg terlihat oleh mata kita secara jasmani, dan apa yg terlihat dgn mata iman kita (mata iman hanyalah sebuah jenis sebutan utk menggambarkan apa yg terlihat ketika kita mengaktifkan iman kita). Realita yg dilihat Yohanes Pembaptis & para murid adahah apa yg Yesus lakukan berbeda dgn konsep Mesias yg umumnya diakui banyak org sbg pembebas bagi bangsa Israel. Dua hal yg berbeda, mana yg benar? Pertanyaan yg diajukan Yohanes Pembaptis melalui dua muridnya menjd gambaran pertentangan yg ada dlm pikiran Yohanes Pembaptis, benar atau tidak, Yesus itu Mesias yg akan datang dan membebaskan bangsanya?

Setiap orang Kristen pasti akan mengalami ujian yg menggoncang imannya pada saat yg Tuhan tentukan. Umumnya terjd apabila org yg dikasihi meninggal dunia bukan pada kondisi atau waktu yg diharapkan. Mengapa Tuhan izinkan itu terjd? Kenapa Tuhan diam saja tidak menolong? Kenapa hrs mati tidak wajar? Kenapa hrs secepat itu? Tak jarang ada org yg menyalahkan Tuhan. Goncangan lain mgkin dlm hal finansial keuangan, yang sudah sukses bisnisnya, tiba-tiba terancam akan bangkrut, ditipu org, dsbnya. Musibah tiba-tiba terjadi begitu saja tanpa ada satu peringatan dr Tuhan sebelumnya. Mungkin spt Yohanes Pembaptis, dia dipenjara tapi Yesus tdk datang menemuinya, org yg kita beri banyak keuntungan, tp melupakan kita begitu saja. Apa reaksi kita saat mengalami ujian yg menggoncang iman kita? Jgn kita menyalahkan dan meragukan kasih Tuhan pada kita, ini hanya sebuah ujian, kita harus sanggup melewatinya.

Jgn kita mudah utk meragukan Tuhan shga iman kita mulai goyah dan kehilangan apa yg kita harapkan dlm iman, tetap percaya dg teguh, semua akan indah pada waktu Tuhan.

Posted in Renungan | Comments Off on Keraguan Iman

Bukti Beriman

DI 30052024

Matius 9:27-29
Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”
Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.”
Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”

Dua org buta akhirnya dapat melihat kembali setelah iman mereka bekerja seturut dengan kuasa Tuhan Yesus, inilah pelajaran yg bisa kita ambil dr kisah ini.

Apa bukti mereka beriman? Bukan pada saat mereka menjawab pertanyaan Yesus, namun sejak pertama kali mereka tahu bhw Yesus ada melintas di daerah itu, mereka mengikuti ke manapun Yesus pergi. Jgn pikir hal ini hal yg mudah, ingat bhw mereka itu buta, sukar sekali bagi mereka utk tahu posisi Yesus, ke kiri atau ke kanan, berhenti atau trs berjalan, belum lagi kalau rombongan Yesus bergerak agak cepat, sulit bagi 2 org buta ini bs tetap ada di dekat Yesus. Iman itu hrs diteruskan dengan wujud tindakan nyata, bkn sekedar percaya dan menunggu Tuhan dtg menolong saja, di sinilah seringkali banyak orang gagal mengalami kuasa Tuhan, mengaku beriman tetapi tidak aktif melakukan apa yg dia imani dan percayai. Beriman bukan sekedar comot ayat Alkitab lalu diperkarakan, kalau ayat itu bukan yg Tuhan pilih utk kita, pasti tdk akan kita menerima yg dari Tuhan, dan orang lain akan menganggap isi Alkitab itu dongeng.

Selanjutnya 2 org buta ini menjawab dengan tegas pertanyaan Yesus bhw mrka percaya Yesus sanggup menyembuhkan mata mrka sehingga mereka bs melihat kembali. Kalau kita ditanya langsung oleh Tuhan, Dia yang tahu isi hati dan pikiran kita, masihkah kita berniat berbohong? 2 org buta ini menjawab sesuai dgn kenyataan bhw benar mrka tetap percaya Yesus sanggup menyembuhkan, ini sesuatu yg perlu kita teladani. Beriman yang benar itu bukan sebentar beriman lalu nanti berubah tdk beriman, hrs konsisten percaya Tuhan itu sanggup di setiap waktu & apapun situasi sulit yg kita hadapi. Kalau dulu Tuhan menolong kita dgn masalah A, maka dengan iman jg kita tetap percaya bhw Dia juga akan menolong kita juga di masalah B. Jujur serta tetap beriman, ini yg Tuhan hargai dalam diri org Kristen, sehingga kita bs menerima apa yang kita ingini karena Tuhan melakukannya sesuai iman kita.

Masihkah kita percaya sampai hari ini Tuhan sanggup menolong kita? Jgn goyah karena keadaan dan waktu, pada saat-Nya Dia akan bertindak dan melepaskan kita dr masalah.

Posted in Renungan | Comments Off on Bukti Beriman

Percaya Belum Tentu Beriman

DI 29052024

Lukas 1:18-20
Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya.”
Jawab malaikat itu kepadanya: “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.
Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.”

Kadang kita menyamakan antara percaya dg beriman, apakah benar keduanya sama atau memang berbeda? Dari kisah imam Zakaria ini bs kita temukan jawabannya.

Apa respon kita ketika dengan mata sendiri kita melihat mujizat Tuhan terjadi di depan kita? Kagum? Terkesima? Sampai di situasi ini kita ada dlm fase percaya, ada bukti bhw mujizat Tuhan itu ada dan nyata, kita sendiri menyaksikan hal itu terjadi. Tapi apakah kita juga percaya bhw mujizat Tuhan itu dpt juga terjd pada diri kita dengan situasi yg sedang kita alami? Orang lain disembuhkan secara mujizat Tuhan, kita bersyukur dan takjub, tp bisakah Tuhan menyelesaikan kebuntuan yg kita hadapi? Apakah bisnis kita yg bangkrut bs dipulihkan Tuhan? Ini spt respon Zakharia ketika mendengar dia akan diberi anak tapi dia teringat kondisinya dan istri yg mustahil utk bs punya keturunan, percaya Tuhan kita Mahakuasa, pembuat mujizat, tapi tdk yakin hal itu akan terjd pd diri kita sendiri. Percaya tapi tdk beriman, kalau beriman berarti juga percaya bhw diri kitapun bs mengalami apa yg Tuhan lakukan mujizat pd org lain.

Keterbatasan yg kita miliki kadang jadi suatu halangan utk beralih dr sekedar percaya bhw Tuhan itu sanggup ke arah beriman bhw Dia akan memulihkan keadaan kita. Dosa yg ada pd kiri kitapun menjd halangan utk beriman bhw kita akan dilawat Tuhan. Namun dalam berbagai kisah di Alkitab, Yesus melakukan mujizat juga pd org berdosa, seringkali Dia mengampuni dosa dahulu baru melakukan mujizat-Nya spt ini: “Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?
Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” — lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu — : “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Matius 9:5-6). Tentu kita hrs melakukan pemberian dengan Tuhan, tetapi jg hrs bersiap utk mengalami mujizat-Nya, bukan sekedar percaya tetapi jg beriman.

Jangan hanya senang melihat org lain alami mujizat dan dipulihkan oleh Tuhan, mulailah untuk meneguhkan iman kita, percaya Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya dlm hidup kita.

Posted in Renungan | Comments Off on Percaya Belum Tentu Beriman

Meneliti Dangan Cermat

DI 28052024

Lukas 1:3-4 ILT3
setelah dari semula menyelidiki segala sesuatu dengan teliti, baik jugalah bagiku untuk menuliskannya secara teratur bagimu, hai Teofilus yang mulia,
supaya engkau dapat mengetahui kepastian firman yang mengenainya engkau telah diajarkan.

Penulisan Injil Lukas telah melalui satu cara metode penyelidikan yg teliti, selain supaya alur waktunya tepat, isi kebenaran yang ada di dalamnya juga hrs benar.

Hasil dari penyelidikan tabib Lukas ini dapat kita lihat dari kesesuaiannya dgn 3 kitab Injil lainnya yaitu Matius, Markus dan Yohanes. Bs kita bandingkan dg penolakan masuknya Injil Barnabas yg setelah diteliti, isi kitabnya banyak yg tdk sesuai dengan 4 kitab Injil yg telah diakui keberadaannya. Pelajaran yang bisa kita dapatkan adalah ketika kita berniat utk menyusun sesuatu, hrs di selidiki dengan teliti pada saat proses penyusunannya. Jgn asal mengumpulkan data tapi data itu tidak bs dipertanggung jawabkan keakuratannya atau ternyata bertentangan dgn data lain yg serupa. Dlm penelitian ini perlu metode yang pas dan diakui pemakaiannya secara umum, sehingga hasil penyusunan kita mendapat sebuah pengakuan bahwa isinya itu benar & dapat dipercaya. Perlu waktu utk bs dengan benar menyusun data-data yg ada menjadi 1 buku atau kitab yg kegunaannya utk semua kalangan pembacanya.

Kebiasaan utk menuliskan sesuatu sebagai sebuah dokumentasi menang mulai sedikit berkurang di zaman ini. Kita lebih mudah dg mendokumentasikan sesuatu dgn foto atau video, tp zaman yg makin canggih ini, video atau foto bs dgn mudah direkayasa seolah benar bhw itu asli, padahal rekayasa. Inilah gunanya dokumentasi secara tertulis, ketika diteliti bs ditemukan kesalahan yg ada dgn membandingkannya dgn data lain yg sama atau serupa, biasanya kita sebut itu ‘catatan kaki’, bs dicek kebenarannya. Kesabaran dan ketelitian menjd syarat utama bagi seorang penulis ketika ingin menyusun sesuatu yang adalah sebuah sejarah yang ingin digunakan sbg sebuah sejarah yg benar. Inilah yg menjd kerinduan tabib Lukas, mendokumentasikan apa yg Yesus lakukan, katakan, dan alami dr ketika dilahirkan hingga menjelang Dia naik ke surga, yg dia tulis dan susun, bs menjadi sebuah kepastian kebenaran isinya bagi org yg membaca kitab Injil Lukas ini.

Apakah kita sedang menyusun sesuatu yang ingin bs memberkati banyak org? Susunlah dgn penyelidikan yg teliti, supaya apa yg kita susun itu tdk diragukan kebenaran isinya.

Posted in Renungan | Comments Off on Meneliti Dangan Cermat

Harus Rela Terlambat

DI 27052024

Lukas 1:6-7
Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.
Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Yohanes Pembaptis lahir ketika kedua orang tuanya sudah lanjut umurnya, sesuatu yang bagi org umum beranggapan bhw pny anak di usia senja itu tidak ideal.

Biasanya inilah yg jadi alasan ketika orang bertanya pd seseorg yg sudah berusia cukup dewasa tp belum juga menikah: “Nanti anak baru remaja, kamu sudah kakek-nenek, msh bisa liat cucu? Jangan terlalu milih-milih!” Di satu sisi omongan ini benar, tp di sisi yg lain, kita juga temukan mereka yg sudah menikah tp belum juga punya anak. Dlm bbrpa bagian dr Alkitab, tercatat Abraham dan Sara punya anak setelah mereka lanjut usia. Rahel istri Yakub jg terlambat punya anak. Pelajaran yg bs kita dapat dr kisah mereka adalah bahwa sebagian org baru diberkati secara khusus justru di masa tuanya, bukan di masa muda mereka. Knpa begitu? Hanya Tuhan yg tahu pasti alasannya, dan tdk mudah jika kita ada di posisi spt itu, org lain sudah duluan terima berkat Tuhan, kita belum juga terima, bahkan Tanda-tanda akan tiba berkat Tuhannya juga tdk nampak, apakah hidup ini hanya datar & berlalu tanpa berkat Tuhan?

Di mata manusia, umur punya nilai yg tidak sama, misalnya usia senja biasanya menjadi suatu masa di mana seseorg tdk bs berbuat banyak karena kelemahan fisik, tdk produktif lagi, tinggal tunggu ‘dipanggil’ Tuhan saja, tp di mata Tuhan, usia senja sama berharganya dgn usia muda dan produktif. Itulah kenapa sebagian org barulah diberkati Tuhan secara khusus justru di usia tua mereka. Kelihatan tdk adil di mata manusia, tapi itu kedaulatan penuh yg Tuhan miliki atas hidup manusia. Zakharia dan Elisabet hidup benar, tp tidak punya anak sampai di masa tua. Agaknya jika Tuhan memberkati secara khusus pada masa tua seseorg, ada hal istimewa yg Dia rencanakan. Tapi org yg mengalaminya hrs rela ‘terlambat’, bukan di usia muda mereka tp justru di usia tua. Sikap hrs rela terlambat ini yg sedikit org saja yg memilikinya, orang yg menghargai hidupnya sama spt Tuhan yg menghargai hidup anak-anak-Nya di segala usia mereka.

Relakah kita utk ‘terlambat’ sementara orang lain sudah menikmati berkat khusus Tuhan? Yg mustahil bagi manusia, itu tidak mustahil bagi Tuhan utk melakukannya pd kita.

Posted in Renungan | Comments Off on Harus Rela Terlambat

Mengejar Kesia-Siaan

DI 25052024

Amsal 12:11 ILT3
Siapa yang mengerjakan tanahnya akan menjadi kenyang oleh roti, tetapi siapa yang mengejar kesia-siaan kurang berakal budi.

Apa yg dikejar di dunia ini? Ketenaran, harta berlimpah, kekuasaan? Bagi yg sudah dapat meraihnya, justru merasakan di satu situasi bhw dirinya merasa ‘hampa’ dan semua yang dia raih itu sesuatu yg sia-sia.

Banyak uang tp bunuh diri karena tekanan yg berat dlm pekerjaan atau bisnis, persaingan yg brutal dlm berbagai profesi membuat org kehilangan jati dirinya, yg kalah menjd orang yg tersingkirkan, menderita, yg menang jadi org yg munafik dan ‘berhati iblis’. Takut tidak terkenal lagi, takut miskin, takut jabatannya direbut, dsbnya, membuat org yg berkarakter baik berubah menjadi layaknya ‘hewan buas’ yg menakutkan. Apa nasehat penulis amsal ttg hal ini? Sederhananya: TAHU BATAS! Ini bs kita lihat dari kata ‘tanahnya’, tanah punya batas kepemilikan, mengerjakan tanah akan berdampak kenyang oleh roti. Tanah bicara ttg sumber penghidupan kita, kalau petani & peladang mengerjakan tanahnya, hasil yang didapat sebagian bs dinikmati sendiri, yang sebagian lagi bs dijual utk memperoleh laba atau keuntungan yg nantinya dipakai lagi utk trs bertani dan berladang. Org yg tahu batas berarti tahu apa yg dia kejar, tahu panggilan profesi yg Tuhan berikan padanya sbg pintu masuk mempunyai pendapatan.

Jadi apa yg bs digolongkan hal kesia-siaan? Ini tentu bukan bcra ttg sebuah profesi, krna 2 org dgn profesi yg sama, yg satu bahagia tp yg lainnya menderita. Jd ini ttg panggilan profesi dr Tuhan utk hidup tiap org. Ada org yg Tuhan panggil sbg bisnisman yg handal, hatinya tdk terikat oleh harta, tetapi berbagi dgn sesama. Ada org yg Tuhan panggil jadi dokter spesialis handal, lewat tangannya itu Tuhan bekerja menyembuhkan bnyk orang, atau ada yg panggilan Tuhan dlm hidupnya jadi seorg hamba Tuhan, dsbnya. Tiap orang wajib tahu ‘tanahnya’ masing-masing supaya dia tahu hrs mengejar apa dan menikmati dr hasil tanahnya, kalau bukan panggilan yang dr Tuhan, hidupnya akan merasa hampa dan harta bukan menjd berkat tp menjd beban yg sangat menekan hidupnya. Jgn tidak berakal budi, hrs bs menilai sesuatu, apakah sesuatu yg dikerjakan akan menghasilkan atau justru merugikan nantinya. Ilmu pengetahuan juga penting, tp tetap hrs berjalan sesuai dengan tuntunan Tuhan.

Bertanyalah pd Tuhan profesi yang memang Tuhan berikan pada kita, salah profesi hanya membuat hidup kita terasa hampa, penuh dg tekanan dan tdk merasakan damai.

Posted in Renungan | Comments Off on Mengejar Kesia-Siaan

Menyebar Harta

DI 24052024

Amsal 11:24
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.

Apa arti menyebar harta? Sebagian besar dr kita biasanya membayangkan hal itu dengan memberi bantuan dlm bentuk uang pd pihak yg membutuhkan. Benarkah begitu?

Hal ini mgkin karena perbandingan kalimat yg di bawahnya yaitu ‘berhemat’. Berhemat tentu beda dgn pelit, ini yang hrs dibedakan supaya kita jgn salah memahami ayat ini. Dg pengertian yg umum dimiliki bnyk org, maka hukum tabur tuai hrs jadi patokannya: ketika seseorg memberikan sejumlah uang pd org lain, maka terjd perpindahan hak milik dan jg hak pakai, dari yg memberi menjd milik org yg menerima. Sesuai hukum tabur tuai, org yg memberi uang ini tdk akan terima apapun karena uangnya itu bukan miliknya lagi. Yg tercatat adalah kebaikannya menolong org lain, tetapi uang yg dia berikan itu bukanlah taburan, karena kalau taburan, uang itu hrs tetap jd miliknya, kalau berpindah hak milik, berarti sudah bukan uangnya lagi, tidak ada yg dapat dituai dari yg dia berikan. Dengan pengujian ini maka pandangan ttg menyebar harta itu dgn memberi uang pd org lain yang membutuhkan jelas tdk tepat.

Agaknya ini ttg strategi bisnis, menyebarkan harta berarti menyebarkan hartanya itu ada di bbrpa tempat. Uang akan menghasilkan uang, ini baru cocok dgn hukum tabur tuai. Hanya punya 1 jenis usaha saja tidaklah baik karena jika terjd sesuatu pd usaha itu, maka buruklah situasi yg dihadapi. Tp jika banyak usaha yg dimiliki, jika salah satu terjd hal yg tdk diinginkan, masih bs bertahan karna ada pemasukan dr usaha yg lainnya. Jika semua usaha berjalan dgn baik, ini berarti semakin kaya, cocok dgn ayat di atas. Menghemat dg luar biasa tp selalu berkekurangan, ini suatu strategi bisnis yang salah. Modal hrs diputar, bukan disimpan, apalagi ketika baru merintis suatu usaha, perlu dana utk publikasi, untuk peningkatan kualitas bahan, dsbnya. Orang yg berbisnis biasanya hrs siap mental, siap utk untung dan rugi, dan ini berkaitan dg yg kita punya sebagai modal kita.

Gunakan strategi bisnis yg baik supaya kita bisa bertambah kaya dan tdk berkekurangan dlm apapun, hrs punya mental baja dan trs andalkan Tuhan di dlm kita berbisnis.

Posted in Renungan | Comments Off on Menyebar Harta

Terus Berbohong

DI 22052024

Amsal 10:18
Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah orang bebal.

Kenapa seseorg berbohong? Banyak alasan yg bisa jadi penyebabnya, namun salah satu yg diungkapkan dlm ayat ini adalah karena org itu menyimpan kebencian.

Kebencian disimpan mengakibatkan mulai terbentuknya rencana membalas dendam pd org yg dibencinya. Supaya rencananya tidak terbongkar, maka mulailah kebohongan dan kebohongan diucapkan. Tak heran seseorg yg menyimpan kebencian bs begitu berkata sangat ‘manis’ di depan org yg dibencinya. Seakan sudah mengampuni kesalahan org lain tetapi sebenarnya belum. Mengampuni hanya dr ucapan saja, bukan dr dlm hati yg penuh kasih. Karena itulah disarankan agar jgn memaksa org utk mengampuni org lain kalau hatinya belum rela utk mengampuni. Jika dipaksakan, maka suatu saat dendam yg ada dlm hatinya akan dilakukan dan bisa berakibat fatal bagi org yg dia benci. Nyawa bs melayang hingga tindakan kejam lainnya bs terjadi. Penipu tdk selalu dlm dunia bisnis saja, tp jg ada dalam ruang lingkup terdekat yaitu keluarga.

Kalau kita sadar bhw kita sudah dibohongi seseorg terus menerus, maka ada baiknya mendatangi orang itu dgn tujuan berdamai, ingin menyelesaikan permasalahan yg blm jg terselesaikan secara tuntas. Kita mungkin hrs siap mengganti kerugian yg org itu alami dan merendahkan diri utk meminta maaf jika memang kitalah yg bersalah. Seringkali kita merasa tdk bersalah apa-apa, pdhal org lain merasa dirinya kita sakiti lewat ucapan dan juga perbuatan kita terhadap dia. Mgkin dia ada di posisi yg lemah, dia berusaha untuk menjd kuat untuk membalaskan dendamnya pd kita. Di sinilah kebohongan trs menerus dia lakukan dan suatu saat kebenaran yang sesungguhnya terungkap, kita terlambat utk menyadarinya. Berusahalah utk hidup dalam berdamai dgn org lain, jika ada masalah, itu sebaiknya diselesaikan secepatnya, siapkan ganti rugi jika diperlukan supaya hati org itu bs kembali tenang dan damai.

Jgn menyimpan dendam dan kebencian, tp simpanlah banyak persediaan maaf supaya bs diberikan pd org lain saat mereka dengan rendah hati memintanya dr kita.

Posted in Renungan | Comments Off on Terus Berbohong

Dihakimi Sesama

DI 21052024

1 Korintus 4:3 ILT3
Dan bagiku, hal itu merupakan perkara kecil bahwa aku dapat dihakimi oleh kamu atau oleh hari manusiawi, tetapi aku sama sekali tidak menghakimi diriku sendiri.

Tdk dapat dielakkan bahwa setiap kita pasti akan dibicarakan atau dikomentari org lain dgn penilaian yg positif atau negatif, ingatlah bhw kita tdk mungkin dapat menyenangkan semua org dgn apa yg kita buat.

Nasehat dr ayat ini adalah jgn membesarkan penghakiman yg org lain lakukan pd kita. Ini bukan ttg peradilan hukum di mana kita sbg warga negara wajib utk taat pd peradilan yg berlaku di negara ini, tp ini penghakiman yg dlm pengertian dinilai org lain serta dengan sengaja diberi ‘label’ tertentu. Kita hrs juga paham bhw pendapat org lain ttg kita itu bs benar, bs juga salah, bs positif tp bs negatif juga. Anggaplah penghakiman dr orang lain itu suatu perkara yg kecil, sekalipun kita dpt pujian, jangan menganggap diri paling hebat atau saat kita dikritik, terimalah dgn hati yg besar dan lapang, diperhatikan org itu bukti bhw kita ini tergolong org penting di dalam lingkungan di mana kita berada. Jgn dengan sengaja kita turut menghakimi diri sndri atau ragu dgn kualitas diri kita. Dihakimi memang sebuah situasi yg biasanya kurang nyaman dan cenderung membuat kita terpancing & tersinggung harga diri kita.

Masukan positif patut utk kita terima, kritik & saran juga baik utk kita perhatikan, mungkin ada benarnya pendapat org lain ttg kita. Org lain tentu tdk 100% akurat menilai kita, tetap ada sisi dr diri kita yg mereka tdk bisa lihat, sehingga sebagian pendapat mereka hanya berdasarkan apa yg mereka lihat ttg kita, tp tdk mampu merasakan apa yg kita rasakan. Bicara memang mudah, tp lebih dahulu bisa merasakan lalu bicara, biasanya pendapat yg diberikan lebih ke arah yang positif. Kalau niat menilai orgnya sdh negatif, yg dicari itu biasanya kesalahan, kekurangan, kelemahan orang lain, dgn penghakiman itu pasti tujuan yg diinginkan biasanya bersifat negatif. Jika niatnya tulus dan positif, pendapatnya berisi hal yg seimbang, selain mengkritik, tapi juga mau memberikan apresiasi atas prestasi & kelebihan yg dimiliki org lain. Kita hidup dlm sebuah lingkungan, maka hrs siap jika suatu saat kita ‘dihakimi’ org lain.

Anggaplah sbg perkara yang kecil ketika kita menerima pujian atau kritikan, yg terpenting adalah kita berusaha utk lakukan yg terbaik sekalipun pasti tdk sempurna di mata orang lain.

Posted in Renungan | Comments Off on Dihakimi Sesama