Mengikut Yesus

DI 10022025

Matius 8:21-22
Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”
Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

Apakah ini sebuah peribahasa Israel ataukah ada suatu makna rohaninya? Biar orang mati mengulurkan org-org mati mereka, sulit utk dipahami bagi logika kita.

Ini yg mgkin jadi pemahaman saya, mungkin tdk tepat, tapi saya bagikan utk kita: jangan ada sesuatu hal apapun yg mungkin bs utk membuat kita tdk lagi mengikuti Yesus. Jadi kerena bila ada yg keluarga yg meninggal, di dlm budaya Yahudi pasti ada bbrpa kegiatan yg hrs dilakukan oleh pihak keluarga yg sdg berduka, dan perjalanan Yesus bs terganggu kalau salah satu murid-Nya kembali karena bapanya meninggal. Makna rohani yg mgkin bs kita ambil: apa yg sudah ‘mati’, jgn dibuat jadi sesuatu alasan bagi kita utk permisi dari Tuhan. Mungkin ada kegagalan di masa lalu, kita tergoda utk berusaha ‘membangkitkan’ lagi, ini akan membuat banyak energi yang tersita, waktu jg akan banyak difokuskan utk hal itu, semuanya ini membuat kita tidak lagi intim dgn Tuhan, yg ada di pikiran kita hanya bgmna yg dulu sudah ‘mati’, bs kita hidupkan lagi nantinya, tergoda utk membuktikan diri dan membanggakannya di hadapan org lain.

Mengikut Yesus itu bukan spt kita ‘nebeng’ di kendaraan org lain, Tuhan menghargai orang yg sungguh-sungguh mengikuti Dia, bkn yg sekedar ‘nebeng’, ikut karena butuh sesuatu atau tumpangan saja. Ada saja org yang ikut Tuhan karena suatu motivasi yg tidak murni, hanya mengejar berkat Tuhan, setelah dapat lalu perlahan-lahan menjauhi Tuhan. Nanti di satu saat butuh pertolongan Tuhan, mulai dg janji gombal: kalau Tuhan tolong, saya akan lakukan dan berikan ini dan itu. Tapi kenapa Tuhan masih mau menolong meskipun Dia tahu motivasi sebenarnya dr org ini? Itulah wujud kasih-Nya yg murni, kasih yg beda dgn balas budi, kasih yg disertai belas kasihan. Apakah kita mengasihi Dia karena ada yang kita mau dr Tuhan? Kalau kita tidak ditolong, kita ngambek, atau menyalahkan Tuhan? Ini sesuatu yg tdk pantas diterapkan pd Tuhan, Tuhan tdk kebal diancam, karena Dia punya kuasa atas hidup kita.

Bagaimana pengiringan kita pd Tuhan? Jgn karena ada maunya, lakukanlah sbg sebuah pengabdian tulus karena kita telah ditebus oleh darah-Nya, kita ini milik Tuhan.

Posted in Renungan | Comments Off on Mengikut Yesus

Damai Sejahtera Tuhan

DI 08022025

Yohanes 14:27
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Setiap org pasti pernah mengalami keadaan yg sulit bahkan mungkin mengancam nyawa oleh bbrpa sebab, Yesus jg selama hidup di dunia ini mengalami apa yg manusia alami.

Membaca 4 kitab Injil maka kita dapati bgtu banyak situasi bs merusak damai sejahtera Yesus, tetapi itu semua tdk membuat gentar dan takut bagi Yesus. Mgkin kita berpikir itu karena Yesus adalah Tuhan yg jadi manusia, Dia bs bangkitkan org mati, apa ada yg bisa membuat Dia takut? Betul bhw Yesus adalah Tuhan, tp saat di dunia ini, Dia ada dlm tubuh manusia biasa, tubuh yg normalnya manusia miliki, artinya tubuh-Nya saat itu bs mati, ini terlihat jelas dalam penyaliban Yesus, tubuh Yesus tetap terluka, tdk kebal, hingga tubuh itu mati, tetapi dibangkitkan. Mengerikan di saat kita mencoba membayangkan apa yang Dia alami mulai saat Yesus ditangkap, diadili hingga disalibkan, tetapi semuanya dilewati dan tdk ada dosa yg diperbuat Yesus selama hidup di dunia ini. Banyak dosa disebabkan oleh dorongan rasa takut dan gelisah, tetapi kita bs tetap menguasai diri kalau kita punya damai sejahtera spt yg Yesus miliki.

Kuncinya adalah tetap terhubung dgn Tuhan, spt yg Yesus miliki dgn Bapa, berdoa setiap hari dan di waktu-waktu tertentu yang Tuhan inginkan. Banyak org sudah merasa doa itu spt sebuah ritual, kebiasaan yg memang trs dilakukan setiap hari, doa yg hanya searah saja, tdk ada komunikasi 2 arah dgn Tuhan. Hubungan dgn Tuhan terasa ‘hambar’ shga saat ada persoalan hidup, kita mudah menjd gelisah dan takut, karena kita tdk yakin akan ditolong oleh Tuhan. Doa kelihatannya satu hal yg sepele, tapi akan banyak menentukan suasana hati kita di saat menghadapi situasi sulit dan tertekan. Damai sejahtera Yesus bs terlihat saat Dia tetap tertidur di tengah laut yg sedang diamuk badai spt yg tertulis dlm ayat ini: “Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur”.(Matius 8:24). Apapun boleh terjadi, tapi jika kita disertai Tuhan, semuanya bs kembali jd baik.

Perbaiki hubungan dgn Tuhan jika memang ada dlm keadaan yg ‘hambar’, jgn menjauh dr Tuhan, jgn menjadikan doa spt ritual yang hanya menimbulkan sebuah kebosanan.

Posted in Renungan | Comments Off on Damai Sejahtera Tuhan

Tahu Jalannya

DI 07022025

Yohanes 14:4-6
Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”
Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Tentu suatu kenyamanan tersendiri bila kita tahu jalan yg hrs dilalui untuk menuju tempat tujuan kita, kemungkinan kesasar menjd tdk besar kemungkinannya dan hampir pasti bs sampai di tujuan.

Yesus adalah Jalan, berarti kalau kita dapat mengenal Yesus dgn baik, kita bs mencapai tujuan hidup kita yg utama: masuk surga di saat kehidupan setelah meninggalkan dunia ini. Dituntun Tuhan menuju surga, inilah satu kelebihannya kita sbg pengikut Kristus, sbg org Kristen, kita punya Jalan menuju tempat di mana Bapa berdiam. Sementara di pihak yang lain, masih membutuhkan pertolongan utk menentukan jalan menuju surga, tetapi aneh, dgn begitu yakinnya bs masuk surga. Sesuatu yg bukan berdasarkan iman, tetapi hanya berdasarkan apa kata pengajar dan ahli kitabnya saja. Namun hrs kita pahami jg kalau kita hanya tahu jalannya, tapi kita tidak berjalan di jalan itu, kita mustahil bs sampai ke tujuan akhir yg ditunjukkan oleh Jalan itu. Sederhananya, tahu jalan tp memilih lewat di jalan yg lain, tentu ini suatu penyimpangan yg lucu, katanya tahu jalannya tp lewat jalan yg lain.

‘Berjalan’ di Jalan yg benar, artinya mengikuti rambu-rambu yg ada di sepanjang jalan, ini kita kenal sbg mengikuti hukum Tuhan. Jika bangsa Israel diberikan hukum Taurat untuk ditaati, maka kita sbg org Kristen diberikan hukum yg Yesus ajarkan melalui para rasul dan jg bapa-bapa gereja. Org Kristen tidak tunduk pd hukum Taurat, karena memang itu hanya Tuhan berikan utk bangsa Israel saja, tetapi kita ini tunduk langsung pd Tuhan yg memberikan hukum-hukum kekristenan pd kita. Jadi ini berbeda, spt seorg anak yg taat pada perintah orgtuanya, bukan karena takut dihukum, tapi karena itu bukti seorg berbakti pd orgtuanya. Hasil didikan orgtua yg benar, akan menghasilkan masa depan anaknya yg baik dan aman. Begitu jg ketika kita belajar utk taat pd hukum Tuhan, kita akan memiliki masa depan yg baik dan penuh harapan. Yg terutama adalah mengasihi Tuhan & sesama kita, itu adalah inti semua hukum Tuhan yg hrs kita taati.

Bersyukur kita tahu Jalan yg benar, tdk akan tersesat dlm kebinasaan kekal, ikuti Jalan yg benar ini, maka kita akan sampai di tempat tujuan kita: surga yg kekal.

Posted in Renungan | Comments Off on Tahu Jalannya

Beda Tujuan Sukses

DI 06022025

Yohanes 17:24
Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

Kalau 2 org berbeda tujuan, keduanya pasti tidak akan bertemu ke depannya, setidaknya inilah gambaran jika Tuhan dan kita memiliki tujuan hidup yg berbeda.

Hidup di dunia bukanlah kesempatan, boleh saja org memandang hidupnya sbg sebuah kesempatan utk menjd berkat bagi sesama, tetapi di sisi lain, hidup ini sesungguhnya itu sebuah UJIAN, lulus atau tidaknya kita dlm hidup di dunia ini, akan menentukan tempat kekekalan kita kelak: surga bersama Tuhan, atau neraka bersama iblis dan pengikutnya. Maka di sinilah kita harus serius ketika ada di dunia ini, semua perbuatan, perkataan, yg melekat pd diri kita, akan diminta tanggung jawabnya oleh Tuhan. Dlm ayat renungan ini, Yesus ingin nantinya setiap dr kita bisa ada bersama-sama dgn Dia di surga! Maka hidup kita dibilang sukses ketika kita nantinya bisa ada bersama Yesus di surga, karna hidup ini adalah UJIAN yang harus kita jalani. Sukses yg Tuhan inginkan dr kita adalah masuk dlm surga, tapi manusia pd umumnya hanya mau sukses hidup di dunia, urusan setelah nanti kematian, semuanya berjalan begitu saja.

Beda tujuan sukses, maka kita tdk akan bisa ‘bertemu’ Tuhan dlm kekekalan, spt 2 orang yg berpergian ke tujuan masing-masing yang berbeda satu sama lain, tdk akan ada suatu pertemuan. Biasanya kalau 2 org ingin dapat bertemu di sebuah tempat, sudah janjian dg waktu yg disepakati, tempatnya di mana, jadi punya tujuan yg sama. Apakah kita dg Tuhan punya tujuan tempat yg sama? Tuhan sudah sediakan tempat di rumah Bapa: ‘Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu (Yohanes 14:2). Maka hidup kita di dunia ini spt suatu perjalanan yg kita sedang lakukan menuju ke surga, sesuai dgn kesepakatan kita dgn Tuhan, berada bersama-sama Tuhan dalam surga, dlm rumah Bapa. Iblis berusaha untuk membuat kita gagal bersama Tuhan di surga dgn menyimpangkan jalan kita justru menuju neraka kekal, menemani iblis.

Sukses di dunia tapi masuk neraka, apalah artinya? Hidup di dunia tak sebanding dgn hidup kekal, kejarlah apa yg kekal, jangan terikat dgn semua yg ada di dunia yg fana.

Posted in Renungan | Comments Off on Beda Tujuan Sukses

Anak Siapa Kita?

DI 05022025

1 Samuel 17:56-58
Kemudian raja berkata: “Tanyakanlah, anak siapakah orang muda itu.”
Ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, maka Abner memanggilnya dan membawanya menghadap Saul, sedang kepala orang Filistin itu masih ada di tangannya.
Kata Saul kepadanya: “Anak siapakah engkau, ya orang muda?” Jawab Daud: “Anak hamba tuanku, Isai, orang Betlehem itu.”

Setelah berhasil mengalahkan Goliat, asal dr keluarga mana Daud ini ditanyakan oleh raja Saul, sesuatu hal yg kelihatannya sederhana, tetapi ada yg bs kita pelajari dr kisah ini.

Sulit membayangkan betapa sangarnya dan begitu sadisnya Daud ketika menemui raja Saul, dia datang dgn membawa kepala milik Goliat di tangannya. Pemandangan ini tentu bertentangan dgn gambaran bhw Daud ialah seorg remaja yg imut, butuh nyali besar utk ‘membawa’ kepala seseorg di tangan, mgkin spt menenteng kepala Goliat dgn rambutnya yg ada. Kalau di zaman skrg, susah disensor foto atau videonya dgn pemandangan yang sesadis itu! Daud menjawab asal usulnya dg menyebut dr keluarga mana dia berasal. Hal yg sama jika ditanyakan pd kita berkaitan dg bgmna kita menjalani kehidupan ini: “Kamu ini anak siapa?” Apakah dgn bangga kita dg penuh ketegasan menjawab bhw kita adalah anak Tuhan? Kalau perbuatan kita spt Daud yg mengharumkan nama keluarga, kita dgn bangga menyebut diri kita ialah anak Tuhan, tp kalo dlm kehidupan kita, yg dilakukan dan penilaian org ttg kita itu buruk, masih berani kita mengaku sbg anak Tuhan?

Itulah mengapa dlm hidup ini kita perlu dgn hati-hati memiliki gaya hidup yg benar, karna kita memiliki tanggung jawab menjaga satu nama baik yg berada di belakang nama kita, ada nama baik keluarga kita (orgtua, mertua, dsbnya), tetapi jg ada nama baik Tuhan yang org lain tahunya Tuhan Yesus itu Tuhannya org Kristen. Org akan mencibir bhw orangtua kita gagal mendidik anaknya sehingga kita berbuat sesuatu yg memalukan, kejahatan, dsbnya. Begitu jg org akan menilai tentang ajaran Kristen itu buruk akibat dari ulah dan perkataan kita yg merugikan banyak orang. Demikian sebaliknya, org akan memuji kita dan keluarga kita jikalau kita memberikan yg baik dan mulia terhadap org lain, org jg akan memuliakan nama Tuhan ketika melihat bhw kita hidup sesuai dgn firman Tuhan serta jd sebuah berkat bagi bnyk org. Jangan dikenal org sbg pembuat masalah dan keonaran, tp dikenal sbg org yg bermanfaat dan jd berkat bagi bnyk org.

Jagalah langkah hidup kita, perkataan dan perbuatan kita, jgn jadi batu sandungan bagi org lain yg ingin mengenal Tuhan, kesaksian hidup kita itu ‘jembatan’ bagi mereka yg ingin mengenal Tuhan.

Posted in Renungan | Comments Off on Anak Siapa Kita?

Belum Tentu Pas

DI 04022025

1 Samuel 17:38-39
Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya.
Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: “Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya.” Kemudian ia menanggalkannya.

Apa jadinya kalau kita memakai pakaian yg tdk nyaman bagi ukuran tubuh kita? Daud yg akan maju berperang mewakili bangsanya melawan Goliat, awalnya dikenakan pakaian perang raja Saul.

Apakah ukuran tubuh Daud mirip ukuran yg raja Saul miliki? Ada kemungkinan iya, tentu tdk sembarangan raja Saul memberikan baju perangnya utk dipakai Daud. Bayangan kita biasanya Daud spt seorg remaja imut, tinggi badan mgkin tdk terlalu tinggi, ini sptnya tdk begitu tepat, mengingat Saul saat terpilih jd raja, dialah org yg tertinggi di bangsanya. Jd mgkin saja Daud saat itu juga tinggi tapi tdk setinggi raja Saul. Ada sesuatu yg membuat Daud sulit berjalan ketika memakai baju itu, sehingga akhirnya dia tanggalkan. Dari kisah ini, ada pelajaran yg bs kita coba renungkan bersama. ‘Pakaian’ kita belum tentu nyaman utk dipakai org lain, pakaian untuk berperang bs kita gambarkan spt pengalaman yg kita miliki ttg sesuatu. Cara kita melewati masa sukar belum tentu cocok diterapkan oleh org lain, jadi sebaiknya jgn kita paksakan, orang lain bs saja tdk menolak karena tidak enak hati pd kita.

Daud akhirnya menanggalkan pakaian yang sebelumnya dipakaikan kepadanya. Sesuatu yg menghambat pergerakan kita, harus kita pikirkan dan pertimbangkan. Sikap Daud yg menanggalkan pakaian perang pemberian dr raja Saul, itu bs menimbulkan amarah, butuh keberanian utk melakukannya. Dalam hidup kita memang perlu ketegasan, nasehat yang baik dr org lain blm tentu bs menyelesaikan masalah yg kita hadapi. Pengalaman orang lain belum tentu bs menjd solusi bagi situasi yang sedang kita alami. Daud menghormati raja Saul dg membiarkan dirinya dipakaikan baju perang raja Saul, tetapi ketika justru itu menghambat pergerakannya, dia berani utk menanggalkannya. Kita harus menghormati perhatian dan nasehat baik yg org lain beri, tp kalau tdk cocok bagi kita, jgn segan untuk ‘melepaskannya’, tujuan kita adalah menang dr situasi sulit yg kita alami, bukan utk orang lain senang nasehatnya kita pakai.

Strategi paling tepat adalah nasehat Tuhan yg Dia berikan pd kita, itulah mengapa perlu berdoa dan bertanya pd Tuhan, bukan sibuk minta nasehat kiri kanan yg justru nantinya membuat kita semakin bingung, kebanyakan nasehat dan pendapat.

Posted in Renungan | Comments Off on Belum Tentu Pas

Menghadapi Masa Sulit

DI 03022025

Mazmur 94:12-13 ILT3
Berbahagialah orang yang Engkau hendak mendidiknya, ya YAH, dan Engkau hendak mengajarinya dengan torah-Mu.
Untuk memberikan perhentian baginya pada masa kesukaran; sementara bagi orang fasik, sebuah lubang sedang digali.

Masa sukar itu suatu saat bisa terjadi di luar dugaan, bgmna kita menyikapinya, itu akan menentukan apakah kita akan keluar dengan senyum kemenangan ataukah air mata yang menandakan kehancuran hidup kita.

Tuhan tahu kapan masa sukar itu akan tiba, dan Dia akan mempersiapkan kita dgn tepat utk bs melewatinya dgn keadaan baik, salah satunya lewat apa yg kita baca dr ayat ini, yg Dia lakukan adalah mendidik kita dan Dia jg mengajari kita dgn hukum-hukum-Nya. Apa dampak yg Dia inginkan melalui 2 hal itu? Yg pasti adalah supaya kita punya ketenangan dan pny kesempatan utk istirahat, berhenti dari kelelahan yg mgkin timbul saat berjuang di masa sukar. Pasti ada tekanan, banyak yg hrs dilakukan, daya tahan kita terbatas, dan butuh waktu utk memulihkan semuanya. Yg pasti adalah Tuhan menyertai kita meskipun ada saatnya Tuhan diam & membiarkan utk kita bertindak, menunjukkan hasil dr didikan dan pengajaran Tuhan sebelumnya. Bisakah kita melewatinya? Semua bergantung dr apa yg kita lakukan saat dididik Tuhan, taat atau banyak tdk seriusnya, semuanya terlihat saat kita menghadapi masa sukar.

Didikan Tuhan itu spt apa? Sebab siapa yang YAHWEH kasihi, Dia mendidiknya, dan setiap anak yang Dia terima, Dia mencambuknya (Ibrani 12:6 ILT3). Didikan Tuhan spt seorang bapa mendidik anaknya, bahkan demi masa depan kita, dia akan ‘mencambuk’ kita spya jgn menjd anak bebal dan memalukan. Bkn menjd anak yg manja, tp Dia ingin kita menjd kuat, bijaksana dan mudah Dia atur. Semua ini didasari oleh kasih-Nya pd kita, agar kita siap utk bertahan di masa sukar, supaya dgn kekuatan yang terlatih, kita kuat menghadapi masalah sesulit apapun, supaya kita mudah utk diatur langkah-langkah kita oleh Tuhan, sehingga kita tdk salah langkah, tetap dalam jalur Tuhan, dlm perlindungan Tuhan. Tuhan ingin yg terbaik utk kita dlm situasi apapun, Dia tdk ingin kita ‘tenggelam’ dlm penyesalan yg sia-sia, Dia ingin kita bersukacita dan trs bersukacita. Karna itulah selama kita dididik dan diajari Tuhan, belajarlah dgn tekun.

Apa yg akan terjadi di depan, kita tidak tahu, tp banyak perkiraan bhw ke depannya, tidak akan semakin mudah, bersiaplah dari skrg, belajarlah pd Tuhan.

Posted in Renungan | Comments Off on Menghadapi Masa Sulit

Untuk Apa Diberkati?

DI 01022025

Mazmur 92:13, 15-16 ILT3
Orang benar akan bertumbuh subur seperti pohon kurma; dia akan bertumbuh seperti pohon aras di Libanon.
Mereka akan tetap berbuah pada hari tua; mereka akan gemuk dan segar.
Untuk menyatakan bahwa YAHWEH itu benar, batu cadasku! Dan di dalam Dia tidak ada ketidakadilan.

Setiap dari kita memerlukan berkat Tuhan di sepanjang hidup kita, tapi apakah kita hanya akan sekedar menikmati berkat-Nya? Egois sekali jika kita punya pikiran spt itu.

Dalam ayat ini, penulis Mazmur menjelaskan untuk apa Tuhan memberkati kita, yaitu utk kita memberitakan atau menyatakan Tuhan itu benar, dan juga adil. Sederhananya ialah kita hrs bersaksi ttg apa yg Tuhan kerjakan di sepanjang hidup kita. Tentu kita hrs menjd org yg tahu berterimakasih, tahu membahas budi dan kebaikan yg telah kita terima. Kalau tidak sanggup membalas, minimal berterima kasih dan bersaksi pd org lain ttg figur yang telah memberkati kita. Ini spt perusahaan yg mengiklankan produknya supaya dikenal org banyak dan menarik minat utk membelinya. Org lain mungkin tdk begitu suka diinjili, tapi kalau cara menginjil kita lewat kesaksian, ini sesuatu yg efektif, sebuah kesaksian tdk bs dibantah jikalau org yg bersaksi itu memiliki integritas dan nama baik, kesaksiannya itu benar dgn disertai bukti nyata. Ini membuat mereka paham antara hidup dgn Tuhan dan hidup tanpa Tuhan.

Kendala yg biasanya jd penghalang utk bisa bersaksi adalah tdk bs bercerita secara baik. Ini suatu alasan yg dicari-cari saja. Tdk bisa berkata-kata di depan umum, berarti kita hrs mulai belajar cara berkomunikasi yg efektif, meskipun hanya utk bersaksi. Kesaksian yg formal misalnya saat bersaksi di gereja atau di sebuah acara khusus, memang butuh tahu cara bercerita yg baik dan efektif, tapi ada jg kesaksian non formal, misalnya saat sedang ngobrol dgn tetangga, atau teman dekat, yg dibutuhkan hanya bgmna membuat org lain tertarik dgn kesaksian kita, walaupun tidak dgn kata-kata yg baku, tp ceritakanlah yang jadi kesaksian kita dgn cara yg sederhana tp menarik perhatian. Anggaplah spt sedang di situasi kita ‘mengiklankan’ sesuatu, kita sdg mempromosikan kebaikan Tuhan pd lawan bicara kita. Sederhana tp efektif, cara ini yg hrs kita pelajari dan praktekkan saat sedang menyampaikan sebuah kesaksian.

Jangan hanya jd penikmat berkat, kesaksian kita dibutuhkan org lain yg mungkin sedang mengalami yg pernah kita alami, ini bs jadi berkat buat mereka.

Posted in Renungan | Comments Off on Untuk Apa Diberkati?

Tidak Melihat Tuhan

DI 31012025

Mazmur 92:5-6
Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu.
Orang bodoh tidak akan mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu.

Apakah Tuhan itu ada? Pertanyaan ini cukup sering diajukan ketika kita berdiskusi apakah Tuhan itu nyata atau hanyalah satu pribadi di dlm dongeng masa lalu.

Siapa yg pernah melihat wujud Tuhan? Yang kita tahu bhw ada bbrpa org bersaksi pernah melihat wujud Tuhan, biasanya digambarkan sbg sebuah sosok yg sangat terang, ada jg yg bercerita melihat tangan sosok itu punya lobang di tangan, yg dimaknai sbg bekas dr lobang paku yg tertancap saat Yesus disalib, dan masih bnyk lagi versi cerita yg lain. Lalu bgmna bagi org-org yg belum pernah punya pengalaman ‘melihat’ Tuhan? Alkitab sudah jelas mencatat pernyataan Yesus bhw Tuhan itu Roh, beda dgn manusia, Yesus itu Tuhan yg mengambil rupa seorg manusia, jadi bisa dilihat, diraba, sewaktu Dia ada di dunia ini. Jadi bgmna kita bs tahu bhw Tuhan itu ada? Sederhananya spt ini: kita memesan menu di sebuah restoran, duduk menunggu makanan jadi dan diantarkan pada kita. Saat makanan itu sudah diantarkan di meja kita, berarti ada org yg memasaknya, kita tidak melihat siapa yg memasaknya, tp pasti orangnya. Kita tdk melihat wujud Tuhan, tetapi lewat karya dan apa yang Dia buat, kita yakin Tuhan memang ada dan nyata.

Tapi penghalang utk kita percaya Tuhan itu ada dan nyata: kebodohan dan kebebasan. Org bodoh itu minim pengetahuan, sulit utk memahami dan mengerti shga cenderung berbuat ceroboh dan salah. Org bebal tetap bangga dgn apa yg dia anggap benar walau ternyata itu sdh terbukti salah. Bebal karena diberitahu tapi tdk mau percaya jg, memilih jalannya sendiri dan arogan. Dua hal ini yang membuat seseorg tdk yakin bhw Tuhan itu ada dan nyata. Semua yg diciptakan Tuhan, mukjizat yg Dia perbuat atas banyak orang, itu menandakan ada yg membuatnya. Tidak mungkin bahan mentah menjd makanan yg enak tanpa ada pemasaknya, kalau ada yang berkata bhw alam semesta terjd begitu saja, teori itu sangat ‘mentah’ dan patut diragukan kebenarannya. Tuhan itu nyata, tetapi kita yg tdk bs melihatnya, tdk memahami apa yang Dia buat dan kerjakan, karena kita terjebak dgn pikiran kita yg bodoh dan bebal.

Tuhan mengasihi kita, namun kita yg sering tdk merasa dikasihi Tuhan, itu karena kitalah yg menerapkan standart kita pd Tuhan, ini yg membuat kita bodoh dan bebal.

Posted in Renungan | Comments Off on Tidak Melihat Tuhan

Karena Terdesak



DI 28012025

1 Samuel 13:11-12
Tetapi kata Samuel: “Apa yang telah kau perbuat?” Jawab Saul: “Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas,
maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran.”

Saul terpilih jadi raja pertama org Israel dgn suatu kondisi yg saat itu memang mendesak yaitu org Israel mendesak supaya memiliki seorg raja sama spt bangsa-bangsa lain.

Jadi siapakah yang sebenarnya menjadikan Saul sbg seorg raja? Di mata Saul kelihatan sekali bhw dirinya menganggap rakyatlah yg menjadikan dia seorg raja, jadi kalau rakyat tdk lagi mendukungnya, Saul berpikir dirinya terancam utk digantikan, rakyat mencari org lain utk menggantikan dirinya. Alasan bahwa dia telah menunggu Samuel yg berjanji akan datang, namun karena melihat rakyat mulai berserak-serak meninggalkan dia, hanyalah sebuah pembenaran atas kesalahan yg dia telah perbuat. Mempersembahkan korban bakaran seharusnya bukan wewenang Saul meskipun dia seorg raja, namun karena dia terdesak, takut kehilangan dukungan rakyat, akhirnya dia telah berdosa terhadap Tuhan. Ini jd suatu pelajaran penting bagi kita, yang kita pilih apakah taat pd Tuhan atau berani melakukan yg bukan wewenang kita karena takut kehilangan dukungan org lain? Kadang kita memilih yg salah.

Dalam keadaan yg terdesak, seseorg harus melakukan sesuatu, terkadang pilihan yang ada itu melakukan apa yg salah di hadapan Tuhan. Tidak mudah utk menyalahkan orang yg bersalah dlm keadaan dia terdesak, tapi tetap saja melakukan yg salah tetaplah satu kesalahan, dan ada resiko yg hrs ditanggung akibat kesalahan itu. Jadi apa yg harus kita lakukan ketika ada dlm situasi yg terdesak? Ada baiknya kita jgn mengambil keputusan berdasarkan dorongan emosi, cobalah untuk meminta nasehat dr org-org yg bijak, jangan hanya sendirian mempertimbangkan apa yg nanti jd pilihan yg akan kita lakukan. Pikiran ketika ada dlm situasi terdesak, biasanya tdk lagi sanggup berpikir jernih dan matang, hal ini semakin mendesak apabila tidak tersedia waktu yg banyak, sesuatu hrs segera cepat ditindak lanjuti, terkadang tdk ada pilihan yg baik, semuanya beresiko besar dan dampak yg timbul itu buruk.

Taatilah Tuhan, apapun keadaannya, hal ini tentu tdk mudah, kita didesak oleh situasi & waktu, jgn salah mengambil keputusan, jgn melakukan sesuatu hanya didorong luapan emosi semata.
Posted in Renungan | Comments Off on Karena Terdesak