Siapa Penghuni Surga?

DI 02062025

Galatia 4:24-26 (TB)
Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar —
Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab — dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang, karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya.
Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita.

Memahami hal ini memang tdk mudah, tapi kuncinya adalah ada kata ‘kiasan’ dlm ayat ini, artinya sesuatu disampaikan memakai suatu gambaran ttg sesuatu, dlm hal ini dgn memakai gambaran ttg anak dr keturunan.

Jgn diartikan ayat ini dgn penderitaan yang salah, misalnya anggapan bhw Tuhan tidak mengasihi Hagar dan Ismael, tetapi karena Ismael lahir lebih dulu drpd Ishak, dalam hal mewarisi, hanya anak sulung atau yg paling pertama lahir, dialah yg berhak sebagai ahli waris. Masalah terletak di sini bhw baik dari Ishak maupun Ismael, keduanya lahir dr ibu yg berbeda, mereka berdua adalah anak yg sulung bagi masing-masing ibu mereka, tapi ada bedanya, Ismael lahir sbg anak jasmani akibat pernikahan biasa, tdk dijanjikan oleh Tuhan pd Abraham, namun Ishak itulah anak yg dijanjikan Tuhan pd Abraham dan Sara, yg akhirnya Dia nyatakan lewat lahirnya Ishak. Maka Tuhan sendirilah yg menentukan siapa yg pantas menjd anak sulung sbg ahli waris dr Abraham, maka Hagar dan Ismael diusir dr rumah Abraham, tp tetap ada penyertaan Tuhan atas mereka karena Ismael jg adalah anak Abraham.

Ishak dan Ismael dlm ayat ini dijadikan satu kiasan ttg Yerusalem, yg sorgawi itu Ishak & yg duniawi itulah Ismael. Yerusalem surgawi adalah tempat yg Tuhan sediakan bagi yang masuk surga, sedangkan Yerusalem duniawi hanyalah tempat tinggal sementara di dunia, jgn berfokus pd yg duniawi, tp pd yg surgawi, itulah pesan yg ingin rasul Paulus nyatakan lewat kiasan ttg Hagar-Ismael dg Sara-Ishak. Yg Tuhan inginkan dr kita adalah fokus utk membangun hal yg rohani, hubungan kita dg Tuhan dan masa depan kita di surga. Ada yg tetap fokusnya membangun diri utk segala yg berhubungan dgn hidup di dunia, tapi tdk sama sekali membangun rohaninya dengan intens dgn Tuhan. Suatu saat kita pasti akan meninggalkan semuanya di dunia ini, itulah yg hrs selalu kita ingat, tempat tinggal nanti yg bersifat kekal itulah surga, bukan yg fana di dunia ini. Kita semua ini adalah ‘Ishak’ yg mewarisi janji kekekalan yaitu surga.

Apakah kita fokus utk kaya di dunia? Semua nanti akan kita tinggal, apa yg dibawa ketika menghadap Tuhan? Janji keselamatan yang Dia wariskan utk kita yg hidup benar.

Posted in Renungan | Comments Off on Siapa Penghuni Surga?

Menderita Demi Keserupaan Kristus

DI 31052025

Galatia 4:19 ILT3
Anak-anakku, demi kamu aku menderita sakit bersalin lagi sampai rupa HaMashiakh dibentuk di dalam kamu;

Sakit bersalin itu sakit yg berat, antara mati dan hidup, kalau tdk cukup kekuatannya, bs terjd kematian, ini konteks bersalin di zaman dahulu, blm ada operasi Caesar atau lainnya.

Tujuan utama hidup org Kristen adalah jadi serupa dgn Kristus, dan ini membutuhkan 1 proses seumur hidup, tdk mudah utk dapat memiliki keserupaan dgn Kristus. Sulitnya proses ini dikemukakan rasul Paulus dalam ayat ini bhw dia menderita spt sakitnya ibu yg akan melahirkan anaknya, demi jemaat di Galatia bs mengalami pembentukan menjd serupa dgn Kristus. Di sinilah fungsi seorang gembala gereja sbg bapa atau ibu rohani utk jemaatnya, dlm proses pembentukan dalam keserupaan dgn Kristus ini, perannya sangat penting. Gembala gereja jgn hanya pandai berkhotbah saja, tp menolong jemaatnya utk bertumbuh rohaninya hingga rupa Kristus ini dibentuk dlm diri semua jemaatnya. Paulus menggambarkannya spt ibu yg sdg bersalin, tujuannya adalah anak dlm kandungan dpt lahir dgn baik sambil dirinya jg selamat dari maut. Paulus ingin jemaat Galatia berhasil mengalami pembentukan rupa Kristus dlm hidup mereka.

Jemaat perlu utk digembalakan, dibimbing & didampingi dlm hal kerohanian, tdk ada yang bs menjd serupa dgn Kristus tanpa melewati proses pembentukannya, ini terjd bkn orang perorang, tp secara bersama-sama. Jemaat harus dianggap layaknya ‘anak’ dan gembala jemaat dianggap layaknya ‘ibu’ yg mengasuh sekaligus mendidik. Paulus menempatkan jemaat Galatia layaknya anak kandungnya & dirinya adalah ibu bagi mereka. Kepedulian yg ditunjukkan hrs nyata, hubungan dengan jemaat hrs sedekat ibu dg anak kandungnya sendiri, jadi hrs berikan yg terbaik dan anak hrs dipelihara, dibina, dan dididik supaya dpt menjd dewasa, dewasa dlm kerohanian jika dlm konteks rohani. Keteladanan menjd hal utama karena keteladanan adalah teori yang nyata dipraktekkan, bukan lagi sekedar satu bahan pengajaran tetapi sebuah kehidupan nyata yg dipimpin oleh Roh Tuhan, ini akan diteruskan dr generasi ke generasi.

Para leaders jangan hanya ingin jemaat yang setia beribadah, tp jg membimbing utk dapat memiliki keserupaan dgn Kristus, dampingi & jadilah teladan.

Posted in Renungan | Comments Off on Menderita Demi Keserupaan Kristus

Menegur di Depan Umum

DI 30052025

Galatia 2:14 (TB)
Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?”

Kefas adalah nama lain dr rasul Petrus, yang menjadi pimpinan para rasul dan dgn sangat berani rasul Paulus menegur Petrus di depan banyak orang.

Mgkin menurut budaya orang timur, tindakan
rasul Paulus itu kurang sopan, kalau mau utk menegur ya empat mata dahulu, jgn ditegur langsung di depan bnyk org. Kurang sopan & tdk menghormati leader atau pemimpin. Di zaman ini dlm pelayanan Kristen, seringkali leader atau pemimpin gereja dianggap sbg ‘raja’ yg hrs dihormati dan dilayani dg sebaik mgkin, pdhal dlm esensinya, para leader itu harusnya melayani jemaat. Jadi pembantu bukan raja seharusnya, walaupun hrs tetap menerima penghormatan karena melayani kebutuhan jemaat gereja. Tapi rasul Paulus berbeda, dia walaupun bukan pemimpin dari para rasul, bahkan dia yg terakhir bergabung dgn para rasul lainnya, berani menegur rasul Petrus karena telah melanggar kebenaran dr Injil atau firman Tuhan. Menegur kesalahan leader atau pemimpin di depan umum akan sangat bs dianggap sbg usaha menjatuhkan nama baik org lain.

Tindakan rasul Paulus ini bs terlihat alasan mengapa dilakukan dr ayat ini: Galatia 4:16 “Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? Ini tentu bisa dikatakan sbg sebuah penyebab mengapa Paulus berani menyatakan hal yg salah, yg melawan kebenaran firman Tuhan, alasannya bukan utk menjatuhkan atau juga mempermalukan, tetapi supaya semua org tahu bhw yg telah diperbuat itu salah. Sikap rasul Paulus ini belum tentu pas dilakukan terhadap para leader atau pemimpin gereja, bs dinilai terlalu kasar bahkan dinilai punya maksud terselubung. Tdk semua leaders itu punya kerendahan hati utk ditegur saat dia berbuat kesalahan, cenderung membela diri dgn alasan yg menutupi motif sebenarnya dr mengapa kesalahan itu terjadi. Paling tidak yg menegur harusnya sesama leader seperti Paulus dan Petrus, keduanya adalah rasul di mata jemaat, sehingga tegurannya itu punya nilai koreksi yg tepat.

Menegur yg salah itu sesuatu yg baik supaya ke depannya tdk terulang lagi kesalahan yg sama, namun perhatikan juga siapa yg dapat dianggap pantas utk menegur, supaya orang yg ditegur mau dan rela mendengar teguran.

Posted in Renungan | Comments Off on Menegur di Depan Umum

Kadang Harus Berpisah

DI 28052025

Kisah Para Rasul 15:39-40
Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.
Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan

Paulus berbeda pendapat dgn Barnabas, ini perselisihan kalangan ‘top leader’ yg sangat akan merugikan jika tdk segera diakhiri. Yg jadi keputusan mereka ternyata mereka itu tetap pd pendirian masing-masing.

Berpisah, sesuatu yg dlm kekristenan akan bernilai negatif, apalagi berpisah yg sering jadi sorotan yaitu perceraian. Cap atau label org yg tdk mau unity atau tdk mau kesatuan itu tetap terjaga, namun dr kisah ini setelah terjd perselisihan yg tajam, mereka berpisah satu sama lain. Kenapa tidak ada satu pihak yg mengalah saja? Kenapa tdk ada pihak yg mengaku salah saja biar tetap damai? Satu perkara kadang butuh ketegasan, kalau tdk ada yg salah, mengapa hrs mengaku salah atau malah mengalah? Meskipun itu nanti dilakukan, apakah unity atau kesatuan yang ada itu murni atau palsu? Kelihatannya sih unity, tp di dalamnya masih terlihat ketidak akraban satu sama lain. Kadang ada orang yg senang memaksa supaya berdamai, dgn berjabat tangan dan berpelukan, tapi apakah dlm hati benar-benar sudah berdamai? Satu hal yg kadang mendorong org bersikap jadi penuh kemunafikan.

Unity atau kesatuan dalam Kristen haruslah didasari oleh kasih dan pengampunan. Tidak bs dihindari kalau terjd suatu konflik antara anggota dlm sebuah komunitas, bahkan jg di dlm keluarga. Lalu berpisah apakah menjadi suatu cara utk menyelesaikan perselisihan yg terjd? Dari sudut pandang tertentu, bisa jd berpisah adalah penyelesaian sementara yg tujuannya spya menghentikan perselisihan yg telah terjd. Rasul Paulus agaknya seorang yg tdk suka kemunafikan, ini terlihat dr ayat ini: “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka (Galatia 2:11,13). Salahkah mempertahankan kebenaran yang dianut oleh diri kita? Tentu itu harus. Tp demi perdamaian, haruskah kita toleran, maklum dgn kemunafikan org lain? Tentu tidak! Kita hrs memahami situasinya dgn benar.

Berpisah bukan jadi solusi tp mungkin akan sangat berguna jika berpisah sementara, ini bs meredakan perselisihan dan kesatuan yg terjd bukanlah kesatuan yg palsu.

Posted in Renungan | Comments Off on Kadang Harus Berpisah

Melihat Kelanjutannya

DI 27052025

Kisah Para Rasul 15:36
Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: “Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka.”

Rasul Paulus punya kepedulian tinggi pd hal pemberitaan firman, bkn sekedar dianggap selesai ketika firman sudah diberitakan, tapi jg ingin melihat dampak dr pemberitaan dari firman itu.

Jadi di sini ada suatu peringatan keras bagi para pemberitaan firman, jgn merasa sudah sukses menjd pengkhotbah di mimbar, tapi jg harus menindak lanjuti langkah berikutnya yaitu melihat dampak dr pemberitaan firman itu. Tugas memberitakan memang selesai di saat berkhotbah di ibadah, tapi rindukan utk melihat dampak baik dr khotbah itu, apakah ada di antara pendengarnya yg mengalami pertobatan? Adakah yg hidupnya diubahkan setelah mendengarnya? Adakah yg imannya diteguhkan? Dan masih banyak lagi lainnya. Jadi butuh komunikasi yang terjalin dgn baik antara pengkhotbah dgn jemaat. Bgmna dgn pengkhotbah yg diundang dr luar gereja? Ini menjd tanggung jawab tim penggembalaan utk mengeceknya, sekaligus mengevaluasi dr pendapat jemaat ttg bgmna pengkhotbah ini baik atau tidak dlm cara berkhotbahnya? Evaluasi dan studi dampak dr pemberitaan firman ini sangat penting utk dilakukan.

Dari sisi jemaat terkadang terjadi kekeliruan yg fatal: punya pengkhotbah favorit! Jikalau yg memberitakan firman itu bukan yang jadi favoritnya, ada kurang minat utk mendengar khotbahnya. Tuhan bs bicara lewat khotbah yg dibawakan pengkhotbah manapun, yang difavoritkan atau yg bukan, keduanya dapat Tuhan pakai utk berbicara pd kita. Tdk salah kalau punya pengkhotbah favorit, tapi jangan menutup telinga terhadap suara Tuhan lewat pengkhotbah yg lain. Ada kerugian besar jika kita terjebak oleh hal itu, harusnya kita dapat mengalami pertumbuhan rohani, tapi hal itu terhambat karena kita memilih-milih khotbah yg ingin kita dengarkan. Tuhan ingin kita bs bertumbuh lewat pemberitaan firman Tuhan, ada dampak positif yg timbul darinya, suatu perubahan ke arah pendewasaan rohani, yg tentunya menjadikan kehadiran kita di setiap tempat menjd saluran berkat, bukan sumber masalah.

Dampak apa yg sdh timbul dari mendengar khotbah? Jgn sekedar jadi koleksi, tapi jadi suatu nasehat yg meneguhkan iman kita, yg mengubah karakter kita serupa dgn Kristus.

Posted in Renungan | Comments Off on Melihat Kelanjutannya

Menjadi Berarti

DI 26052025

Galatia 6:15 ILT3
Sebab di dalam HaMashiakh YESHUA, baik bersunat maupun tidak bersunat, tidak berpengaruh apa-apa, kecuali sebagai ciptaan yang baru.

Sunat lahiriah merupakan satu keharusan yg dilakukan oleh org Yahudi karena sunat ialah bagian dr hukum Taurat, namun sunat tidak menjd sebuah keharusan dlm Kristen.

Kristen tdk mengikuti hukum Taurat karena memang hukum Taurat diberikan hanya utk org Israel saja, umat Tuhan dlm PL. Dalam masa PB sejak zaman gereja mula-mula yg dimulai sejak zaman para Rasul hingga saat ini, yg berlaku adalah peraturan awal yg ada yaitu hasil dari pembahasan peraturan untuk org-org non Yahudi yg percaya pd Injil, yaitu dalam Kisah Para Rasul 15:28-29 : Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.” Jadi inilah peraturan yg paling awal ttg hidup seorg Kristen, yg nanti ditambahkan oleh pengajaran para rasul yg berupa surat-surat kepada jemaat.

Bukan berarti PL menjd tdk penting, melalui PL kita bs mengenali Tuhan lewat sejarah & bgmna Dia menyikapi bangsa Israel melalui berbagai generasi. Hukum Taurat memang baik, tetapi bagi org Kristen yang non Yahudi tentu tdk wajib mematuhinya. Melakukannya tdk boleh sebagian tetapi semua aturan yg ada di dalamnya. Siapa yg sanggup utk bisa memenuhi semuanya? Tdk ada seorangpun, karena itulah Yesus menjadi penggenapnya, sehingga ketaatan pd perintah Yesus Kristus itulah yg menjd patokannya. Hidup menjadi berarti ketika kita bukan lagi taat peraturan karena rasa takut terkena hukumannya, tapi karena mengasihi Tuhan yang membuatnya, dan inilah ciptaan baru, bukan sekedar jadi org yg patuh hukum Tuhan tetapi mengasihi Tuhan yg membuat hukum itu. Ciptaan baru bukan sekedar perubahan karakter, tetapi jg perubahan pola pikir dan sudut pandang yg sesuai dgn hikmat dan pikiran Kristus.

Bgmna kasih kita pd Tuhan? Atau masih dlm tahapan patuh karna takut? Kasihi Tuhan dg pengertian yg benar, melalui hubungan yang intim dgn Tuhan setiap saat.

Posted in Renungan | Comments Off on Menjadi Berarti

Perhatikan Perbuatanmu

DI 24052025

Galatia 6:4-5
Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.
Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

Apa yg kita kerjakan akan dituntut tanggung jawabnya di hadapan Tuhan, dan Dia berikan upah sesuai yg kita kerjakan. Tanggung jwb yg sifatnya personal, bukan kelompok.

Hal ini perlu jadi sorotan kita, di tengah kita hidup berkomunitas, tapi tanggung jwb yang Tuhan tuntut sifatnya perorangan. Dlm ayat ini, kita diajar utk menguji yang kita kerjakan, bukan yg dikerjakan org lain, jgn sampai kita membantu org lain tp yg kita kerjakan sndri malah tdk selesai dan malah gagal. Di saat spt ini, membantu org lain hrs tahu batasan dan waktunya. Ada saatnya kita mencapai garis finish bersama walau merelakan gelar juara yg sbnarnya kita pribadi bs meraihnya. Tapi ada saatnya kita ‘abaikan’ org lain demi tanggung jwb kita pd Tuhan bs diterima dan kita bermegah dgn keadaan kita. 2 kondisi yg bertolak belakang, tp kita hrs bs dengan tepat menilai situasinya. Jgn marah kalau org lain tdk membantu kita, karena dia juga harus menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Jadi tanyakan pd diri sendiri: sanggupkah utk menanggung kegagalan org lain akibat dr membantu yg sdg kita kerjakan?

Kalau org lain tidak bs membantu, berusaha utk mengandalkan Tuhan saja, org lain juga butuh waktu yg cukup utk mengerjakan yang hrs dia kerjakan, sementara waktu yang ada tdk cukup banyak. Apakah org lain wajib utk menolong kita trs menerus? Tentu tidak! Kita yg terkadang menganggap diri kita harusnya trs ditolong. Apakah itu cara berpikir dewasa dan rohani? Bukankah setiap kita tanggung jawabnya secara personal di hadapan Tuhan dan upah yg kita terima sesuai dgn apa yang kita kerjakan? Org malas dan manja saja yg ingin org lain mengerjakan apa yg sehrsnya dikerjakan sendiri. Mental pecundang tidak akan mudah diubah tanpa kedewasaan dlm kerohaniannya, benar bhw org Kristen harus tolong menolong, tetapi ada batasnya yaitu kalau dia sanggup menyelesaikan yang dia kerjakan dgn baik, adalah salah kalau mau menolong org tapi dia sendiri nantinya gagal dan dimurkai Tuhan.

Andalkanlah Tuhan di setiap waktu, benar di dlm situasi tertentu, Dia pakai org lain untuk membantu kita, tetapi Tuhan ingin diri kita sendirilah fokus pd apa yg kita kerjakan.

Posted in Renungan | Comments Off on Perhatikan Perbuatanmu

Mengasihi Seperti Diri Sendiri

DI 23052025

Galatia 5:14
Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”

Urutan mengasihi itu yg benar adalah kasihi Tuhan, kemudian diri sendiri, barulah kasihi sesama kita. Banyak khotbah ttg mengasihi Tuhan dan sesama, tp sedikit yg membahas ttg mengasihi diri sendiri.

Mengasihi beda dgn mengasihani, dlm bnyk pembahasan biasanya yang sering jadi topik adalah ttg mengasihani diri sendiri. Tapi ttg mengasihi diri sendiri, itu bagaimana dan yg hrs dilakukan itu apa? Unsur pertama kasih adalah penerimaan diri, ketika kita mengasihi berarti kita sdg menerima obyek kasih itu apa adanya, kekurangan maupun kelebihannya. Mengasihi diri sendiri diawali dgn menerima keberadaan diri sendiri dgn sukacita. Dimulai dr menerima kehadiran kita di dunia ini, dari latar belakang keluarga spt apa, knpa nasib tdk sebaik org lain, dsbnya. Org sering bilang dgn ‘berdamai dgn masa lalu.” Kelahiran kita adalah wewenang dan ketetapan Tuhan yang mutlak, Dia berhak menentukan kelahiran kita di keluarga yg bgmna kondisinya. Bnyk orang yg mempermasalahkan latar belakang orgtua yg melahirkannya, karena miskin dan tdk spt mereka yg dilahirkan dlm keluarga kaya. Tapi sejak kita dewasa hingga nanti meninggal, yg menentukan nasib kita lebih banyak berasal dr pilihan kita sendiri.

Mengasihi diri sendiri biasanya ditandai dgn keinginan besar utk mengalami kondisi lebih baik, berusaha utk mewujudkannya dgn apa yg bisa dilakukan, mendorong diri sndri untuk keluar dari keterbatasan yg mengikat. Selain itu mengasihi diri sendiri juga terlihat dr gaya hidup yg sehat. Bukan saja sehat jasmaninya, tapi juga sehat rohaninya. Memperhatikan dg seksama kondisi kesehatan tubuh, tdk hidup dgn gaya asal saja, menambah pengetahuan ttg kesehatan dan menerapkan hidup sehat & pola makan yg benar sehingga bisa terhindar dari penyakit dan punya kemungkinan besar punya umur panjang. Berusaha utk membuat diri sndri tetap segar jiwanya dgn belajar utk mengatasi tekanan dan stress yg berlebihan. Menjaga diri sendiri masuk dlm masalah yg sebenarnya tdk perlu ada, karena salah dlm perkataan maupun perbuatan. Intinya ialah berusaha membuat diri sendiri menjd tetap bahagia dan punya kualitas yg semakin baik dari hari ke hari.

Kasihilah diri sendiri dgn benar, barulah kita bs mengasihi sesama dgn seharusnya, ingat bhw ukurannya bukan hanya berbuat baik pd sesama, tetapi mengurus diri sendiri dgn baik juga.

Posted in Renungan | Comments Off on Mengasihi Seperti Diri Sendiri

Kita Semua Ini Hamba-Nya

DI 22052025

Kolose 3:23-24 ILT3
Dan segala apa pun yang kamu lakukan, kerjakanlah dengan segenap jiwa seperti kepada Tuhan dan bukan kepada manusia,
karena mengetahui bahwa dari YAHWEH kamu akan menerima imbalan warisan, karena kamu sedang melayani Tuhan, yaitu HaMashiakh.

Di satu sisi, posisi kita di mata Tuhan adalah anak-anak-Nya, namun di sisi lainnya, kita ini adalah para hamba-Nya, keduanya sbnarnya tdk bertentangan satu dengan lainnya.

Kata penting dlm ayat ini adalah ‘warisan’, yg hanya bs diterima oleh org yg dewasa. Dalam Galatia 4:1 ini: Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikit pun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu. Jadi posisi kita sbg seorang hamba menunjukkan bhw kita sedang menuju fase pertumbuhan rohani ke arah kedewasaan, jd masih butuh pendewasaan yang utuh supaya nantinya kita menjd dewasa secara rohani. Di fase inilah kita mulai mengalami perubahan dlm gays didikan terhadap kita, jika dahulu di saat masih Kanak-Kanak, banyak hal yg bisa dimaklumi walaupun salah, namun saat kita sedang didewasakan, tidak lagi bs dimaklumi kalau kita melakukan sesuatu spt pada waktu kanak-kanak dulu. Spt seorg anak yg sedang mengalami akil baliq secara jasmani, dalam hal rohanipun ada fase itu yaitu ketika semua dari kita menjd para hamba-Nya, sedang dlm proses pendewasaan.

Di fase inilah kita diajar utk melakukan yang harus dilakukan itu dgn segenap hati, seperti utk Tuhan, bukan utk manusia. Apa bedanya? Sederhananya spt ini: lebih serius mana jika sedang bekerja, ada yg mengawasi atau tidak ada yg mengawasi? Tentunya ketika sedang diawasi, tdk boleh ada salah prosedur, tdk bs sembarang mengobrol santai, dsbnya. Orang yang paham bhw dirinya adalah hamba-Nya Tuhan, sadar bhw mata Tuhan selalu melihat dan sedang mengawasinya walaupun Tuhan tdk terlihat oleh mata. Seperti org bekerja yg diawasi oleh CCTV yg dipasang, semua yang dikerjakan akan terlihat. Di sisi lain, lakukan sesuatu utk Tuhan biasanya memikirkan utk secara sempurna dlm melakukannya, jangan sampai Tuhan kecewa dgn hasil dr pekerjaan kita yg ada ‘cacatnya’. Jika ditolak Tuhan, ini sesuatu yg tdk baik, dan bs memicu tindakan yg sembrono spt saat persembahan Kain yg tdk diindahkan Tuhan, akhirnya Kain terbawa emosi dan membunuh Habel, adiknya.

Lakukan semuanya sebagai wujud rasa kasih dan penghambatan kita pd Tuhan. Jgn tidak memberikan yg sempurna dan terbaik untuk Tuhan, sadarlah bhw mata Tuhan mengawasi semua yg kita lakukan.

Posted in Renungan | Comments Off on Kita Semua Ini Hamba-Nya

Kasih Sebagai Pengikat

DI 21052025

Kolose 3:14 ILT3
Dan di atas semua ini, kasihlah yang menjadi pengikat kesempurnaan.

Kasih selalu menjd yg utama di atas banyak sisi kehidupan rohani yg penting, teratas dlm fungsi maupun posisinya dlm hidup seorang Kristen di zaman apapun jg.

Tuhan itu sendiri adalah kasih, jadi seseorang yg memiliki Tuhan dlm hidupnya dipastikan jg memiliki kasih Tuhan, dan belajar mengasihi spt Tuhan mengasihi umat-Nya. Kasih punya fungsi sbg pengikat, sesuatu diikat spya tidak lepas, tidak tercerai berai, menjd satu, terlihat rapi dan berfungsi secara maksimal. Ikatan yg tdk kencang atau longgar tentu saja tidak baik pengaruhnya, karena itulah mengasihi itu jgn berpura-pura, itu spt ikatan yg sangat longgar yg justru bs menimbulkan banyak masalah dlm suatu hubungan. Suami istri bs bercerai karena salah satu atau keduanya tdk lagi saling mengasihi, ego masing-masing yg terlihat mendominasi hubungan itu. Kasih yg dingin hanya menimbulkan kebekuan yg tidak baik pengaruhnya terhadap komunikasi dlm sebuah rumah tangga ataupun hubungan yg lain, semua berfokus pd kepentingan diri dan lebih mengutamakan emosi drpd akal sehat. Ini tentu sdh sangat tdk normal.

Kasih itu pengikat kesempurnaan, berarti dlm segala hal bila ingin ada kesempurnaan, hrs ada kasih yg mengikat org-org yang terlibat di dalamnya. Tanpa kasih yg mengikat, tdk akan ada kesempurnaan, inilah yg harus kita ingat setiap waktu, jgn berhenti mengasihi hanya karena kekecewaan sesaat, dilukai dengan perkataan yg tajam. Banyak hal yg membuat seseorg utk berhenti mengasihi sesamanya, hal ini jgn sampai terjd pd diri kita. Org-org terdekat pastilah yg berkemungkinan besar utk membuat kita berhenti mengasihi, akan ada jg serangan iblis yang ingin menceraikan semua jenis hubungan yang ada, mengambil keuntungan dr emosi manusia yang meledak, dia akan memancing kita menjadi marah dan membuat kecerobohan yg merugikan banyak pihak hingga akhirnya org tidak percaya lagi pd kasih, hubungan yg terjd hanyalah sebuah transaksi belaka, hidup menjd gambar, tidak ada lagi kehangatan komunikasi spt semula, semua hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.

Kasih jgn sampai hilang dr diri kita, tetaplah pelihara hubungan yg baik dgn mengasihi dg tulus, jgn ada motivasi buruk yg terselip dlm perbuatan kasih kita pd sesama.

Posted in Renungan | Comments Off on Kasih Sebagai Pengikat